Friday, 13 Syawwal 1441 / 05 June 2020

Friday, 13 Syawwal 1441 / 05 June 2020

Bincang Sore Republika Kembali Digelar di Yogyakarta

Rabu 04 Mar 2020 18:55 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Gita Amanda

Bincang Sore Republika di Yogyakarta, Rabu (4/3) mengangkat tema Perempuan dan Sustainable Development Goals: Peran Domestik dan Global. Acara bincang ini menghadirkan Presiden Young on Top Yogyakarta, Mutiara Srikandi, dan dimoderatori oleh Kepala Departemen Pendidikan Perhimpunan Mahasiswa Cendekia, Habibah Auni.

Bincang Sore Republika di Yogyakarta, Rabu (4/3) mengangkat tema Perempuan dan Sustainable Development Goals: Peran Domestik dan Global. Acara bincang ini menghadirkan Presiden Young on Top Yogyakarta, Mutiara Srikandi, dan dimoderatori oleh Kepala Departemen Pendidikan Perhimpunan Mahasiswa Cendekia, Habibah Auni.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Bincang Sore Republika menghadirkan pembicara kunci Presiden Young on Top Yogyakarta, Mutiara Srikandi.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Harian Umum Republika dan Republika Online kembali menggelar Bincang Sore. Kali ini, acara yang digelar untuk edisi kedua itu mengangkat tema Perempuan dan Sustainable Development Goals: Peran Domestik dan Global.

Bincang Sore Republika menghadirkan pembicara kunci Presiden Young on Top Yogyakarta, Mutiara Srikandi. Diskusi ini dipandu Kepala Departemen Pendidikan Perhimpunan Mahasiswa Cendekia, Habibah Auni.

Mutia mengatakan, masih ada patriarki sosial sudut pandang di tengah-tengah masyarakat Indonesia dalam melihat gender. Misalnya, selama ini laki-laki yang tidak bekerja masih diartikan sebagai laki-laki yang tidak tangguh.

"Ketika kita mau menerima itu akan ada beban tersendiri antara laki-laki dengan perempuan," kata Mutia di Kantor Republika Perwakilan DIY Jateng dan Jatim di Yogyakarta, Rabu (4/3).

Ia melihat, masih banyak yang tidak sadar dampak besar ketika pemerataan sosial itu belum tercipta. Mutia mencontohkan, dampak itu bisa dirasakan ketika perempuan tidak diberi jatah yang maksimal sesuai kapasitasnya.

"Ketika perempuan tidak diberi jatah yang maksimal seperti kursi di parlemen yang memang perempuan itu memiliki kapabilitas, itu akan menghambat ekonomi global," ujar Mutia.

Untuk mengubah persepsi itu, ia menilai, harus ada role model yang bisa jadi contoh terciptanya pemerataan sosial. Menurut Mutia, upaya-upaya mengubah persepsi itu bisa dimulai dari lingkup-lingkup kecil seperti keluarga.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA