Saturday, 20 Rabiul Akhir 1442 / 05 December 2020

Saturday, 20 Rabiul Akhir 1442 / 05 December 2020

Reaksi CEO Microsoft Kala Jokowi Promosikan Ibu Kota Baru

Kamis 27 Feb 2020 20:38 WIB

Red: Andri Saubani

CEO Microsoft, Satya Nadella.

CEO Microsoft, Satya Nadella.

Foto: Microsoft
CEO Microsot Satya Nadella hadir di acara Digital Economy Summit di Jakarta, Kamis.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Antara, Sapto Andika Candra

CEO Microsoft Satya Nadella menyebut rancangan ibu kota baru Indonesia di Kalimantan Timur sangat menginspirasi. Nadella hari ini hadir pada acara Digital Economy Summit DevCon di Jakarta, Kamis (27/2) pagi, di mana Presiden Joko Widodo dalam paparannya memutarkan video rencana ibu kota baru Indonesia.

"Rasanya saya mau pindah ke sana besok," canda Nadella, dalam sesi wawancara khusus, Kamis.

Ketika melihat video tersebut, Nadella mengaku teringat ketika Microsoft merancang kampus, sebutan untuk markas besar Microsoft, yang berada di Seattle, Amerika Serikat. Pembangunan kampus tersebut, termasuk soal perencanaan dan keamanan, menurut Nadella tidak sebesar rencana pembangunan ibu kota baru Indonesia.

Nadella menyadari akan ada banyak tantangan terkait infrastruktur ibu kota baru, yang membutuhkan begitu banyak perencanaan dan pendanaan. Seusai menonton video, dia mengaku salah satu hal yang terpikir pertama adalah mengenai material apa yang paling cocok yang ada di sana.

"Bagaimana material itu bisa membantu, mulai dari perencanaan sampai implementasi," kata Nadella.

Berkaitan dengan rencana pembangunan ibu kota baru Indonesia, Microsoft menyatakan ketertarikan untuk membawa teknologi terbaik mereka.

Baca Juga

Saat memberikan sambutan di acara Microsoft Digital Economy Summit DevCon, Jokowi memutarkan video rancangan smartcity untuk ibu kota baru, yang akan berada di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartangera, Kalimantan Timur. Pemerintah menargetkan ibu kota Indonesia akan pindah ke Kalimantan Timur pada 2024.

"Tidak macet, tidak banjir," kata Presiden Jokowi di acara tersebut.

Dalam kesempatan itu, Jokowi juga mengajak para pelaku industri digital termasuk Microsoft untuk ikut terlibat dalam pembangunan ibu kota baru. Menurut dia, pembangunan ibu kota negara di Kalimantan Timur tak sekadar memindahkan gedung-gedung pemerintahan, tapi juga membangun kembali pola kerja masyarakat yang serbacepat dan efisien. Salah satu penunjangnya, ujar Presiden, adalah pengembangan teknologi digital.

"Kita ingin membangun sebuah basis ekonomi baru yang berbasis iptek dan inovasi, termasuk pindah dari analog ke sepenuhnya digital. Program ini adalah program besar yang akan mendorong lompatan kemajuan Indonesia, lompatan dari mayoritas analog ke sepenuhnya digital.

[video] 5 Alasan Jokowi Memilih Lokasi Ini untuk Ibu Kota Baru

Talenta digital

Tidak hanya mendukung rencana ibu kota baru, Microsoft juga berkomitmen untuk mendukung perkembangan talenta digital di Indonesia. Komitmen itu dalam rangka perayaan 25 tahun perusahaan tersebut berada di Indonesia.

"Teknologi di Indonesia sudah membantu pebisnis kecil berkembang, sementara pebisnis besar menjadi kompetitif," kata Satya Nadella.

Digital Economy Summit DevCon diadakan untuk para pengembang teknologi sekaligus perayaan kiprah 25 tahun Microsoft di Indonesia. Menurut Nadella, beroperasi di Indonesia juga berarti memberikan kontribusi terhadap perkembangan ekonomi dan sumber daya manusia.

Microsoft selama 25 tahun terakhir tercatat memberikan pelatihan terhadap 18 juta guru dan siswa di Indonesia untuk teknologi, termasuk untuk keamanan siber, kecerdasan buatan, sains data lewat Kurikulum Literasi Digital. Menurut Microsoft, pertumbuhan talenta digital merupakan hal yang penting untuk meningkatkan daya saing Indonesia.

Microsoft menyatakan misi mereka di Indonesia adalah untuk memberdayakan setiap orang dan organisasi, termasuk melengkapi tenaga kerja dengan keterampilan dan dukungan yang diperlukan untuk mentransformasi secara digital. Studi Microsoft IDC pada 2019 lalu menunjukkan 81 persen bisnis di Indonesia memprioritaskan pelatihan dan peningkatan keterampilan pekerja. Tapi, 48 persen dari angka tersebut menyatakan belum menerapkan rencana untuk melatih pekerjanya.

Sementara itu, 13 persen perusahaan mengaku belum memiliki rencana melatih pekerja. Lebih dari separuh pemimpin bisnis di Indonesia, sebanyak 65 persen, berpendapat teknologi seperti kecerdasan buatan bisa membantu karyawan melakukan pekerjaan secara lebih baik. Selain itu, 21 persen pemimpin bisnis meyakini kecerdasan buatan (AI) akan menciptakan lapangan kerja baru.

photo
Alasan Ibu Kota Pindah ke Kaltim

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA