Ahad 08 Mar 2020 20:04 WIB

Utusan PBB: Yaman di Titik Kritis

Utusan Khusus PBB untuk Yaman menyerukan pertempuran perlu dihentikan sekarang.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Yudha Manggala P Putra
 Reruntuhan sisa perang di Kota Sana
Foto: EPA-EFE/Yahya Arhab
Reruntuhan sisa perang di Kota Sana

REPUBLIKA.CO.ID, SANAA -- PBB mengatakan Yaman berada di titik kritis. Hal itu disampaikan setelah pertempuran di provinsi utara Al-Jawf menyebabkan puluhan ribu orang melarikan diri dan mengungsi.

"Yaman, dalam pandangan saya, berada di titik kritis. Kita akan membungkam senjata dan melanjutkan proses politik atau kita akan kembali ke konflik berskala besar," kata Utusan Khusus PBB untuk Yaman Martin Griffiths saat berkunjung ke Provinsi Marib pada Sabtu (7/3), dikutip laman Aljazirah.

Dia menyerukan para pihak yang berkonflik segera menerapkan gencatan senjata. "Pertempuran perlu dihentikan sekarang. Petualangan militer dan pencarian keuntungan teritorial sia-sia. Mereka hanya akan menyeret Yaman ke konflik bertahun-tahun lagi," ujarnya.

Saat berada di Marib, Griffiths bertemu dengan gubernur dan pejabat senior lainnya. Dia juga sempat mengunjungi warga yang kehilangan tempat tinggal. 

Menurut Griffiths, saat ini Marib telah menjadi pulau yang relatif stabil dan tenang di tengah kegilaan perang. "Para pihak perlu memastikan bahwa Marib akan tetap menjadi tempat berlindung dan tidak menjadi pusat pertempuran berikunya," ucapnya, dilaporkan laman UN News.

Pertempuran sengit di Al-Jawf telah berlangsung sejak bulan lalu. Konfrontasi bersenjata kian brutal saat pemberontak Houthi mengambil alih ibu kota Al-Jawf, al-Hazem, pekan lalu. Hal itu terjadi saat koalisi militer pimpinan Arab Saudi terus melancarkan serangan udara ke kota-kota dan desa-desa di daerah tersebut.

Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mengatakan pertempuran di Al-Jawf telah membuat puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal. "ICRC dan Masyarakat Bulan Sabit Merah Yamah telah membantu sekitar 70 ribu orang atau 10 ribu keluarga, dengan menyediakan tenda, selimut, jerigen, dan peralatan kebersihan," kata ICRC dalam sebuah pernyataan pad Sabtu.

Namun ICRC mengeluhkan tentang sulitnya menyalurkan bantuan kemanusiaan. Hal itu disebabkan pertempuran yang masih berlanjut di daerah tersebut.

Pada pertengahan Februari, serangan koalisi militer Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) melancarkan provinsi utara al-Jawf menyebabkan lebih dari 30 warga sipil tewas. Korban termasuk anak-anak dan wanita.

Peristiwa tersebut disorot Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Yaman Lisa Grande. "Begitu banyak orang terbunuh di Yaman, ini adalah sebuah tragedi dan tak dapat dibenarkan," ujarnya.

Dia mengatakan di bawah hukum humaniter internasional, pihak yang terlibat konfrontasi wajib melindungi warga sipil. "Lima tahun dalam konflik ini, para pihak yang berperang masih gagal menegakkan tanggung jawab ini. Ini mengejutkan," ujar Grande.

Kelompok kemanusiaan Save the Children turut mengutuk serangan udara koalisi Saudi. Menurut mereka, serangan tersebut menunjukkan bahwa konflik Yaman belum mereda.

"Serangan terakhir ini harus segera diselidiki dan diinvestigasi secara independen, kemudian para pelaku bertanggung jawab," kata Direktur Save the Children untuk Yaman Xavier Joubert.

Dia pun menyerukan penghentian penjualan senjata ke pihak-pihak yang bertikai dalam konflik Yaman. "Mereka yang terus menjual senjata kepada pihak-pihak yang bertikai harus menyadari bahwa dengan memasok senjata untuk perang ini, mereka berkontribusi membuat kekejaman seperti yang biasa terjadi hari ini," ucapnya.

Konflik Yaman telah berlangsung sejak 2014. Pemicunya adalah dikuasainya ibu kota Sanaa oleh Houthi. Tak hanya itu, mereka pun mengontrol sebagian besar wilayah utara Yaman di sepanjang perbatasan dengan Saudi.

Pada Maret 2015, Saudi memimpin koalisi untuk melakukan intervensi militer ke Yaman. Mereka berupaya mengembalikan pemerintahan Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi yang diakui secara internasional ke tampuk kekuasaan.

Sejak saat itu, Saudi gencar melancarkan serangan udara ke Yaman. Sekolah, rumah sakit, dan fasilitas publik lainnya turut terdampak serangan Riyadh.  Saudi juga sempat memblokade Hodeidah, pelabuhan utama Yaman. Aksi tersebut menyebabkan distribusi bantuan kemanusiaan terhambat. Krisis di Yaman pun kian mencemaskan.

Jutaan warga di sana mengalami kelaparan. Akses ke fasilitas atau layanan kesehatan semakin sulit. PBB telah menyebut krisis Yaman sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia.  Menurut Armed Conflict Location and Event Data Project, konflik Yaman telah menyebabkan lebih dari 100 ribu orang, termasuk gerilyawan Houthi dan warga sipil, tewas.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement