Saturday, 4 Sya'ban 1441 / 28 March 2020

Saturday, 4 Sya'ban 1441 / 28 March 2020

Gara-Gara Covid-19, BI Koreksi Proyeksi Ekonomi 2020

Kamis 20 Feb 2020 15:51 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolanda

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dan para Deputi Gubernur menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur BI bulan Februari 2020 di Komplek Bank Indonesia, Kamis (20/2).

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dan para Deputi Gubernur menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur BI bulan Februari 2020 di Komplek Bank Indonesia, Kamis (20/2).

Foto: Republika/Lida Puspaningtyas
BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi 2020 sekira 5 persen sampai 5,4 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia mengoreksi sejumlah proyeksi ekonomi Indonesia pada 2020 karena pengaruh virus corona baru, Covid-19. Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan proyeksi tersebut telah memperhitungkan respons kebijakan BI dan pemerintah.

Baca Juga

"BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi 2020 akan lebih rendah, yaitu menjadi 5,0 persen-5,4 persen, dari prakiraan semula 5,1 persen-5,5 persen," kata Perry, di Komplek BI, Jakarta, Kamis (20/2).

Pertumbuhan ekonomi kemudian meningkat pada tahun 2021 menjadi 5,2 persen-5,6 persen. Revisi prakiraan ini terutama karena pengaruh jangka pendek tertahannya prospek pemulihan ekonomi dunia pasca meluasnya Covid-19.

Perry mengatakan penyebaran wabah akan memengaruhi perekonomian Indonesia melalui jalur pariwisata, perdagangan, dan investasi. Ia berkomitmen BI akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan Otoritas terkait guna memperkuat sumber, struktur, dan kecepatan pertumbuhan ekonomi.

"Termasuk di antaranya mendorong investasi melalui proyek infrastruktur dan implementasi RUU Cipta Kerja dan Perpajakan," katanya.

Secara lebih rinci, pengaruh Covid-19 terhadap ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai dua bulan dan perlu pemulihan hingga enam bulan setelahnya. Selama masa tersebut, akan terjadi penurunan skala ekonomi.

Seperti pada pariwisata, devisa pariwisata diproyeksikan akan terpengaruh sebesar 1,3 miliar dolar AS. Gangguan logistik akan berdampak sebesar 0,3 miliar dolar AS pada ekspor dan impor sebesar 0,7 miliar dolar AS.

Selain itu, sektor investasi juga akan terdampak, khususnya dari China, yakni sebesar 0,4 miliar dolar AS. Faktor-faktor ini yang menyebabkan BI merevisi proyeksi ke bawah. Perry menyampaikan penilaian ini akan terus diperbarui seiring dengan perkembangan yang terjadi.

"Kami juga koordinasi dengan pengusaha, importir melaporkan ada gangguan distribusi logistik, tapi mereka masih punya stok sekarang sehingga produksi tidak terganggu," katanya.

Ini membuat kondisi produksi dalam negeri tidak terganggu. Perry optimistis, Covid-19 punya pengaruh penurunan namun akan segera kembali pulih. Seiring dengan pemulihan yang dilakukan, maka aktivitas ekonomi global akan kembali normal. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA