Friday, 6 Syawwal 1441 / 29 May 2020

Friday, 6 Syawwal 1441 / 29 May 2020

Toleransi dalam Kehidupan Bertetangga (1)

Jumat 21 Feb 2020 16:03 WIB

Red: Muhammad Hafil

 Toleransi dalam Kehidupan Bertetangga. Foto: Warga membawa ancak berisi nasi bersama telur ayam untuk dibagikan ke tetangga di Kampung Trusmi, Cirebon, Jawa Barat, Ahad (27/7).  (Republika/Wihdan)

Toleransi dalam Kehidupan Bertetangga. Foto: Warga membawa ancak berisi nasi bersama telur ayam untuk dibagikan ke tetangga di Kampung Trusmi, Cirebon, Jawa Barat, Ahad (27/7). (Republika/Wihdan)

Peran tetangga begitu besar terhadap kehidupan seseorang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Ada satu hal yang tidak hentinya diingatkan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. ''Jibril memerintahkan berbuat baik kepada tetangga secara luas, yang aku berpikir bahwa ia memasukkan tetangga sebagai ahli waris.'' (HR Muttafaqun'alaih)

Maka, Rasulullah pun mengikuti anjuran tersebut, dan menekankah hal yang sama kepada para sahabat maupun umat Muslim lainnya. Tetangga, dalam wasiat Nabi, haruslah dihormati serta diperlakukan dengan baik.

Hadits di atas sejatinya merupakan penguat dari perintah Allah SWT pada surat an Nisaa [4] ayat 36, ''Sembahlah Allah dan jangan sekutukan Dia dengan apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman-teman, ibn sabil, dan hamba sahayamu..''

'Tetangga yang dekat' bisa diartikan yakni seseorang yang dengannya, berhubungan dalam keluarga atau agama, sedangkan 'tetangga jauh' adalah yang tidak memiliki ikatan itu.

Hanya saja, menilik ketentuan-ketentuan tadi, maka setiap tetangga punya hak tetangga atas diri seorang Muslim, meski tak ada kaitan keluarga serta agama. Maka itulah, Nabi bahkan berpikir untuk membuat tetangga seperti layaknya keluarga hingga memberikan hak waris serupa keluarga.

Siapakah tetangga kita? Seperti dijelaskan Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan az-Zuhri, tetangga merupakan orang terdekat yang tinggal di satu lingkungan, jumlahnya hingga 40 kepala keluarga (KK), di tiap-tiap arah angin.

Karena faktor kedekatan itulah, peran tetangga begitu besar terhadap kehidupan seseorang. Jika tertimpa musibah, tetanggalah yang pertama kali memberikan bantuan, pertolongan maupun uluran tangan. Ada nilai-nilai kebersamaan yang harus dijaga dalam lingkungan tempat tinggal.

Toleransi pun menjadi kata kunci. Oleh sebab itu, Islam tidak menginginkan umat hidup bermewah-mewah jika pada saat yang sama, masih ada tetangganya yang kesusahan.

''Bukan termasuk orang yang percaya kepadaku, orang yang makan kenyang sedangkan tetangga di sampingnya kelaparan, dan ia mengetahui hal tersebut,'' demikian sabda Rasulullah.

Bahkan, ungkap Dr Hamka Hasan MA, dosen Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rasulullah sampai mencap seseorang tidak beriman jika tidak peduli kepada tetangga.

Islam, sambung alumni Universitas Al Azhar Mesir ini, sangat menganjurkan umatnya untuk menjalin hubungan yang baik kepada tetangganya. Ia menyebutkan, sesama Muslim ada tiga kewajiban.

Pertama, karena dia itu Muslim, kedua karena dia manusia dan ketiga karena dia merupakan tetangga. Sedangkan kepada non-Muslim, umat memiliki dua kewajiban. Pertama, karena dia itu manusia dan kedua karena dia itu tetangga.

Baca Juga

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA