Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Tisu Toilet, Masker, dan Doomsday Preppers

Ahad 08 Mar 2020 21:09 WIB

Red: Fernan Rahadi

Iwan Awaluddin Yusuf

Iwan Awaluddin Yusuf

Foto: dokpri
Sangat tidak bijak memborong dan menimbun barang meskipun kita mampu membelinya.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Iwan Awaluddin Yusuf*

Kalau di Indonesia masker tiba-tiba menjadi barang langka, di Australia, tisu toilet adalah benda yang paling banyak dicari saat ini. Mengapa prioritasnya berbeda, padahal ancamannya sama, Covid-19? 

Tak peduli negara maju atau tidak, gejala panik massal mulai terlihat menyusul pengumuman WHO yang menaikkan status darurat global penyerbaran virus Corona. Hingga Kamis, 5 Maret 2020, situs WHO mencatat 95.270 kasus di 79 negara dengan total 3.281 kematian. 

Saya jadi ingat sekitar tahun 2011 ada serial reality show yang sering saya tonton di saluran televisi kabel National Geographic, judulnya Doomsday Preppers. Isinya menceritakan profil para survivalist di Amerika, yakni orang-orang yang percaya bahwa kiamat atau kekacauan hebat bisa terjadi kapan saja. Untuk itu mereka mempersiapkan sebaik-baiknya agar saat “kiamat” datang mereka termasuk golongan pertama orang yang selamat. Kesuksesaan acara inipun diikuti larisnya buku-buku tentang mempersiapkan diri menghadapi datangnya hari bencana. Apalagi waktu itu juga sedang hangat-hangatnya isu kiamat global 2012.

Meski batas antara “rasional”, “paranoid”, dan “antisipatif” sangat tipis, saya bisa melihat kecerdasan, dan pada saat yang sama, kenaifan orang barat dalam menghadapi situasi krisis. Dari acara itu pula, saya mengenal istilah-istilah doomsday prepper dan mengingatnya sampai sekarang, antara lain FIFO (first in first out-metode urutan menyimpan dan mengonsumsi persedian makanan dan minuman), EDC (every day carry; bawaan yang harus ada, misalnya pisau saku, senter, korek api, telepon, dan sebagainya). 

Dalam kondisi terburuk saat terjadi bencana, bisa jadi para penyintas akan bertahan dalam situasi WROL — without rule of law, yaitu ketika militer atau polisi tidak mampu mengendalikan situasi, maka diperlukan YOYO — you’re on your own—yang artinya pemerintah kolaps dan tidak lagi mampu menyediakan layanan-layanan penting saat menghadapi situasi darurat. Maka saat itulah individu atau komunitas dituntut untuk bisa bertahan hidup dengan cara masing-masing.

Biasanya para doomsday preppers ini sangat memerhatikan skenario jenis kiamat yang dipercayainya akan datang, dengan melihat gejala-gejala yang terjadi saat itu. Meski benang merahnya sama untuk bertahan hidup, strategi yang diperlukan sedikit berbeda. Skenario kiamat itu biasanya terkait perang, nuklir, krisis ekonomi global, wabah penyakit, kerusuhan massal, tidak berfungsinya listrik-peralatan elektronik-komputer karena Electro-Magnetic Pulse (EMP): gelombang energi yang dapat membuat korsleting massal sehingga terjadi kerusakan pada setiap benda elektronik yang memakai listrik, serta bencana alam dalam skala besar, seperti mega tsunami atau supervolcano di taman nasional Yellowstone.  

Syukurlah, selama saya ikuti beberapa season, tidak ada episode khusus tentang invasi alien sebagaimana paranoidnya orang Amerika zaman dulu setelah mendengarkan sandiwara radio The War of the Worlds-nya Orson Welles yang membuat heboh publik pada akhir 1930-an. Menariknya, menurut banyak survei terkini, dibanding alien, mereka justru lebih percaya kemungkinan akan adanya wabah zombie. 

Karena skenario penyebab kiamat berbeda-beda, maka prioritas menguasai keterampilan tertentu dan ketersediaan alat-alat vital yang dibutuhkan pun tidak sama. Secara umum kebutuhan makan, minum, air bersih, bunker (tempat aman), alat komunikasi, dan senjata (alat pertahanan diri, baik primitif maupun modern) menjadi prioritas. Mereka percaya, dalam situasi apapun, kelangkaan dan kepanikan menyebabkan perebutan sumber daya pokok. Hasil akhirnya adalah kerusuhan dan perkelahian. 

Maka, jika tidak siap menghadapi kerusuhan dengan skill beladiri atau senjata, pilihannya adalah bersembunyi di tempat yang aman dengan persediaan yang cukup, atau dalam jangka panjang, preppers harus bersiap untuk keduanya. Itulah mengapa para preppers umumnya memilki persediaan makanan kaleng dan berbagai jenis senjata di rumah. Kurang lebih mirip seperti yang sering digambarkan dalam film-film Hollywood.

Lain di Amerika, lain pula di Australia. Di Negeri Kanguru, alat buang hajat di toilet menjadi isu mahapenting dalam menghadapi pandemik Corona. Karena umumnya orang Australia tidak mengenal cebok dengan air, tisu menjadi kebutuhan pokok sehari-hari. Banyak yang bertanya apa hubungannya tisu toilet dengan Corona? Jawabannya sederhana: jika mereka harus diisolasi atau terisolasi dalam rumah selama 14 hari atau diperpanjang 28 hari, 56 hari, dan seterusnya, keberadaan tisu toilet menjadi vital. Sekali lagi publik Australia tidak terbiasa menggunakan air setelah BAB atau BAK. Air dalam hal ini digunakan untuk menyiram (flushing) kotoran dan cuci tangan saja. Sisanya serahkan pada kertas tisu.

Selain faktor budaya dan kebiasaan, tentu saja hukum ekonomi, perilaku konsumen, dan psikologi massa berlaku dalam hal ini. Melihat sendiri stok tisu habis di toko-toko serta maraknya kabar di media sosial tentang langkanya stok tisu, menimbulkan panic buying, keinginan ikut-ikutan memborong karena kuatir tidak kebagian. Padahal kalau mau jujur, sebenarnya selama puluhan tahun terakhir, Australia sudah memproduksi 75 persen tisu toiletnya sendiri dengan kapasitas produksi sebanyak 310 ton per tahun. Rata-rata satu keluarga di Australia akan menghabiskan 25 kilogram tisu toilet setiap tahunnya. (Data ini saya peroleh dari ABC News). 

Kalau saya pribadi dan keluarga yang tinggal di Australia saat ini, dengan alasan dan cara tertentu, tetap lebih memilih dan menggunakan air untuk istinja' alias cebok dari pada tisu. Meskipun pada situasi-situasi tertentu yang berkaitan dengan fasilitas umum, kenyataannya tidak selalu mudah.

Bagaimana dengan aksi borong kebutuhan pokok yang lain? Meski tidak sedramatis fenomena tisu toilet, faktanya sama saja dengan publik di Indonesia. Ada saja yang kalap memborong dan menimbun barang sehingga stok barang kebutuhan sehari-hari seperti mi instan, cairan pembersih tangan, beras (umumnya yang beli orang Asia), dan masker juga mulai tidak mudah ditemui. “Karena banyaknya permintaan, stok kosong untuk sementara”, demikian pengumuman ditempel di toko-toko sembako. Untungnya, beberapa supermarket sudah memberlakukan batas pembelian tiap orang per transaksi, termasuk tisu toilet.

Bagi saya pribadi, memahami situasi dengan informasi yang akurat lebih penting daripada harus ikut memborong atau menimbun barang tertentu. Bukan berarti tidak antisipatif, saya dan keluarga juga memiliki rasa khawatir yang sama. Tapi saya kira kita tidak perlu berlebihan menyikapi wabah Corona. Sangat tidak bijak memborong dan menimbun barang meskipun misalnya kita mampu membelinya. Jika barang yang dibeli untuk stok jangka panjang tidak habis atau expired karena ditimbun, alangkah egois dan sia-sia karena banyak orang lain di luar sana yang juga sangat membutuhkan barang yang sama, tetapi stoknya sudah habis di mana-mana. Belum lagi ada kalangan masyarakat yang secara ekonomi tidak mudah membelinya.

Memang harus diakui, kepanikan juga terjadi karena kita terlalu banyak memperoleh informasi yang simpang-siur. Inilah yang baru-baru ini disebut WHO sebagai “infodemics”. Saya prediksi istilah ini akan segera populer sebentar lagi, seperti istilah post-truth beberapa tahun lalu.

Menurut WHO, "Infodemics are an excessive amount of information about a problem, which makes it difficult to identify a solution. Infodemics can spread misinformation, disinformation and rumors during a health emergency. Infodemics can hamper an effective public health response and create confusion and distrust among people". Kurang lebih artinya banjir informasi—baik akurat maupun hoaks—yang membuat masyarakat menjadi kesulitan untuk menemukan sumber panduan yang dapat dipercaya ketika dibutuhkan.

 

*Penulis adalah Dosen Komunikasi Universitas Islam Indonesia dan Kandidat PhD di School of Media, Film and Journalism, Faculty of Arts, Monash University, Australia. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA