Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Industri Asuransi Syariah Optimistis Tumbuh Positif di 2020

Kamis 12 Mar 2020 18:41 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Ilustrasi Asuransi Syariah(Republika/ Wihdan ). Industri asuransi syariah Indonesia mencatat kenaikan total aset sebesar 8,33 persen dari Rp 41,91 triliun menjadi Rp 45,45 triliun.

Ilustrasi Asuransi Syariah(Republika/ Wihdan ). Industri asuransi syariah Indonesia mencatat kenaikan total aset sebesar 8,33 persen dari Rp 41,91 triliun menjadi Rp 45,45 triliun.

Foto: Republika/ Wihdan
Asuransi syariah optimistis meski asuransi umum terdampak perlambatan ekonomi dunia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri asuransi syariah Indonesia mencatat kenaikan total aset sebesar 8,33 persen dari Rp 41,91 triliun menjadi Rp 45,45 triliun. Termasuk diantaranya pertumbuhan asuransi jiwa syariah sebesar 8,74 persen menjadi Rp 37,48 triliun, asuransi umum tumbuh 5,02 persen menjadi Rp 5,9 triliun, dan reasuransi tumbuh 13,35 persen menjadi Rp 2,0 triliun.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Ahmad Syahroni menyampaikan penurunan di asuransi umum merupakan dampak dari perlambatan ekonomi dunia. Imbas yang berdampak langsung adalah pada asuransi kendaraan bermotor.

"Seiring perlambatan industri ekonomi baik secara makro dan mikro, asuransi kendaraan bermotor mengalami penurunan," katanya dalam konferensi pers AASI terkait kinerja 2019 di Manhattan Hotel, Jakarta, Kamis (12/3).

Proporsi asuransi kendaraan bermotor asuransi syariah mencapai 36,26 persen. Ini merupakan portofolio terbesar, diikuti oleh kecelakaan diri, kesehatan, dan asuransi jiwa sebesar 23,49 persen.

Sementara itu pertumbuhan kontribusi (premi) total industri tercatat sebesar 8,69 persen dari Rp 15,36 triliun menjadi Rp 16,70 triliun. Rinciannya, kontribusi asuransi jiwa tumbuh 9,67 persen menjadi Rp13,9 triliun, kontribusi asuransi umum kontraksi atau -1,08 persen menjadi Rp 1,825 triliun, kontribusi reasuransi tumbuh 15,44 persen menjadi Rp 16,7 triliun.

"Tren kontribusi memang turun satu persen, tapi klaim turun tujuh persen, jadi tetap ada peningkatan bisnis," katanya.

Manfaat atau klaim tercatat tumbuh 39,87 persen dari Rp 7,58 triliun menjadi Rp 10,60 triliun pada Desember 2019. Rinciannya, klaim asuransi jiwa tumbuh 47,98 persen menjadi Rp 9,1 triliun, asuransi umum -7,52 persen menjadi Rp 726 miliar, dan reasuransi 17,95 persen menjadi Rp 10,6 triliun.

Total investasi tumbuh secara total sebesar 7,78 persen dari Rp 36,97 triliun menjadi Rp 39,84 triliun. Dengan rincian, asuransi jiwa tumbuh 7,67 persen menjadi Rp 34,3 triliun, asuransi umum tumbuh 6,56 persen menjadi Rp 4 triliun, reasuransi tumbuh 14,02 persen menjadi Rp 1,4 triliun.

Hasil investasi tumbuh secara total sebesar 3.223 persen menjadi Rp 2,1 triliun. Dengan rincian asuransi jiwa tumbuh tinggi yakni 1.034 persen dari minus Rp 198 miliar menjadi Rp 1,8 triliun, asuransi umum naik 23 persen menjadi Rp 243 miliar, dan reasuransi tumbuh 51 persen menjadi Rp 101 miliar.

"Hasil investasi khususnya untuk jiwa naik karena sesuai dengan nature bisnisnya yang jangka panjang," katanya.

Asuransi jiwa lebih banyak menempatkan investasi di pasar modal seperti sukuk dan saham. Sehingga fluktuasi harga saham sangat berpengaruh ke nilai hasil investasi. Sementara asuransi umum mayoritas ditempatkan di deposito.

Komposisi investasi untuk asuransi jiwa, dari total Rp 34,3 triliun, sebanyak Rp 30 triliun ditempatkan di sukuk dan saham syariah. Sisanya deposito. Terkait porsi investasi dari total aset industri per Desember 2019 tercatat 87,66 persen.

"Sehingga, industri asuransi syariah ini tergolong likuid untuk menjalankan fungsi bisnisnya," kata dia.

Direktur Eksekutif AASI, Erwin Noekman menyampaikan tahun ini industri masih optimis bisa tumbuh aset double digit atau sekitar 10 persen. Karena, terlepas dari segala perlambatan ekonomi, industri masih cukup sehat.

Terlihat di asuransi jiwa syariah, mayoritas dari aset adalah investasi yakni sebesar 88 persen. Sehingga secara industri, ini lebih aman dan likuid."Proyeksi di atas 10 persen mungkin terlalu ambisius, tapi di kisaran pas 10 persen kita bisa masuk," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA