Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Penerapan Green Chemistry Minimalkan Bahaya Toksitas

Jumat 21 Feb 2020 01:30 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Pasta Gigi. Ilustrasi

Pasta Gigi. Ilustrasi

Foto: Wikipedia
Penerapan prinsip kimia hijau disebut meminimalkan bahaya toksitas.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Guru besar Universitas Andalas (Unand) Padang, Prof Syukri Arief mengemukakan penerapan prinsip green chemistry atau kimia hijau dapat meminimalkan bahaya toksitas, memaksimalkan keamanan, dan keberlanjutan di masa akan datang dalam rangka pembangunan berkelanjutan.

"Beberapa tahun terakhir emisi gas CO2 dari aktivitas manusia mengalami peningkatan lebih tinggi yang menjadi pemicu kenaikan suhu bumi dan terjadinya pemanasan global, penerapan prinsip green chemistry merupakan upaya pengurangan emisi dan melindungi bumi dari pemanasan global," jelas dia di Padang, Kamis (20/2).

Ia menyampaikan hal itu pada orasi ilmiah pengukuhan sebagai guru besar tetap dalam Ilmu Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unand dengan tema Green Chemistry: Perspektif Baru Dalam Sintesis Nanomaterial.

Ia menerangkan Green Chemistry mencakup semua cabang ilmu kimia yang berfokus pada proses sintesis senyawa kimia dan rekayasa metodenya serta aplikasi industri yang berbasis bahan alami.

"Prinsip green chemistry juga berkaitan dengan eksperimen laboratorium dan menciptakan lingkungan yang lebih aman," ujarnya.

Ia menambahkan penerapan green chemistry pada green sintesis nano logam yang merupakan proses sintesis untuk mengurangi bahan berbahaya baik dalam desain proses maupun produk kimia yang digunakan.

Green sintesis nano logam adalah bagian dari proses pembuatan nanopartikel dengan pendekatan dari bawah ke atas yang reaksi utama adalah proses reduksi.

Pada green sintesis nano partikel logam seperti perak, emas dan tembaga pereduksi alam yang digunakan berupa ekstrak tanaman khusus bagian akar, batang, kulit, buah dan bunga, ujarnya.

Ia memaparkan keuntungan penggunaan tanaman sebagai bioreduktor dalam sintesis nano partikel adalah banyak tersedia dan mudah didapat sehingga terhindar dari pengurangan bahan kimia berbahaya.

Berikutnya penerapan green chemistry dapat dilakukan pada pembuatan endapan kalsium karbonat atau Precipatated Calcim Carbonate PCC dengan menggunakan gas CO2 buangan.

PCC memiliki aplikasi yang luas diantaranya sebagai filler pada industri cat, pasta gigi, kertas, plastik, karet termasuk kosmetik obat dan makanan.

Saat ini aplikasi terbesar PCC masih didominasi untuk pengisi pelapis kertas sehingga dapat mereduksi pemakaian serat kayu lebih dari 20 persen, katanya.


sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA