Sunday, 20 Jumadil Akhir 1443 / 23 January 2022

Pembangunan RS di Pulau Galang Ikuti Metode China

Ahad 08 Mar 2020 18:41 WIB

Red: Ratna Puspita

Salah satu bangunan bekas rumah sakit di kawasan wisata Ex Camp Vietnam di Pulau Galang, Batam, Kepulauan Riau. Kompleks bekas kamp Vietnam ini menjadi lokasi gedung rumah sakit penyakit menular.

Salah satu bangunan bekas rumah sakit di kawasan wisata Ex Camp Vietnam di Pulau Galang, Batam, Kepulauan Riau. Kompleks bekas kamp Vietnam ini menjadi lokasi gedung rumah sakit penyakit menular.

Foto: Antara/MN Kanwa
Material dikerjakan di Jakarta, dan tinggal diinstal di Pulau Galang.

REPUBLIKA.CO.ID, BATAM -- Pemerintah mulai membangun rumah sakit khusus penyakit menular di Pulau Galang, Kota Batam, Kepulauan Riau, sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo. Pembangunan rumah sakit di Pulau Galang menggunakan metode seperti rumah sakit di Wuhan, China.

Material dikerjakan di Jakarta, dan tinggal diinstal di Pulau Galang, sehingga waktu pembangunan yang dibutuhkan relatif cepat. "Sistem kami semacam Wuhan, sistem modular-modular, sehingga bisa lebih cepat, disamping material sedang produksi di Jakarta," kata dia Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Kepri Ditjen Cipta Karya PUPR, Albert Reinaldo di Batam, Ahad (8/3).

Baca Juga

Ia mengatakan pengerjaan di Pulau Galang sudah dilakukan sejak Sabtu (7/3) kemarin. Pembersihan lahan (land clearing) sudah hampir semuanya, sudah sebagian besar," kata 

 

Pada Ahad ini, Ditjen Cipta Karya akan melakukan perataan lahan dan harapannya rumah sakit itu akan selesai dibangun dalam waktu satu bulan. Setelah pembersihan lahan selesai, pihaknya akan melakukan pematangan lahan untuk daerah rendah.

"Diharapkan RS yang kita bangun terhindar dari banjir dan genangan," kata dia.

Gedung rumah sakit baru akan menggunakan lahan sekitar 7 hingga 8 hektare di kompleks bekas kamp Vietnam. Mengenai pemanfaatan gedung rumah sakit yang lama, ia belum dapat memastikan.

Sementara itu, menurut dia, kendala mendasar dari pembangunan rumah sakit di sana adalah ketersediaan air bersih. "Kendala memang yang mendasar, mengenai air. Kita sudah memiliki embung di kawasan wisata, namun perlu ditambah lagi," kata dia.

Embung yang ada sekarang hanya berkapasitas di bawah 0,5 liter per detik. Sedangkan kebutuhannya mencapai 3,5 liter per detik. "Perlu ditambah lagi kapasitasnya," kata dia.

Ia meyakinkan, pihaknya telah mendapatkan alternatif lokasi embung yang bisa dijadikan air baku. Namun, masih perlu disempurnakan hingga seluruh kebutuhan air tercukupi.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA