Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Studi: Polusi Udara China dan India Tertinggi di Dunia

Selasa 25 Feb 2020 21:13 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Nora Azizah

Polusi udara yang melanda China dan India disebut paling mematikan di dunia (Foto: ilustrasi kepadatan kota New Delhi, India)

Polusi udara yang melanda China dan India disebut paling mematikan di dunia (Foto: ilustrasi kepadatan kota New Delhi, India)

Foto: Flickr
Polusi udara yang melanda China dan India disebut paling mematikan di dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Peneliti melaporkan hampir 90 persen dari 200 kota yang dilanda tingkat polusi udara mikro paling mematikan di dunia berada di Cina dan India. Sebagian besar sisanya ada di Pakistan dan Indonesia.

Memperhitungkan populasi, Bangladesh muncul sebagai negara dengan polusi PM 2.5 terburuk, diikuti oleh Pakistan, Mongolia, Afghanistan dan India. Pernyataan ini menurut World Quality Report 2019 bersama-sama dirilis oleh IQAir Group dan Greenpeace.

Materi partikulat berdiameter 2,5 mikron atau kurang adalah jenis polusi udara yang paling berbahaya. Flek mikroskopis cukup kecil untuk memasuki aliran darah melalui sistem pernapasan dan menyebabkan asma, kanker paru-paru dan penyakit jantung.

Di antara kota-kota besar dunia yang terdiri dari 10 juta orang atau lebih, PM2.5 paling beracun pada 2019 adalah ibu kota India New Delhi, diikuti oleh Lahore di Pakistan, Dhaka di Bangladesh, Kolkata di India, Linyi dan Tianjin di China, serta Jakarta di Indonesia. Berikutnya yang juga ada di dalam daftar adalah Wuhan bersama denngan Chengdu dan Beijing. Laporan IQAir didasarkan pada data dari hampir 5.000 kota di seluruh dunia.

Sebagian besar dari tujuh juta kematian dini yang tercatat di WHO adalah akibat polusi udara disebabkan oleh partikel PM2.5. Partikel polusi tersebut berasal dari badai pasir, pertanian, industri, kebakaran hutan dan terutama pembakaran bahan bakar fosil.

“Polusi udara adalah ancaman kesehatan lingkungan terkemuka di dunia. 90 persen populasi global menghirup udara yang tidak aman,” kata CEO IQAir Frank Hammes, seperti yang dilansir dari Malay Mail, Selasa (25/2).

Konsentrasi PM 2.5 perkotaan rata-rata China turun 20 persen pada 2018 dan 2019. Namun tetapi tahun lalu tercatat peringkat 117 dari 200 kota plaing tercemar di dunia.

Semua kecuali dua persen dari kota-kota China melebihi pedoman WHO untuk tingkat PM2.5, sementara 53 persen melampaui batas keselamatan nasional yang kurang ketat. PBB mengatakan kepadatan PM2.5 seharusnya tidak melebihi 25 mikrogram per meter kubik (25 mcg/m3) udara dalam periode 24 jam. China telah menetapkan standar pada 35 mcg/m3.

Menurut WHO, lebih dari satu juta kematian dini di China setiap tahun disebabkan oleh polusi udara. Kalkulasi terbaru menempatkan korban hingga dua kali lipat dari angka itu.

Di sejumlah besar India utara dan China utara dan tengah, memenuhi standar WHO sepanjang tahun untuk polusi PM2.5 akan meningkatkan harapan hidup hingga enam atau tujuh tahun, menurut Air Quality Life Index, yang dikembangkan oleh para peneliti di Institut Kebijakan Energi Chicago.

Di India, polusi partikel kecil melebihi batas WHO sebesar 500 persen, bahkan jika polusi udara secara umum menurun secara signifikan tahun lalu, dengan 98 persen kota yang dipantau menunjukkan peningkatan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA