Selasa 10 Mar 2020 01:16 WIB

Produksi Beras Fortifikasi Bulog Banyumas 30 Ton per Bulan

Beras fortifikasi memiliki kandungan vitamin lebih tinggi.

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Dwi Murdaningsih
Petugas memeriksa tumpukan beras di Gudang Bulog Divre Jawa Barat di Kawasan Gedebage, Kota Bandung.(Republika/Abdan Syakura)
Foto: Republika/Abdan Syakura
Petugas memeriksa tumpukan beras di Gudang Bulog Divre Jawa Barat di Kawasan Gedebage, Kota Bandung.(Republika/Abdan Syakura)

REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO -- Sejak beberapa bulan terakhir, Bulog Cabang Banyumas meluncurkan produk beras berkualitas bernama Fortivit. Kepala Cabang Bulog Banyumas Dani Satrio menyebutkan, peluncuran produk beras ini dilakukan sejak tahun 2019 lalu.

"Setelah beberapa bulan diluncurkan, saat ini kita sudah memiliki omzet pemasaran mencapai 30-40 ton per bulan," ucap Dani saat menerima kunjungan anggota Komisi VI DPR, Siti Mukaromah, di kantornya, Senin (9/3).

Baca Juga

Saat ini, pemasaran produk tersebut sudah mencapai wilayah Jakarta hingga Nusa Tenggara Timur. Dia menyebutkan, produk beras Fortivit ini berbeda dengan beras pada umumnya. Beras Fortivit yang dikemas dalam kantong plastik vakum udara 1 kg memliki kandungan vitamin dan gizi yang lebih tinggi antara lain vitamin A, vitamin B1, vitamin B3, vitamin B6, vitamin B9 (asam folat), vitamin B12, zat besi (iron), dan zink.

"Tingginya kandungan vitamin dalam beras Fortivit diperoleh setelah dilakukan proses fortifikasi. Berasnya merupakan beras pulen yang dibeli dari para petani di wilayah eks Karesidenan Banyumas," katanya.

Dani bahkan mengeklaim beras tersebut bisa digunakan untuk perbaikan gizi masyarakat dan percepatan pencegahan kasus stunting. Pasalnya, kandungan vitamin dan gizi dalam beras Fortivit memang cukup tinggi.

Anggota Komisi VI DPR, Siti Mukaromah, memberikan apresiasi atas inovasi yang telah dilakukan Perum Bulog dengan memproduksi Fortivit. Dia menilai hal ini merupakan salah satu terobosan yang telah dilakukan Bulog.

"Saya berharap beras ini bisa dikonsumsi seluruh masyarakat sesuai kemampuan daya beli mereka. Hal ini mengingat harganya memang lebih mahal dibanding beras biasa karena kandungan vitamin dan mineralnya lebih tinggi," ucap dia.

Meski demikian, dia berharap Bulog dapat membuat produk beras fortifikasi dengan harga-harga yang berbeda sesuai jenis berasnya sehingga harganya lebih murah dan lebih terjangkau masyarakat. Terlebih, karena beras ini bisa dimanfaatkan untuk membantu program eleminasi kasus stunting.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement