Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Syahrul Ingin Riset Pertanian Beri Solusi Tekan Impor Pangan

Rabu 26 Feb 2020 01:42 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Agus Yulianto

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo

Foto: dok istimewa
Hilirasi produk pertanian harus sudah dilakukan.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, meminta para ahli dan pakar pertanian dan pangan di Indonesia membantu pemerintah menekan angka impor pangan. Pihaknya ingin agar riset-riset yang dilakukan memberikan dampak nyata pada peningkatan produksi komoditas dalam negeri sesuai dengan kebutuhan nasional.

Hal itu ia sampaikan dalam sambutan Orasi Pengukuhan Profesor Riset Badan Litbang Pertanian di Bogor, Jawa Barat, Selasa (25/2).

"Riset pertanian harus maju ke depan. Baik dalam konteks varietas dan budidaya tanaman. Bagaimana riset itu menjadi jalan untuk meningkatkan produksi agar kita tidak terus tergantung impor," kata Syahrul.

Syahrul mengatakan, Kementerian Pertanian di bawah kepemimpinannya akan mengedepankan riset dan penelitian sebelum kebijakan diambil. Sebab, tanpa ada masukan dari para pakar, kebijakan pertanan bisa tidak tepat sehingga tidak memberikan hasil yang signifikan.

Sesuai arahan dari Presiden Joko Widodo, Syahrul menekankan, bahwa Kementan harus bisa meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian. Dengan kata lain, selain meningkatkan produksi dalam negeri, hilirasi produk pertanian harus sudah dilakukan.

"Riset menjadi sangat penting untuk bisa mencapai hasil maksimal. Kalau kita tidak mau impor, ya kita harus berdikari dan memperbaiki riset," tuturnya.

Syahrul pun menyinggung negara-negara di dunia yang memiliki dana riset pertanian yang cukup besar. Karena itu, Indonesia sebagai negara agraris semestinya tidak tertinggal dari segi riset dan penelitian pertanian.

Apalagi, lahan dan iklim yang tersedia sangat mendukung untuk terus mengembangkan sektor pertanian. "Kita punya 267 juta penduduk. Semua butuh makan. Jadi riset terapan harus didorong maksimal, bukan hanya konsep dan teori," katanya.

Selain mendorong kemajuan riset, ia pun meminta para perguruan tinggi untuk mendukung program-program pemerintah. Terutama, untuk memacu kinerja ekspor pertanian dan menekan impor pangan. Mahasiswa pertanian yang hingga saat ini masih duduk di bangku kuliah harus bisa menyelesaikan masalah di lapangan ketika menyandang gelar.

"Sarjana-sarjana kita harus kuat. Dia harus bisa praktek di lapangan. Tidak boleh hanya diam di menara gading," tuturnya.

Sebagaimana diketahui, impor pangan hingga saat ini masih dilakukan pemerintah untuk sejumlah komoditas demi menutupi kebutuhan dalam negeri. Beberapa komoditas yang sering disinggung Syahrul yakni komoditas bawang putih dan daging sapi yang masih mengalami defisit.

Komoditas bawang putih hingga saat ini kerap menjadi masalah di awal tahun lantaran harga yang melonjak. Beragam spekulasi pun bermunculan, di mulai dari adanya keterlambatan rekomendasi dan izin impor, hingga penimbunan stok oleh oknum. Dari total kebutuhan 500 ribu ton per tahun, lebih dari 80 persen dipenuhi dari impor

Sementara, defisit daging sapi juga terus melebar dari tahun ke tahun dan mengakibatkan adanya kenaikan kebutuhan importasi. Tahun 2020 ini, impor daging dan kerbau dialokasikan sebanyak 300 ribu ton, naik dari tahun lalu sebesar 291 ribu ton. Kenaikan impor itu terjadi akibat kenaikan produksi tidak bisa mengimbangi kenaikan kebutuhan dalam negeri.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA