Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Asosiasi Farmasi: Impor Bahan Baku Terkendala Akibat Corona

Jumat 21 Feb 2020 21:24 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Penjaga stand menjelaskan produknya kepada pengunjung pada Pameran Produk dan Alat Kesehatan China Healthcare Products Expo 2019 di JiEXPO Jakarta. 60 persen bahan baku farmasi Indonesia diimpor dari China

Penjaga stand menjelaskan produknya kepada pengunjung pada Pameran Produk dan Alat Kesehatan China Healthcare Products Expo 2019 di JiEXPO Jakarta. 60 persen bahan baku farmasi Indonesia diimpor dari China

Foto: Darmawan/Republika
60 persen bahan baku farmasi Indonesia diimpor dari China

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi mengakui, virus corona yang menyerang China memengaruhi impor bahan baku obat-obatan. Sebab, sekitar 60 sampai 62 persen bahan baku farmasi Indonesia diimpor dari Negeri Tirai Bambu tersebut.

"Jadi begini, kalau kita bicara bahan baku memang 95 sampai 96 persen impor, sebagian besar di antaranya dari China. Lalu sekitar 20 persen dari India, tapi India juga bergantung dari Cina untuk intermediate-nya," ujar Direktur Eksekutif GP Farmasi Dorodjatun Sanusi saat dihubungi Republika, Jumat, (21/2).

Maka, lanjutnya, virus tersebut memengaruhi rantai suplai. Rantai pasokan atau suplai bergantung pada kemampuan industri pemasok yakni China. "Artinya produsen bahan baku obat di china-nya, mereka libur sejak imlek ditambah corona jadi belum pulih, staff-nya belum pulang semua dan bebrapa dihindarkan untuk masuk kerja. Ada pengurangan hari kerja signifikan," tuturnya.

Proses produksi di sana, lanjutnya, juga belum pulih, dan tidak bisa diketahui waktu berjalannya kembali. Meski dari Provinsi lain di China banyak memasok bahan baku, namun Hubei merupakan pemasok utama. Seperti diketahui, virus Corona baru pertama kali muncul di provinsi tersebut.

"Selain melihat kondisi suplainya, kita juga melihat unsur transportasi logistik ke Indonesia yang tidak selalu tersedia karena virus corona. Lewat udara jelas nggak mungkin dan selama ini memang nggak banyak dikirim lewat udara, kebanyakan lewat laut," ungkap dia.

Dengan pasokan atau hulu yang terhambat, ditambah logistiknya terkendala, maka impor bahan baku mulai tersendat. "Tidak tahun kapan lancarnya, kalau ini tersendat, konsekuensinya harga setiap saat bisa berubah naik," kata Dorodjatun.

Menurutnya, jika sampai April Corona belum bisa diatasi, maka kondisi bisa semakin rumit. "Kita nunggu evaluasi sampai Maret, karena stok kita aman sampai Maret. Kita sudah komunikasi pula dengan Kementerian Kesehatan dan Badan POM, terkait bagaimana bisa percepat dan permudah produk izin masuk bila ada perubahan suplier," tuturnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA