Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

BMKG Sudah Beri Peringatan Sebelum Tragedi Susur Sungai

Ahad 23 Feb 2020 06:02 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Andri Saubani

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia  (BMKG), Dwikorita Karnawati saat ditemui di BMKG Stasiun Klimatologi Mlati  Yogyakarta, Sleman, Sabtu (22/02).

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia (BMKG), Dwikorita Karnawati saat ditemui di BMKG Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta, Sleman, Sabtu (22/02).

Foto: Republika/Silvy Dian Setiawan
Peringatan potensi hujan ekstrem sudah diberikan BMKG bahkan sejak sepekan lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, telah memberikan peringatan dini sebelum dilakukannya aktivitas susur Sungai Sempor yang menyebabkan adanya korban meninggal dunia dari siswa SMPN 1 Turi, Sleman. Peringatan dini yang disampaikan yakni adanya potensi hujan ekstrem yang terjadi di bagian utara Sleman.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan, pihaknya telah memberikan informasi dari jauh hari. Yakni, satu pekan sebelum kejadian.

Informasi ini diingatkan kembali tiga hari sebelum kejadian siswa SMPN 1 Turi yang hanyut terbawa arus sungai, Jumat (21/02). Bahkan, tiap satu jam di hari kejadian, kata, Dwikorita, pihaknya selalu memberikan peringatan dini perkiraan cuaca. 

"Peringatan dini itu sudah disampaikan pukul 13.15 WIB. Sebetulnya tiga hari sebelumnya juga sudah ada potensi cuaca ekstrem. Informasi diulang-ulang tiap hari dan (informasi) yang paling dekat (disampaikan) saat kejadian itu peringatan dini 13.15 WIB," katanya di BMKG Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta, Sleman, Sabtu (22/02).

Pada pukul 13.15 WIB tersebut, katanya, di lokasi kejadian yakni Sungai Sempor masih mendung dan belum terjadi hujan. Namun, dari citra radar cuaca sudah terpantau awan Cumulonimbus (Cb) yang siap masuk ke wilayah Sleman.

"Awan Cb itu masih di wilayah luar DIY, masih di Jateng. Tapi, diprediksi dalam waktu setengah jam akan masuk ke wilayah Sleman bagian utara. Jadi dikeluarkan peringatan dini yang berlaku untuk pukul 13.45 sampai 15.45 WIB," jelasnya.

Setelah itu, citra radar cuaca BMKG Stasiun Klimatologi Mlati juga menangkap adanya gelombang kedua awan Cb. Peringatan dini pun kembali disampaikan karena awan Cb tersebut bergerak menuju lereng Gunung Merapi.

"Pukul 15.00 WIB kami keluarkan peringatan dini, dan peringatan dini tersebut untuk potensi hujan ekstrem yang dimulai 15.30 sampai 16.30 WIB. Dan ternyata kejadiannya (siswa terbawa arus sungai) sekitar 15.30 WIB lebih," kata Dwikorita.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas menyusuri sungai. Sebab, tujuh hari ke depan diperkirakan masih berpotensi hujan sedang hingga lebat.  Selain itu, masyarakat juga diminta untuk selalu waspada. Hal ini dilakukan agar kejadian serupa tidak terjadi kembali.

"Potensi banjir bandang dan longsor biasanya terjadi di kaki atau lereng Gunung Merapi. Mohoh masyarakat silahkan beraktivitas, tapi mohon selalu memonitor info cuaca di berbagai kanal," jelasnya.

Baca Juga

Korban meninggal dunia akibat terbawa arus sungai saat menyusuri Sungai Sempor, Padukuhan Donokerto, Turi, Sleman, menjadi sembilan orang. Pencarian yang dilakukan pada Sabtu, menemukan dua korban dalam kondisi meninggal dunia.

"Ditemukan dua korban di Dam Nglenkong dan Dam Polowidi. Dibawa ke Puskesmas untuk diidentifikasi oleh DVI Polda," jelas Kepala Pusat Informasi Nasional Gerakan Pramuka, Guritno, melalui pesan singkat, Sabtu (22/2).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA