Tuesday, 16 Rabiul Akhir 1442 / 01 December 2020

Tuesday, 16 Rabiul Akhir 1442 / 01 December 2020

Kalbe Berencana Tingkatkan Stok Antisipasi Dampak Corona

Rabu 11 Mar 2020 21:56 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Presiden Joko Widodo (kiri) mendengarkan penjelasan Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk Vidjongtius ketika meninjau fasilitas produksi di sela-sela peresmian pabrik bahan baku obat dan produk biologi PT Kalbio Global Medika yang merupakan anak usaha dari PT Kalbe Farma, di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (27/2).(Antara/Wahyu Putro A)

Presiden Joko Widodo (kiri) mendengarkan penjelasan Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk Vidjongtius ketika meninjau fasilitas produksi di sela-sela peresmian pabrik bahan baku obat dan produk biologi PT Kalbio Global Medika yang merupakan anak usaha dari PT Kalbe Farma, di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (27/2).(Antara/Wahyu Putro A)

Foto: Antara/Wahyu Putro A
Kalbe tingkatkan produksi obat hingga 20 persen untuk antisipasi virus Corona

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri farmasi PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) meningkatkan stok obat hingga 11 bulan sebagai upaya mengantisipasi dampak dari wabah virus corona jenis baru (COVID-19) di beberapa negara, termasuk China, sebagai negara asal bahan baku obat.

Peningkatan stok tersebut dilakukan lebih panjang dari kondisi normal, yang mana persediaan obat diproduksi hanya mencapai enam hingga tujuh bulan.“Tadi saya laporkan, jumlah ketersediaan kami untuk obat itu sekitar 10 hingga 11 bulan. Semua mulai dari bahan baku, barang setengah jadi, barang yang ada di outlet itu ada untuk 10-11 bulan,” kata Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) Vidjongtius di Cikarang, Bekasi, Rabu (11/3).

Vidjongtius menyampaikan bahwa Kalbe meningkatkan produksi obat 10-20 persen untuk memperbanyak stok dalam mengantisipasi COVID-19. Terkait kebutuhan bahan baku impor asal China, ia memaparkan bahwa awalnya Kalbe sempat merasa khawatir, karena proses produksi bahan obat di China tutup pada awal Februari.

Namun, pada dua pekan terakhir, kekhawatiran tersebut mulai sirna karena sebagian besar pabrik di China mulai kembali beroperasi.“Memang kalau dulu awal Februari mereka tutup semua, makanya kami was-was. Tapi, terakhir kami lihat mereka mulai kembali beroperasi, mulai berproduksi dan pengiriman juga mulai dilakukan,” ungkap Vidjongtius.

Kendati demikian, ia menyampaikan bahwa perusahaan tetap mewaspadai berbagai kondisi yang kemungkinan terjadi di tengah tantangan menghadapi COVID-19.

“Sekarang kami agak sedikit lega, tapi kami tetap waspada,” pungkasnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA