Tuesday, 3 Syawwal 1441 / 26 May 2020

Tuesday, 3 Syawwal 1441 / 26 May 2020

Duterte Minta Warga AS Keturunan Filipina Dukung Trump

Kamis 12 Mar 2020 08:56 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Presiden Filipina Rodrigo Duterte

Presiden Filipina Rodrigo Duterte

Foto: Linus Escandor/Pool Photo via AP
Duterte mengaku akan mencampuri politik AS sebagai balasan.

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA -- Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyerukan warga Amerika Serikat (AS) keturunan Filipina untuk mendukung Donald Trump dalam pemilihan presiden AS 2020 mendatang. Duterte memilih mengajak rakyatnya mendukung Trump dan turut campur dalam politik AS karena menurutnya, AS juga sempat mencampuri urusan Filipina.

Baca Juga

"Kepada orang Filipina (di Amerika), pilihlah Trump. Dan mereka mengatakan bahwa saya mengganggu? Tentu saja, saya ikut campur," ujar Duterte dalam konferensi pers di Malacanang dikutip Philstar, Kamis (12/3).

Dalam mendukung Trump, Duterte mengatakan dia sengaja mencampuri politik Amerika sebagai cara untuk kembali membalas legislator AS yang telah ikut campur dengan masalah internal Filipina. "Katakan itu kepada orang Amerika bahwa Duterte berkeras mengganggu. Anda tahu mengapa? Apakah Anda tahu mengapa saya ikut campur? Karena mereka melakukannya terlebih dahulu. Mereka (menuduh kami) di luar proses hukum membunuh 70 ribu (orang)," katanya.

Beberapa saat sebelumnya, Duterte dimintai tanggapan terhadap petisi yang diajukan oleh anggota Senat Filipina di hadapan Mahkamah Agung untuk meminta persetujuan kongres atas pencabutan Perjanjian Kunjungan Pasukan (VFA) dengan AS. Duterte mengatakan, pihaknya akan terus memastikan VFA diakhiri pada akhir periode 180 hari sejak tanggal pemberitahuan itu disampaikan ke AS.

"Saya tidak mengingkari VFA (pemutusan hubungan kerja) dan saya tidak akan pergi ke Amerika untuk membicarakan hal ini dengan siapa pun meskipun saya sangat menghormati Trump," katanya.

Presiden mengisyaratkan bahwa perkembangan baru-baru ini dari pihak AS, seperti Undang-Undang Magnitsky yang pada akhirnya menyebabkan keputusannya untuk mengakhiri VFA secara sepihak. Menurutnya jika itu adalah langkah politik oleh senator AS untuk memenangkan suara warga AS keturunan Filipina, Duterte mengatakan, maka mereka mendapatkan kesepakatan terbaik dengan Trump.

Dilansir Inquirer.Net, Duterte menghentikan perjanjian VFA pada 11 Februari lalu, setelah AS membatalkan visa Senator Ronald dela Rosa. Duterte mendeskripsikan Trump adalah teman baik baginya. Pada November mendatang, Trump mencalonkan dirinya kembali untuk duduk di bangku kekuasaan AS.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA