Sabtu 14 Mar 2020 02:26 WIB

Stok Gula Pasir di Bulog Indramayu Kosong

Kekosongan stok gula pasir di Bulog Indramayu sudah terjadi sejak pertengahan Januari

Rep: Lilis sri handayani/ Red: Esthi Maharani
stok gula pasir
Foto: Antara/Irfan Anshori
stok gula pasir

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Harga gula pasir di pasar tradisional di Kabupaten Indramayu melonjak dalam beberapa pekan terakhir. Stok gula pasir di Perum Bulog Cabang Indramayu pun kosong.

''(Stok gula pasir di Bulog Indramayu) sold out,'' ujar Kepala Perum Bulog Cabang Indramayu, Dadan Irawan, kepada Republika, Jumat (13/3).

Dadan mengatakan, kekosongan stok gula pasir di Bulog Indramayu sudah terjadi sejak pertengahan Januari 2020. Karena itu, Bulog Indramayu saat ini hanya menyediakan bahan-bahan pokok lainnya seperti beras, tepung dan minyak goreng.

Dadan mengatakan, kondisi itu disebabkan belum datangnya musim panen tebu di kalangan petani tebu lokal. Menurutnya, masa panen tersebut biasanya baru berlangsung pada Mei - Juni.

''Stok gula pasir di masyarakat sudah menipis,'' tutur Dadan.

Dadan menambahkan, kondisi itu juga yang menyebabkan naiknya harga gula pasir di pasaran. Padahal, dalam kondisi normal, harga eceran tertinggi gula pasir hanya di kisaran Rp 12.500 per kg.

Berdasarkan pantauan Republika di Pasar Baru Indramayu, Kamis (12/3), harga gula pasir sudah mencapai Rp 17 ribu per kg. Harga itu mengalami kenaikan dari sebelumnya yang hanya di kisaran Rp 13 ribu per kg.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dadan menyatakan, Bulog menunggu proses impor yang dilakukan oleh pemerintah. Dia menyatakan, gula impor diperkirakan sampai ke Indonesia  akhir Maret.

''Dan siap konsumsi pada pertengahan April,'' terang Dadan.

Sementara itu, kenaikan harga gula pasir sangat dirasakan dampaknya oleh para pedagang kecil yang menjual makanan dan minuman berbahan dasar gula. Pasalnya, mereka harus mengeluarkan modal yang lebih besar.

Salah satunya Tati, seorang pedagang es teh manis di wilayah Kecamatan Indramayu. Dia mengatakan, kenaikan harga gula pasir sangat memberatkannya karena modal yang dikeluarkan semakin besar.

Meski modalnya kini semakin besar, namun Tati mengaku tak bisa menaikkan harga es teh manis yang dijualnya. Pasalnya, dia harus bersaing dengan para pedagang es teh manis lainnya. Dia juga tak bisa mengurangi takaran gula pasirnya karena akan membuat es teh manisnya jadi kurang manis.

‘’Satu-satunya cara ya terpaksa harus mengurangi keuntungan,’’ keluh Tati.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement