Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Adaro Kaji Rencana Buyback Saham

Senin 16 Mar 2020 07:23 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya

Aktivitas bongkar muat batubara di area pertambangan PT Adaro Indonesia di Tabalong, Kalimantan Selatan, Selasa (17/10). (Antara/Prasetyo Utomo)

Aktivitas bongkar muat batubara di area pertambangan PT Adaro Indonesia di Tabalong, Kalimantan Selatan, Selasa (17/10). (Antara/Prasetyo Utomo)

Foto: Antara/Prasetyo Utomo
Tahun ini, Adaro Energy akan memproduksi batu bara berkisar 54-58 juta ton batu bara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Adaro Energy, Tbk tengah mengkaji opsi pembelian kembali saham atau buyback ditengah kondisi pasar modal yang sedang tak baik saat ini karena imbas wabah corona. Head of Corporate Communication Division Adaro Energy Febriati Nadira menjelaskan saat ini perusahaan masih mengkaji opsi ini.

Baca Juga

Meski Febriati belum bisa mengelaborasi lebih jauh terkait rencana buyback saham ini. "Saat ini Perseroan akan melakukan kajian terhadap pelaksanaan share buyback tersebut," ujar Febriati kepada Republika.co.id, Ahad (15/3).

Febriati menjelaskan bagi Adaro sendiri rencana pembelian saham ini merupakan langkah strategis yang memang perlu diperhitungkan secara cermat. Sebab, katanya posisi para pemegang saham merupakan stakeholder terpenting bagi perusahaan.

"Bagi Adaro, pemegang saham merupakan stakeholder yang sangat penting maka Adaro selalu berupaya memberikan return yang baik bagi para pemegang saham," ujar Febriati.

Tahun ini, Adaro Energy akan memproduksi batu bara berkisar 54 juta ton hingga 58 juta ton batu bara. Presiden Direktur Adaro Energy, Garibaldi Thohir menjelaskan perusahaan akan menjaga produksi perusahaan untuk menjaga keberlangsungan tambang juga untuk memenuhi permintaan pasar.

Pada tahun ini, perusahaan juga menargetkan EBITDA operasional mencapai 1,2 miliar dolar AS. Namun, untuk bisa menopang produksi perusahaan akan menggelontorkan belanja modal sebesar 300 juta dolar AS sampai 400 juta dolar AS pada tahun ini.

"Tahun ini perusahaan menjaga produksi dan juga mentargetkan EBITDA operasional tetap positif," ujar Garibaldi.



BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA