Thursday, 5 Syawwal 1441 / 28 May 2020

Thursday, 5 Syawwal 1441 / 28 May 2020

Kopi Ngarai Indah, Buah Tangan dari Ngarai Sianok

Ahad 15 Mar 2020 05:06 WIB

Rep: Febrian Fachri / Red: Bayu Hermawan

Kopi Ngarai Indah, di Ngarai Sianok, Kota Bukitinggi yang tetap eksis sejak 1989

Kopi Ngarai Indah, di Ngarai Sianok, Kota Bukitinggi yang tetap eksis sejak 1989

Foto: Febrian Fachri
Kopi Ngarai Indah di Ngarai Sianok, Bukittinggi, tetap bertahan hingga saat ini.

REPUBLIKA.CO.ID, BUKITTINGGI -- Meminum kopi telah menjadi gaya hidup masyarakat berbagai kalangan saat ini. Hal itu membuat toko-toko kopi atau coffee roastery yang mengusung konsep kekinian semakin marak bermunculan. Namun, bukan berarti toko kopi tradisional tersisih begitu saja.

Salah satu yang mampu bertahan hingga saat ini adalah Kopi Ngarai Indah, yang terletak di Ngarai Sianok, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Khairul Amri, pria berusia 64 tahun itu mengaku sudah menjalankan usahamnya sejak 30 tahun lalu.

"Sudah 30 tahun. Saya memulainya sekitar tahun 1989," kata Khairul kepada Republika.co.id.

Kedai kopi milik Khairul terletak hanya beberapa kilo meter dari pusat Kota Bukittinggi, atau tepatnya di Sianok 6 Suku, Jalan Lambah Bukittnggi-Maninjau, Sianok Anam Suku, IV Koto, Kabupaten Agam. Kedai Kopi Ngarai Indah ini cukup minimalis. Khairul hanya memajang beberapa bungkus kopi bubuk dan biji kopi di sebuah dua talase ukuran kecil. 

Khairul menyebut dirinya hanya menjual bubuk kopi dan biji kopi siap giling. Walau tempat usahanya terkesan hanya sebuah gubuk biasa, tapi Kopi Ngarai Indah kerap dikunjungi wisatawan lokal sampai mancanegara. Selain itu, kopi ini juga memasok bahan buat warung kopi dan kafe-kafe di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Pekanbaru, Padang dan lain-lain.

Kopi yang diolah Khairul berjenis robusta. Khairul menjelaskan, biji kopi yang dijualnya merupakan hasil pertanian warga di Nagari Panta Pauh, Kecamatan Matur Agam. Di daerah tersebut menurut Khairul memang banyak ditanami kopi robusta.

photo
Etalase di Kopi Ngarai Indah, Ngarai Sianok, Kota Bukittinggi - ( Febrian Fachri)
 

Khairul membeli biji kopi ini dari petani dalam keadaan kulit sudah dibuang atau green bean. Biji yang juga sudah dijemur petani itulah yang dibawa Khairul ke kedainya. Di kedainya itu, tepatnya di bagian belakang menjadi dapur untuk pengolahan.

Langkah awal yang dilakukan Khairul adalah merandang (meroasting) kopi dengan menggunakan kuali besar, selama kurang lebih tiga jam.Tujuan kopi ini dirandang supaya bagian kulit arinya terpisah. Setelah itu, kopi ditampih supaya bijih-bijih yang rusak atau tidak baik terpisah.  Sebagian kopi yang sudah diroasting tersebut ada yang ditumbuk untuk dijual dalam bentuk bubuk kopi. Sebagian ada juga yang dijual dalam bentuk biji kopi utuh.

"Sekarang kan banyak warung-warung kopi yang punya mesin penggiling sendiri. Begitu pula gaya anak-anak sekarang," ujar Khairul.

Khairul bersyukur sekarang masyarakat menjadikan meminum kopi sebagai gaya hidup. Karena kopi punya banyak peminat, usaha kopi milik Khairul terus berjalan dan sudah mampu menghidupi keluarganya selama puluhan tahun.

photo
Bubuk kopi yang telah siap dijual di Kopi Ngarai Indah, Ngarai Sianok, Kota Bukittinggi - ( Febrian Fachri)

 

Banjir Pesanan Setiap Hari Libur

Salah satu putri Khairul bernama Iwit, kini ikut membantu usaha Kopi Ngarai Indah ini. Iwit lebih banyak membantu ayahnya dalam hal pemasaran. Di mana Iwit juga memasarkan kopi ini di sosial media instagram @kopi.ngarai.

Iwit menyebut di hari-hari biasa, usaha Kopi Ngarai ini memiliki omzet sekitar Rp 500 ribu perhari. Tapi jumlah akan lebih didapatkan Kopi Ngarai ketika hari-hari libur dan hari lebaran. Saat itu kata Ewit banyak yang memesan kopi untuk oleh-oleh buat dibawa ke kota.

"Kalau hari libur, itu banyak yang order. Buat oleh-oleh. Itu biasanya kami harus menyiapkan stok terlebih dahulu," ujar Iwit.

Iwit menyebut ayahnya meroasting kopi sekali waktu sebanyak 25 kilogram. Ayahnya meroasting minimal dua kali dalam seminggu. Sehingga rata-rata Kopi Ngarai membutuhkan 50 kilogram kopi setiap minggu.

Dulu kata Iwit, sebelum meminum kopi belum menjadi gaya hidup tren seperti sekarang, ayahnya hanya meroasting kopi satu kali dalam 12 hari. Tapi sekarang bisa dua sampai tiga kali dalam seminggu.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA