Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Pemerintah Putuskan Jemput WNI di Diamond Princess

Kamis 27 Feb 2020 15:51 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Andri Saubani

Penumpang Diamond Princess melambaikan tangan ke penumpang lain yang meninggalkan kapal di Daikoku Pier Cruise Terminal, Yokohama, Tokyo, Rabu (19/2). Sebanyak 75 WNI masih berada di kapal Diamond Princess.

Penumpang Diamond Princess melambaikan tangan ke penumpang lain yang meninggalkan kapal di Daikoku Pier Cruise Terminal, Yokohama, Tokyo, Rabu (19/2). Sebanyak 75 WNI masih berada di kapal Diamond Princess.

Foto: EPA
Penjemputan WNI di kapal pesiar Diamond Princess menggunakan pesawat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah telah memutuskan jenis transportasi yang akan digunakan untuk mengevakuasi ABK WNI kapal pesiar Diamond Princess di Jepang. Menurut Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, mereka akan dipulangkan menggunakan pesawat.

"Tadi saya rapat juga di menko PMK, sudah diputuskan untuk segera dijemput dengan pesawat. Pake wide body. Supaya bisa langsung terbang di mana nanti yang ditentukan," jelas Terawan di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Kamis (27/2).

Nantinya, pesawat evakuasi itu akan diterbangkan langsung ke Indonesia tanpa transit. Saat ini, pemerintah masih menegosiasikan kembali jadwal penerbangan untuk evakuasi WNI di Jepang.

"Sekarang tinggal jadwal pesawatnya disiapkan untuk mulai bisa terbang ke Jepang. Nah jadi nomor 1, kita baru negokan ke Jepang untuk mendapatkan slot penerbangannya. Kan harus dapat slot," ujar Terawan.

Ia memperkirakan, evakuasi baru bisa dilakukan dalam waktu dua hari ke depan. Namun demikian, pemerintah masih menunggu keputusan dari Jepang terkait jadwal penerbangan.

"Paling sehari dua hari ini kan, yang sana begitu slot dibuka akan kita terbangkan," tambahnya.

Setibanya di Indonesia, WNI yang dievakuasi harus menjalani observasi dan karantina di Pulau Sebaru. Namun, menurut Terawan, pemerintah masih membahas kembali apakah observasi akan dilakukan di kapal atau di pulau.

"Kemungkinan di Sebaru lagi. Kita kan masih bicara terus, apa dengan kapal atau bagaimana. Ya kalau enak sih di pulau ya. Kemungkinan akan kita baru siapkan," ujar dia.

Menurut Terawan, pemerintah tak akan memaksa seluruh WNI untuk dievakuasi. Pemerintah hanya akan mengevakuasi warga yang ingin kembali ke Tanah Air.

"(Semua akan dievakuasi?) Iya yang mau," ujar Terawan.

Terawan sendiri mengaku bingung mendengar alasan mereka yang enggan pulang. Sebab, mereka beralasan masih dalam kondisi sehat.

"Alasannya itu aku yang repot, karena dia sehat terus enggak mau. Nah ini nanti tolong ditanyakan ke Kemlu. Sama yang waktu di Wuhan. Saya juga bingung alasannya," ungkapnya.

Sementara itu, sembilan WNI yang positif dinyatakan terkena virus Corona masih akan terus dirawat di rumah sakit di Jepang. Pemerintah baru akan mengevakuasi mereka setelah dinyatakan sembuh dari virus Corona.

"Kan dirawat di Jepang. Biar sampai sembuh di sana baru kita bawa. Namanya orang sakit kan enggak boleh keluar," ujar dia.

[video] Proses Evakuasi 188 ABK World Dream ke Pulau Sebaru

Baca Juga



Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menekankan prinsip kehati-hatian dalam proses evakuasi WNI, baik di atas kapal pesiar World Dream di Hong Kong dan Diamond Princess di Jepang. Presiden pun menegaskan pemerintah tak bisa tergesa-gesa dalam menjemput seluruh WNI untuk menutup celah penyebaran virus Corona mewabah di Indonesia.

Awak kapal asal Indonesia di kapal World Dream lebih dulu dievakuasi menggunakan kapal militer dengan mempertimbangkan jumlahnya yang lebih banyak ketimbang WNI di atas kapal Diamond Princess. Total, ada 188 WNI di atas kapal pesiar World Dream yang sudah dinyatakan sehat oleh otoritas kesehatan Hong Kong. Sementara itu ada 78 WNI yang bekerja di kapal Diamond Princess, dengan sembilan di antaranya dinyatakan positif korona.

"Ini masalahnya sudah menjalar ke banyak negara. Semua keputusan harus hati-hati. Tidak boleh tergesa-gesa. Kita memiliki 267 juta penduduk Indonesia yang juga harus dihitung semuanya. Hati-hati. Tidak bisa kita didesak-desak. Tidak bisa kita tergesa-gesa. Endak. Harus tepat. Seperti di Natuna yang kemarin," jelas Presiden Jokowi usai menghadiri laporan tahunan Mahkamah Agung di Jakarta, Rabu (26/2).

Kendati keputusan evakuasi untuk WNI di atas kapal Diamond Princess belum diambil, presiden menegaskan bahwa pemerintah tetap menjajaki langkah penjemputan. Koordinasi dan negosiasi, ujar presiden, tetap dilakukan dengan pemerintah Jepang dan pengelola kapal.

Presiden menyebutkan, prioritas saat ini adalah merampungkan proses penjemputan dan observasi selama 14 hari di Pulau Sebaru Kecil, Kepulauan Seribu. Seusai proses penjemputan untuk WNI dari kapal Dream World rampung, pemerintah melanjutkan kembali proses negosiasi pemulangan WNI dari atas kapal Diamond Princess.

"Ini dirampungkan satu-satu. Karena ini juga masih negoisasi dengan pemerintah Jepang. Yang ini aja belum sampai di Pulau Sebaru. Nanti kalau sudah sampai ditata, kita menyiapkan yang ini lagi. Tidak segampang itu diplomasi negoisasi. Tapi kita akan berusaha secepat cepatnya untuk negoisasi ini," jelas Presiden.

Pada Rabu (26/2), pemindahan 188 WNI anak buah kapal (ABK) MV World Dream ke Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dr Soeharso-990 di Perairan Selat Durian, Kepulauan Riau, dilaksanakan. Proses pemindahan dilakukan menggunakan transfer boat MV World Dream sebanyak dua kali perjalanan.

"Didukung cuaca yang cerah dan kerjasama yang sangat baik, proses evakuasi berjalan dengan baik dan lancar," ungkap Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama TNI Mohammad Zaenal, melalui keterangan tertulisnya, Rabu (26/2).

Mereka dipindahkan menuju KRI dr Soeharso dengan menggunakan transfer boat milik MV World Dream. Pemindahan 188 WNI yang terdiri dari 172 orang laki-laki dan 16 perempuan itu dilakukan sebanyak dua kali perjalanan.

"Transfer personel dilakukan dua sortie dengan menggunakan transfer boat MV World Dream menuju KRI dr Soeharso," jelas Zaenal.

Dia menjelaskan, para ABK tersebut diterima di KRI dr Soeharso dengan melalui prosedur pemeriksaan sesuai standar operasional prosedur (SOP) protokol medis. Setelah itu, kapal medis tersebut akan bergerak menuju Pulau Sebaru, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, dan diperkirakan akan tiba pada Jumat (28/2).

photo
Mencari Obat Corona

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA