Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

IHSG Anjlok, Ini Penjelasan Sri Mulyani

Senin 09 Mar 2020 19:11 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Teguh Firmansyah

Karyawan mengamati layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

Karyawan mengamati layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

Foto: Republika/Prayogi
Pasar keuangan dunia alami ketidakpastian dan investor mencari instrumen lebih aman.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan bahwa pihaknya bersama Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memantau seluruh dinamika di sektor keuangan nasional.

Salah satunya adalah anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG) yang pada perdagangan hari ini konsisten bergerak di zona merah. Pada penutupan perdagangan hari ini, indeks saham terperosok hingga 6,58 persen ke level 5.136,80. Sementara indeks LQ45 terkoreksi 8,26 persen.

"Semuanya berkaitan. Kalau indeks harga saham kemarin di Wall Street Dowjones-nya turun, karena masalah internal maupun berkaitan Covid. FTSE yang di London itu sudah turun 6 persen juga. Pasar keuangan dunia, mengalami ketidakpastian dan reaksinya, mencari instrumen yang dianggap aman," jelas Sri Mulyani di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (9/3).

Reaksi pasar yang menanggapi ketidakpastian inilah, jelas Sri, yang membuat surat berharga menjadi lebih laris. Obligasi Amerika Serikat (AS) 10 tahun misalnya, menawarkan imbal hasil 0,3 persen. Angka ini merupakan yang terendah dalam sejarah AS. "Artinya ini mereka mencari instrumen yang dianggap aman," kata Menkeu.

Reaksi yang terjadi di pasar global ini, menurut Sri, juga terjadi di dalam negeri. Kondisi ini pun diyakini akan menyebabkan aksi reaksi dari sisi kebijakan pemerintah. Karenanya, Sri menekankan bahwa pemerintah akan hadir untuk mengawal seluruh dinamika ini.

"Kalau dampaknya berpengaruh terhadap kesehatan dari sektor keuangan apakah, bank dan nonbank, maka kita harus melihat apakah dampaknya sifatnya temporer atau lebih lama. Inilah yang akan kita lakukan bersama BI dan OJK di dalam mengawal kondisi keuangan," jelas Sri.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA