Monday, 9 Syawwal 1441 / 01 June 2020

Monday, 9 Syawwal 1441 / 01 June 2020

Turki Serukan Perangi Xenofobia dan Islamofobia

Kamis 27 Feb 2020 13:56 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

Sekelompok wanita berunjuk rasa di Prancis menuntut dihentikannya Islamofobia. Turki menyerukan kepada seluruh negara agar melawan xenofobia dan Islamofobia. Ilustrasi.

Sekelompok wanita berunjuk rasa di Prancis menuntut dihentikannya Islamofobia. Turki menyerukan kepada seluruh negara agar melawan xenofobia dan Islamofobia. Ilustrasi.

Foto: Christophe Petit/EPA
Turki menyerukan kepada seluruh negara agar melawan xenofobia dan Islamofobia

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Turki menyerukan kepada seluruh negara di dunia agar melawan xenofobia dan Islamofobia. Wakil Menteri Luar Negeri Turki Faruk Kaymakci yang berbicara pada pertemuan tingkat tinggi sesi ke-43 Dewan Hak Asasi Manusia di markas besar PBB menyoroti tentang insiden penembakan di Hanau, Jerman.

"Kami kehilangan empat warga Turki dalam aksi rasisme dan permusuhan terhadap Islam," ujar Kaymakci dilansir Anadolu Agency, Kamis (27/2).

Pada 19 Februari, seorang ekstremis sayap kanan Jerman menyerang dua kafe. Insiden ini menewaskan sembilan orang dengan latar belakang migran di kota Hanau di bagian barat. Empat warga Turki meninggal dalam serangan itu termasuk satu orang Bosnia, satu orang Bulgaria, satu orang Rumania, dan dua orang berkebangsaan Jerman-Afghanistan.

Kaymakci mengatakan Turki telah menyuarakan keprihatinannya tentang meningkatnya serangan xenophobia di seluruh Eropa. Selain itu, Turki juga prihatin dengan manifestasi rasisme dan bentuk-bentuk diskriminasi lainnya di seluruh dunia.

"Sudah saatnya bagi semua negara untuk meningkatkan upaya mereka untuk melawan tren yang mengkhawatirkan ini, pertama dan terutama, dengan berbicara dengan satu suara dan meninggalkan wacana rasis dan xenofobia," kata Kaymakci.

Kaymakci juga menyoroti konflik yang sedang berlangsung di Suriah dan dapat menimbulkan ancaman bagi perdamaian, serta stabilitas regional. Dia mengatakan sejak Mei 2019 lebih dari 1.800 warga sipil telah tewas dalam serangan di Idlib.

Mengutip data PBB, lebih dari satu juta orang terlantar dan terpaksa mengungsi ke perbatasan Turki. Selain itu, setidaknya 300 fasilitas sipil, termasuk sekolah dan rumah sakit, telah hancur akibat serangan bom. Kaymakci mencatat bahwa Turki terus menegakkan hak asasi manusia dan martabat jutaan pengungsi yang ditampung di negaranya.

"Dengan sekitar empat juta orang terlantar, termasuk sekitar 3,6 juta warga Suriah, Turki adalah rumah bagi populasi pengungsi terbesar di dunia," kata Kaymakci.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA