Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Saham BUMN Ini Layak Beli di 2020

Selasa 25 Feb 2020 08:00 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolanda

Kepala Riset Praus Capital, Alfred Nainggolan menilai kinerja saham emiten punya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sejak awal tahun hingga saat ini tidak berbeda jauh dengan kinerja pasar saham secara keseluruhan. Sebagian besar emiten pelat merah membukukan kinerja negatif.

Kepala Riset Praus Capital, Alfred Nainggolan menilai kinerja saham emiten punya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sejak awal tahun hingga saat ini tidak berbeda jauh dengan kinerja pasar saham secara keseluruhan. Sebagian besar emiten pelat merah membukukan kinerja negatif.

Foto: Republika/Prayogi
Saham BRI dan BMRI membukukan kinerja positif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Riset Praus Capital, Alfred Nainggolan menilai kinerja saham emiten punya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sejak awal tahun hingga saat ini tidak berbeda jauh dengan kinerja pasar saham secara keseluruhan. 

Baca Juga

Alfred mencatat, dari 20 emiten BUMN yang terdapat di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham milik PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) saja yang masih membukukan kinerja positif. BBRI tumbuh dua persen dan BMRI  tumbuh 1,3 persen. 

Sementara sisanya mengalami penurunan harga saham dengan rentang satu persen sampai 40 persen. "Pada priode year to date (31 Des 2019 – 24 Feb 2020) total kapitalisasi pasar BUMN tergerus Rp 75,74 Triliun atau turun 4,3 persen," kata Alfred kepada Republika.co.id, Selasa (25/2). 

Meski demikian, di tengah tekanan kinerja BUMN tersebut, masih ada beberapa saham pelat merah yang layak untuk dikoleksi pada tahun ini. Selain BMRI, saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) menjadi pilihan saham yang menarik dikoleksi terlebih dengan kondisi bearish yang terjadi di pasar saham. 

"Ketiga emiten ini menjadi pilihan kita karena memiliki fundamental yang masih sangat baik dan bahkan masih akan kembali tumbuh di tahun ini," tutur Alfred.

Alfred melihat, kinerja yang paling menjadi perhatian di awal tahun ini yaitu saham milik  PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan TLKM. Harga saham sejumlah emiten ini tergerus cukup dalam masing-masing 39,4 persen, 31,8 persen dan 8,3 persen. Penurunannya banyak dikontribusi oleh sentimen nonfundamental. 

Untuk GIAA, sahamnya terus mengalami penurunan setelah mencuatnya kasus laporan keuangan hingga dilantiknya jajaran direksi baru. Sementara saham PGAS juga mengalami hal yang sama pascapembatalan rencana kenaikan harga gas yang diajukan oleh PGAS serta penurunan harga gas industri oleh pemerintah. Sedangkan saham TLKM terkoreksi oleh faktor non-fundamental. 

Menurut Alfred, masih menghijaunya saham BBRI dan BMRI pada sejak awal tahun hingga saat ini dikontribusi oleh keputusan Rapat UMUM Pemegang Saham (RUPS) tahunan berupa kenaikan besaran Deviden Payout Ratio untuk tahun buku 2019. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA