Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Jurnalisme Telah Mati?

Kamis 20 Feb 2020 08:40 WIB

Red: Budi Raharjo

Halaman depan koran Republika edisi Kamis (20/02).

Halaman depan koran Republika edisi Kamis (20/02).

Foto: Republika
Media massa berbasis jurnalisme kini dihadapkan pada tantangan berat.

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh Irfan Junaidi, Pemimpin Redaksi Republika

Adakah masa depan? Itulah pertanyaan yang sedang menjadi mendung di dunia jurnalisme. Produk-produk informasi kini tidak lagi harus menumpukkan diri pada prinsip kerja dan nilai-nilai jurnalisme. Semua bisa memproduksi informasi dan dengan mudah mendistribusikannya melalui berbagai kanal yang kini tersedia.

Slogan bahwa pers adalah pilar keempat demokrasi lebih terdengar sebagai omong kosong daripada sebagai cermin dari kekuatan pers. Media massa berbasis jurnalisme kini dihadapkan pada tantangan berat. Eksistensinya tidak lagi sekuat dulu. Sebagian institusi media bahkan memilih untuk tidak lagi melanjutkan perjalanan.

Memegang sembilan elemen jurnalisme Bill Kovac tetaplah menjadi pilihan ideal bagi lembaga pers, meski tidak lagi terlalu populer. Elemen-elemen jurnalisme kini harus bertarung dengan algoritma mesin dalam menghadirkan informasi kepada masyarakat. Problemnya, kanal informasi yang kini tersedia lebih banyak memberikan ruang kepada algoritma daripada prinsip kerja jurnalisme.

Informasi yang disusun dengan proses dan standar kerja jurnalisme tidak serta-merta akan menarik minat publik untuk menikmatinya jika tidak mengikuti aturan main algoritma mesin. Sebaliknya, informasi yang disusun mengikuti cara kerja algoritma akan mendapatkan ruang yang lebih mudah diakses publik meski jauh dari standar kerja jurnalisme.

Namun, itulah keniscayaan perubahan yang terjadi dalam dunia informasi. Koran, radio, televisi, yang harus patuh pada prinsip kerja jurnalisme, mesti kreatif untuk bisa bertahan hidup dan berkembang. Media-media yang disebut konvensional ini harus berebut perhatian dengan media-media baru yang produksi kontennya tidak wajib memenuhi standar kerja jurnalisme.

Keduanya berebut perhatian di arena yang sama tapi dengan aturan main yang berbeda. Berat peluangnya bagi media berbasis jurnalisme untuk bisa memenangkan perebutan itu. Lihatlah, massa yang berkerumun di media-media baru, seperti blog, agregator konten, dan media sosial, sudah jauh lebih banyak dibandingkan dengan penikmat media konvensional. Kondisi ini memancing sebagian media berbasis jurnalisme mengubah haluan menjadi media yang menghamba pada algoritma.

Haruskah situasi seperti ini dibiarkan berkembang? Sebagian pihak telah menikmati situasi tersebut, bahkan telah mengeruk keuntungan besar darinya. Sebagian ekosistem jurnalisme mengalami nasib sebaliknya: kontennya diambil para agregator yang pandai memainkan algoritma, atau banyak juga diambil publik untuk memenuhi akun-akun media sosialnya.

Belum lagi, industri pers kini dihadapkan pada persaingan dengan platform-platform besar media sosial yang sangat kuat menyedot belanja iklan. Wajar sekali dunia korporasi lebih melirik platform tersebut untuk tampil karena memang memiliki daya jangkau yang sangat kuat dan luas terhadap publik. Kenyataan ini menjadi tantangan tersendiri bagi media berbasis jurnalisme untuk bisa survive.

Bagi masyarakat, kuatnya algoritma dalam menuntun pola konsumsi konten menyimpan kerawanan tersendiri. Algoritma tidak bisa membedakan informasi yang benar dan yang salah. Sejauh kata kunci yang disajikan bisa memenuhi cara berpikir mesin, maka konten itu akan menonjol untuk diakses. Di sinilah letak kerawanannya. Informasi yang benar bercampur dengan informasi keliru.

Sungguh melegakan komunitas pers, ketika Presiden Joko Widodo, menyatakan komitmennya untuk memberikan perlindungan pada ekosistem pers. Sampai saat ini, instrumen jurnalisme masih menjadi alat yang efektif untuk menguji kebeneran sebuah konten. Dunia pers masih bisa diharapkan sebagai sumber konten yang kebenarannya teruji.

Atas dasar inilah Republika menggaungkan seruan untuk kembali ke jurnalisme. Diharapkan kampanye ini bisa menjadi upaya penyadaran kepada publik bahwa ekosistem pers harus dijaga untuk menjadi panduan dalam menemukan konten-konten yang dihasilkan melalui standar kebenaran jurnalisme.

Perlindungan terhadap komunitas pers ini memerlukan komitmen dan dukungan semua pihak agar publik menjadi lebih sehat dalam mengonsumsi informasi. Hanya dengan informasi yang sehat, situasi kehidupan masyarakat akan menjadi sehat. Sebaliknya, konten hoaks yang berkeliaran akan menjadikan masyarakat menjadi tidak sehat.

Dorongan kembali ke jurnalisme ini diiringi juga oleh Republika dengan ikhtiar terus-menerus meningkatkan kualitas sajian informasinya. Selain harus memenuhi standar jurnalisme, sajian konten Republika juga akan senantiasa dilengkapi dengan konteksnya. Beberapa perubahan konten juga dijalankan untuk membuat konten sajian Republika menjadi relevan dengan diskursus masyarakat.

Republika tidak anti dengan berbagai jenis media baru. Justru hadirnya kanal baru yang beragam itu menjadi peluang besar untuk menjangkau publik secara lebih luas dengan konten yang dihasilkan melalui kerja jurnalisme. Kanal republika.id melengkapi platform yang selama ini telah dikembangkan oleh Republika. Lini baru tersebut menyajikan konten premium berbayar.

Komitmen dan dukungan berbagai pihak akan menjadi penentu bagi masa depan ekosistem jurnalisme di negeri ini. Kunci lainnya adalah profesionalisme lembaga pers dalam memegang teguh standar jurnalisme dalam menyajikan konten. Dua hal ini akan menjadikan ekosistem jurnalisme terus hidup menyehatkan kehidupan bangsa ini.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA