Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Bareskrim: Banyak Pengendali Narkoba di dalam Lapas

Rabu 26 Feb 2020 15:00 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Agus Yulianto

Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo (tengah).

Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo (tengah).

Foto: Antara/Reno Esnir
Isi rata-rata Lapas mendekati 50 persen kasus narkoba.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Bareskrim Polri menyebut, terdapat pengendali perdagangan narkoba dari pihak narapidana di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Sehingga, pihaknya berusaha untuk mencegah dan melakukan penindakan jika terbukti narapidana tersebut mengendalikan jaringan narkoba.

"Rata-rata akhir ini ada pengendali narkoba di dalam Lapas. Jadi, kami bekerja sama dengan Direktorat Jenderal PAS Kementerian Hukum dan HAM untuk melakukan upaya pencegahan dan penindakan agar tidak ada lagi narapidana yang mengendalikan jaringan narkoba di dalam Lapas," kata Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Irjen Pol Listyo Sigit Prabowo saat ditemui di Gedung Bareskrim, Jakarta Selatan, Rabu (26/2).

Listyo akan mendukung penuh Instruksi Presiden (INPRES) Nomor 6 Tahun 2018 tentang rencana aksi nasional pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika. Salah satunya dengan cara memberantas para pengedar narkoba dari dalam Lapas.

"Di Inpres Pak Presiden itu sudah jelas. Intinya kami akan meningkatkan sinergi dan salah satunya itu penindakan bersama agar hasilnya maksimal," kata dia.

Listyo menegaskan, akan memberantas pengedaran narkoba di Indonesia. Sebab, narkoba memiliki dampak negatif untuk masyarakat terutama generasi muda. "Siapapun yang terlibat dengan narkoba akan kami tindak tegas," kata dia.

Sebelumnya diketahui, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna Laoly mengatakan, permasalahan utama di semua lembaga pemasyarakatan (lapas) adalah permasalahan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba). "Persoalan kami adalah narkoba, ini persoalannya," kata Yasonna dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen RI, Senayan, Jakarta, Selasa (25/2).

Banyaknya narapidana narkoba, kata Yasonna, mengakibatkan isi rata-rata Lapas mendekati 50 persen kasus narkoba. "Di Medan 75 persen narkoba, di kota-kota (lain) ada yang 70 persen, 60 persen narkoba," katanya. 

Menurut Yasonna, ada risiko moral (moral hazard) yang terjadi dengan bergabungnya para pemakai narkoba dan kurir itu di dalam lapas. Karena bisa berimplikasi pula pada petugas lapas.

"Yang paling memprihatinkan itu seperti yang terjadi di Kabanjahe. Baru masuk 2017, belum tiga tahun sudah tergoda akhirnya dipecat. Kemarin saya berjumpa dengan dia, dan saya mendapat informasi bahwa orang tuanya minta maaf, tapi saya bilang tidak bisa," kata Yasonna.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA