Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Pengamat: Dampak Corona Terhadap Indonesia Bisa Beruntun

Jumat 21 Feb 2020 14:06 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Nidia Zuraya

Wabah virus corona berdampak pada perekonomian Indonesia.

Wabah virus corona berdampak pada perekonomian Indonesia.

Foto: Tim Infografis Republika.co.id
Wabah corona memang diperkirakan akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia dapat menjadi sentimen positif bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter R Abdullah menyampaikan keputusan BI menurunkan suku bunga mengindikasikan BI cukup pede dengan nilai tukar rupiah.

"BI yakin tekanan terhadap rupiah tidak akan besar walaupun suku bunga acuan diturunkan," katanya kepada Republika.co.id, Jumat (20/2).

Untuk mengantisipasi perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut BI juga mencoba melonggarkan likuiditas secara berkelanjutan. Piter menyampaikan wabah corona memang diperkirakan akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan.

Revisi proyeksi ekonomi juga akan sangat bergantung kepada respons kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah. Sektor-sektor yang terdampak wabah corona cukup luas.

"Yang jelas adalah sektor pariwisata dan turunannya seperti transportasi, hotel dan restoran, hingga usaha atau industri oleh-oleh serta kerajinan," katanya.
 
Wabah corona juga berdampak kepada sektor manufaktur yang bisa terganggu produksinya. Pasokan bahan baku yang mayoritas impor dari China terhambat.
 
Demikian juga barang-barang komoditas yang permintaannya di pasar global sudah menurun. Ini menyebabkan jatuhnya harga. Ini membuat ekspor semakin terpuruk.

Ini akhirnya akan berdampak lebih lanjut pada pendapatan masyarakat sehingga tingkat konsumsi bisa turun. Sementara investasi asing juga akan terhenti akibat corona.

"Jadi bisa dibayangkan besarnya dampak negatif corona terhadap konsumsi dan produksi, investasi dan aliran modal asing," katanya.

BI mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020 akan lebih rendah, yaitu menjadi 5,0-5,4 persen, dari prakiraan semula 5,1-5,5 persen. Pertumbuhan ekonomi kemudian meningkat pada tahun 2021 menjadi 5,2-5,6 persen.

Gubernur BI, Perry Warjiyo penurunan tersebut sudah memasukan respons kebijakan baik BI maupun pemerintah.  Virus corona baru, Covid-19 juga diperkirakan akan berdampak selama dua bulan dan butuh pemulihan hingga enam bulan setelahnya hingga normal kembali.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA