Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Pertamina Sediakan Rp 25 T Investasi Konversi Pembangkit

Kamis 27 Feb 2020 18:30 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Gita Amanda

 PT Pertamina (Persero) selama dua tahun mendatang perlu menggelontorkan dana sebesar 1,3 miliar dolar atau Rp 25 triliun untuk investasi infrastruktur gas di sekitar pembangkit Perusahaan Listrik Negara (PLN).

PT Pertamina (Persero) selama dua tahun mendatang perlu menggelontorkan dana sebesar 1,3 miliar dolar atau Rp 25 triliun untuk investasi infrastruktur gas di sekitar pembangkit Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Foto: borneomagazine.com
PLN akan mengkonversi 52 pembangkit diesel ke gas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pertamina (Persero) selama dua tahun mendatang perlu menggelontorkan dana sebesar 1,3 miliar dolar atau Rp 25 triliun untuk investasi infrastruktur gas di sekitar pembangkit Perusahaan Listrik Negara (PLN). Langkah ini sejalan dengan program konversi pembangkit diesel ke gas yang dilakukan oleh PLN.

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati menjelaskan PLN akan mengkonversi 52 pembangkit diesel ke gas. Namun, untuk mendukung rencana ini Pertamina akan menugaskan PGN untuk membangun infrastruktur gas di sekitar pembangkit PLN.

"Kami perlu melakukan investasi untuk membangun fasilitas gas seperti mini regasifikasi dan mini LNG plan. Kami perlu menganggarkan 1,3 miliar dolar," ujar Nicke di Kementerian ESDM, Kamis (27/2).

Nicke menjelaskan investasi ini perlu dilakukan, sebab hari ini sumber gas masih berasal dari gas cair atau LNG. Saat ini LNG plan yang dimiliki oleh Pertamina hanya ada di tiga titik, Bontang, Tangguh dan Arun. Padahal, 52 titik pembangkit yang akan dikonversi tersebar di seluruh Indonesia. Maka, Pertamina perlu membawa gas cari ini menggunakan kapal ke titik pembangkit. Dari kapal tersebut gas cair tersebut perlu diregasifikasi untuk masuk ke pembangkit.

"Jadi, karena titiknya sulit, gak mungkin kita bangun pipa di laut. Maka kami pakai virtual pipe line ini. Seperti mini regas, dan mini LNG plan," ujar Nicke.

Program konversi gas ini perlu diselesaikan Pertamina dan PLN selama dua tahun mendatang. Nicke menjelaskan selama dua tahun ini Pertamina akan menggandeng PGN untuk menyelesaikan pembangunan infrastruktur gas melalui empat tahap.

"Tahap pertama akan kami selesaikan di lima pembangkit. Dengan total kapasitas 535 MW. Ada di Tanjung Selor, Sorong, Jayapura dan Gilimanuk," ujar Nicke.

Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Syahrial Mukhtar menjelaskan nantinya lima titik pertama yang akan dikonversi ini akan dilakukan bertahap. Pada September nanti ada dua pembangkit yang akan menggunakan gas. Sedangkan di Oktober dua pembangkit dan di bulan Desember satu pembangkit.

Untuk tahap awal ini, PGN akan membawa gas dari Tanggung, Arun dan Bontang ke lima titik pembangkit. Paralel, maka mulai bulan ini PGN sudah mulai membuat mini regasifikasi di lima titik pembangkit tersebut.

"Kami akan membangun mini regasifikasi di lima titik tersebut. Untuk sementara pasokan gas akan kami bawa dari Arun dan Bontang. Kami akan menggunakan kapal dan membawa gas cair ke sana," ujar Syahrial di lokasi yang sama.

Namun, Syahrial memang belum bisa merinci berapa kebutuhan dana dari lima mini regasifikasi yang perlu dibuat ini. Syahrial mengatakan di setiap titik punya kapasitas yang berbeda sehingga membutuhkan dana yang berbeda.

"Investasinya gak bisa dipukul rata satu regasifikasi berapa. Karena tergantung kebutuhan volumenya dan juga berapa besar kapasitas serapannya," ujar Syahrial.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA