Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

PT KAI Lakukan Penertiban Fisik Rumah Ketua PNS

Senin 24 Feb 2020 16:06 WIB

Rep: S Bowo Pribadi / Red: Agus Yulianto

Aksi dorong mewarnai penertiban fisik rumah Sugiyarta oleh PT KAI Daop 4 Semarang, di lingkungan Temenggungan RT 08/ RW 03 Kelurahan Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Senin (24/2). Penertiban fisik ini dilakukan setelah PT KAI menganggap penghuni tersebut menghalangi upaya penertiban administrasi terhadap 268 KK warga yang selama ini menempati lahan aset PT KAI di sekitar Stasiun Ambarawa tersebut.

Aksi dorong mewarnai penertiban fisik rumah Sugiyarta oleh PT KAI Daop 4 Semarang, di lingkungan Temenggungan RT 08/ RW 03 Kelurahan Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Senin (24/2). Penertiban fisik ini dilakukan setelah PT KAI menganggap penghuni tersebut menghalangi upaya penertiban administrasi terhadap 268 KK warga yang selama ini menempati lahan aset PT KAI di sekitar Stasiun Ambarawa tersebut.

Foto: Republika/Bowo Pribadi
PT KAI memiliki dasar untuk melaksanakan penertiban fisik.

REPUBLIKA.CO.ID,  Ungaran — PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 4 Semarang, akhirnya melakukan penertiban fisik terhadap bangunan rumah yang selama ini ditempati Sugiyarta, di lingkungan Temenggungan, RT 08/ RW 03 Kelurahan Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Senin (24/2).

Penertiban fisik terpaksa dilakukan, karena penghuni rumah yang bersangkutan dianggap selalu menjadi penghalang dan bahkan memprovokasi warga lain untuk bisa tertib administrasi atas pemanfaatan lahan aset PT KAI.

Sempat terjadi perdebatan antara penghuni rumah yang bersangkutan dengan tim penertiban aset PT KAI. Karena penghuni tersebut bersikukuh rumah yang ditempati selama ini bukan berdiri di atas lahan negara dan bukan aset PT KAI.

Sejumlah warga yang mendukung ‘perlawanan’ Sugiyarta juga sempat menghalangi upaya tim penertiban PT KAI, hingga aksi dorong dengan petugas keamanan tak terelakkan. Kendati begitu, upaya PT KAI tersebut akhirnya tetap dilaksanakan tanpa ada perlawanan, karena PT KAI memiliki dasar untuk melaksanakan penertiban fisik.    

Manager Humas PT KAI Daop 4 Semarang, Krisbiyantoro mengatakan, hari ini PT KAI Daop 4 Semarang menertibkan satu rumah perusahaan (aset PT KAI) yang berada di di lingkungan Temenggungan RT 08/ RW 03, Kelurahan Panjang yang selama ini ditempati oleh Sugiyarta.

“Penghuni yang dimaksud, sebagai Ketua Paguyuban Ngudi Sejahtera (PNS). Yang bersangkutan sering kali menghambat dalam hal penertiban, yang selama ini dilakukan PT KAI di lingkungan Temenggungan ini,” ungkapnya.

Penertiban ini, jelasnya, bukan tanpa dasar. Karena PT KAI mempunyai hak pakai, dasarnya adalah Sertifikat Hak Pakai (SHP) Nomor 7, yang sudah terbit sejak tahun 1987.

Di lain iphak, sejak persoalan di lingkungan Temenggungan ini bergulir, warga yang lain yang juga menempati lahan asset PT KAI di sekitar Stasiun Ambarawa ini sudah setuju untuk ditertibkan, baik penertiban secara administrasi maupun penertiban secara fisik.

Penertiban administrasi yang dimaksud adalah warga yang selama ini memanfaatkan aset PT KAI tersebut sepakat untuk sewa kontrak. “Namun karena satu orang tersebut (Sugiyarta; red) semua warga tervokus semua untuk tidak melakukan kerjasama atau ikatan kontrak dengan PT KAI Daop 4 Semarang,” tegasnya.

PT KAI tidak akan melakukan penertiban fisik jika memang yang bersangkutan mau proaktif. Maka, ia juga mengimbau kepada warga -- setelah penertiban fisik terhadap Sugiyarta ini-- lainnya bisa mengikuti untuk sewa kontrak kepada PT KAI

Terpisah Ketua PNS, Sugiyarta mengatakan, terkait dengan penertiban ini, ia mengaku belum menerima tembusan maupun pemberitahuan sebelumnya. Sebagaiobyek penertiban, juga belum menerima surat secara langsung dari PT KAI.

“Saya tahunya justru dari grup lingkungan, awalnya pak RW yang menanyakan perihal apakah benar akan ada penertiban rumah yang saya tempati,” ujarnya.

Kendati sudah difasilitasi oleh wakil rakya atau Pemkab Semarang, PT KAI tidak pernah melanjutkan rekomendasi atau solusinya. “Jadi hanya berhenti di meja pertemuan ngobrol- ngobrol itu saja dan solusinya untuk warga kami seperti apa tidak ada,” katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA