Saturday, 7 Syawwal 1441 / 30 May 2020

Saturday, 7 Syawwal 1441 / 30 May 2020

Jerman Hentikan AS Akuisisi Perusahaan Pembuat Vaksin Corona

Senin 16 Mar 2020 13:49 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolandha

Ilustrasi vaksin. Pemerintah AS disebut ingin mengakuisisi perusahaan pembuat vaksin asal Jerman.

Ilustrasi vaksin. Pemerintah AS disebut ingin mengakuisisi perusahaan pembuat vaksin asal Jerman.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Pemerintah membantah telah meminta perusahaan pembuat vaksin pindah ke AS.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Pemerintah Jerman berusaha menghentikan upaya Pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk memindahkan pusat penelitian sebuah perusahaan Jerman ke Washington, AS. Perusahaan tersebut diketahui kini sedang mencari formula vaksin virus corona. Politisi Jerman bersikeras tidak ada negara yang seharusnya memonopoli vaksin nantinya.

Baca Juga

Seorang sumber pemerintahan Jerman mengatakan kepada Reuters, Ahad (15/3), Pemerintah AS sedang mencari cara untuk mendapatkan akses ke vaksin potensial yang sedang dikembangkan perusahaan Curevec.

Sebelumnya, surat kabar Welt am Sonntag Jerman juga sempat melaporkan Presiden AS Donald Trump telah menawarkan sejumlah dana untuk membujuk Curevac memindahkan laboratoriumnya ke AS. Di sisi lain, Pemerintah Jerman juga membuat langkah balasan agar mereka tetap tinggal.

Duta Besar AS untuk Jerman Richard Grenell menampik isu tersebut. "Pemberitaan Welt salah," tulisnya dalam akun Twitter.

Seorang pejabat AS mengatakan, terlalu banyak unsur yang dipermainkan dalam pemberitaan tersebut. Pihaknya akan terus berbicara dengan perusahaan mana pun yang mengeklaim dapat membantu. Jika sudah menemukan solusi, Pemerintah AS berkomitmen membagikannya kepada dunia.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Kesehatan Jerman membenarkan kutipan di surat kabar. Pemerintah Jerman sangat tertarik untuk memastikan bahwa vaksin itu dapat digunakan untuk mencegah penyebaran virus corona lebih lanjut. 

"Dalam hal ini, pemerintah melakukan pertukaran insentif dengan perusahaan Curevac," ujarnya.

Welt am Sonntag menuliskan, seorang narasumber Pemerintah Jerman yang tidak disebutkan namanya mengatakan, Trump mencoba mengamankan karya para ilmuwan itu secara eksklusif. Trump juga akan melakukan apa saja demi mendapatkan vaksin tersebut untuk AS.

“Namun, hanya untuk AS,” katanya.

Menteri Dalam Negeri Jerman Horst Seehofer mengatakan pada konferensi pers bahwa komite krisis virus corona pemerintah akan membahas kasus Curevac pada Senin (16/3). Sementara itu, Curevac masih enggan memberikan tanggapan terhadap rumor akuisisi itu.

Investor utama Curevac, Dietmar Hopp, mengatakan, dia tidak berencana menjual perusahaan. Ia juga ingin Curevac mengembangkan vaksin virus corona untuk masyarakat dunia, tidak terbatas pada satu negara atau kawasan regional saja.

Seorang juru bicara Kementerian Ekonomi Jerman mengatakan, Berlin memiliki minat besar dalam memproduksi vaksin di Jerman dan Eropa. Ia mengutip undang-undang perdagangan luar negeri Jerman, yang menyebutkan Berlin dapat memeriksa tawaran pengambilalihan sebuah perusahaan dari negara non-Uni Eropa apabila kepentingan keamanan nasional atau Eropa dipertaruhkan.

Curevac kini tengah mengembangkan vaksin virus corona. Chief Production Officer dan co-founder Curevac, Florian von der Muelbe, mengatakan kepada Reuters pekan lalu bahwa perusahaan telah memulai dengan banyak kandidat vaksin. Kini perusahaan sedang memilih dua pilihan terbaik untuk uji klinis.

Perusahaan swasta yang berbasis di Tuebingen, Jerman, tersebut berharap dapat menyiapkan vaksin eksperimental pada Juni atau Juli. Mereka segera mencari perizinan dari regulator untuk melakukan pengujian pada manusia.

Dalam situs resminya, Curevac mengatakan, CEO Daniel Menichella sempat bertemu dengan Trump pada awal Maret. Trump didampingi Wakil Presiden Mike Pence dan anggota gugus tugas virus corona Gedung Putih bersama perwakilan senior perusahaan farmasi dan bioteknologi untuk membahas vaksin. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA