Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Dari Gus Dur Hingga Emha: Tentang Geger Salam Pancasila

Ahad 23 Feb 2020 04:31 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Santri Jawa mengaji

Santri Jawa mengaji

Foto: troppen musseum
Kontroversi soal salam itu ternyata sudah dari dahulu dan hanya bikin emosi saja.

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Dahulu di zaman Gus Dur ada pernyataan yang bikin geger. Cucu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari ini sempat mengatakan salam Asalamu’alaikum bisa diganti dengan selamat pagi. Tapi hebatnya Gus Dur biasa saja ketika kalangan umat menyesalkannya. Bahkan ada tokoh ulama yang juga ikut protes. Tapi Gus Dur anggap itu sebagai angin lalu saja. Gurauannya: Gitu aja kok repot.

Jejak itu masih terlacak pada sebuah wawancara  Gus Dur dengan wartawan di Majalah Amanah. Jejaknya begini:

Amanah: Beberapa waktu yang lalu Anda pernah mempopulerkan istilah “mempribumikan Islam,” apa maksudnya?


Abdurrahman Wahid: Yah, selama ini kan Islam di Indonesia terlalu melihat kepada Timur Tengah. Sebagai contoh kalau dulu kita membangun masjid harus memakai kubah. Padahal bangsa kita sudah memiliki bentuk arsitektur yang lebih sesuai dengan budayanya sendiri dan mengandung makna yang mendalam. Lalu tentang ucapan assalamu’alaikum,kenapa kita merasa bersalah kalau tidak mengucapkan assalamu’alaikum. Bukankah ucapan itu bisa saja kita ganti saja dengan selamat pagi atau apa kabar, misalnya…

Lalu Amanah masih bertanya:

Amanah: Bukankah itu (assalamu’alaikum) juga untuk menunjukkan identitas keislaman kita?

Abdurrahman Wahid: Justru di sini saya nggak setuju. Untuk menunjukkan identitas Islam saja kok harus begitu. Menurut saya, selamat pagi, selamat sore atau apa kabar itu sama saja Islamnya dengan assalamu ‘alaikum. ….. (Amanah, No. 22, 1987, hlm. 39).
 

            

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA