Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Anak Kecanduan Gadget, Orang Tua Perlu Introspeksi

Rabu 26 Feb 2020 19:19 WIB

Red: Agus Yulianto

Azimah Subagijo

Azimah Subagijo

Foto: Republika/Prayogi
Berdasarkan penelitian ada 69 persen orangtua biasa mengecek gadgetnya setiap jam.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA - - Kecanduan gadget yang menimpa anak, bisa jadi karena meniru orangtuanya. Untuk itu orangtua perlu introspeksi.

Demikian disampaikan oleh Azimah Subagijo, Ketua Perhimpunan Masyarakat Tolak Pornografi (MTP) saat memberikan penyuluhan tentang “Bahaya Kecanduan Gadget dan Antisipasinya” kepada orangtua murid SMAN 28 Jakarta, Selasa (25/02). 

Lebih jauh Azimah menyampaikan, bahwa kini banyak orangtua yang lebih peduli pada gadgetnya (baca: smartphone) ketimbang mendengar keluh kesah atau sekadar bercengkrama dengan anak-anaknya. Baik saat bangun tidur, hingga tidur kembali, tak jarang gadget adalah benda yang pertama dan terakhir dipegang seseorang. Bahkan saat pergi makan bersama keluarga, atau berlibur banyak orang-orang di sekitar kita masih memegang telepon pintar.

"Berdasarkan penelitian ada 69 persen orangtua dan 78 persen remaja biasa mengecek gadgetnya setiap jam. Jangan-jangan perilaku 69 persen orangtua dalam survey itu, adalah kita” ujar Azimah yang juga pembicara tetap di program Parenting Line, Bravos Radio, Jakarta, dalam keterangannya yang diterima Republika.co.id,   Rabu (26/2). 

Dalam kesempatan itu, Azimah mengajak, para peserta penyuluhan untuk mengintrospeksi diri terutama dalam hal penggunaan gadget sehari-hari. Hal ini karena orangtua merupakan role model bagi anaknya.

Apalagi, dampak gadget sudah semakin nyata mulai dari komunikasi tatap muka menjadi minim, tidak kreatif, penyia-nyian waktu, insomnia, cheating, hingga korupsi moral. Cheating pada anak-anak dan remaja maknanya adalah mencontek saat ulangan harian atau ujian.

Kalau dulu mencontek bentuknya bertanya pada teman atau buku, tapi di era digital ini, yaitu saat ujian di sekolah sudah berbasis komputer, maka anak-anak bukan hanya bertanya pada teman di kelasnya, tapi mampu mencari kunci jawaban dengan mencarinya langsung dari mesin pencari di internet (baca: google). "Tentu hal ini tidak bisa kita biarkan,” ujar Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia periode 2010-2013 dan 2013-2016 ini.

Untuk itu, peran serta orangtua dan guru sangat penting untuk membiasakan anak-anak dan remaja mempunyai kebiasaan menggunakan gadget secara bijak. Mengingat anak-anak dan remaja ini dikenal sebagai digital native, yaitu anak-anak yang lahir saat teknologi digital tengah tumbuh dan berkembang dengan pesat.

Dikatakan Azimah, perkembangan teknologi digital di era revolusi 4.0 memang sebuah keniscayaan. Untuk itu, membimbing anak dan remaja saat ini harus disesuaikan dengan tantangan yang ada di zaman ini, yaitu salah satunya dalam penggunaan gadget.

"Sehingga bila dirasa sudah berlebihan dan/atau menyimpang dalam penggunaannya, penting untuk melakukan diet dan detoks gadget sebagai antisipasinya”, ujar penulis buku ‘Diet dan Detoks Gadget’ ini.

Diet gadget adalah upaya seseorang untuk melakukan pembatasan waktu penggunaan gadget, dan menggunakannya dengan bertujuan yaitu hanya untuk yang penting dan bermanfaat, serta mengurangi/menghapus aplikasi-aplikasi yang dirasa banyak menyita waktu, seperti aplikasi video dan game. Sementara itu, detoks gadget adalah upaya seseorang untuk benar-benar tidak menggunakan gadget selama waktu tertentu. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA