Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Laba Bersih BRI Agro Anjlok Hingga 75 Persen

Kamis 20 Feb 2020 07:20 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Nidia Zuraya

Bank BRI Agro

Bank BRI Agro

Foto: briagro.co.id
Penurunan kualitas kredit menjadi faktor utama laba BRI Agro terkoreksi pada 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (BRI Agro) mencetak laba bersih senilai Rp 51,06 miliar sepanjang 2019. Laba tersebut turun signifikan sebesar 75 persen secara tahunan.

Direktur Utama BRI Agro Ebeneser Girsang mengatakan penurunan kualitas kredit menjadi faktor utama laba perseroan terkoreksi pada tahun lalu. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) net tercatat berada Level 4,86 persen pada 2019, dan sebesar 1,78 persen pada 2018.

“Dua debitur kakap sektor properti dan agribisnis menyumbang 50 persen dari total kredit bermasalah dan 10 debitur lainnya turut menyumbang porsi NPL sebesar 10 persen,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (20/2).

Menurutnya ke-12 debitur tersebut berkontribusi sebesar 60 persen dari kredit bermasalah anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk pada 2019. Ke depan, Ebeneser menyampaikan perusahaan akan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit.

"Kami sudah melihat permasalahan 2019 kualitas kredit sangat menekan laba. Jadi, ada tantangan di beberapa debitur yang menggerus laba kami menjadi hanya tinggal Rp 50 miliar. 12 debitur ini mungkin bobotnya 60 persen terhadap NPL," katanya.

Ebeneser menyebut struktur pendanaan perseroan masih didominasi oleh dana mahal atau current account saving account (CASA) masih di bawah 20 persen. Hal tersebut menyebabkan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perseroan tertekan.

Adapun strategi pada 2020, lanjutnya, perusahaan akan mulai menggeser atau menambah porsi kredit ritel dan konsumer yang diharapkan dapat memberi yield yang lebih tinggi.

Kemudian perusahaan akan fokus mengembangkan digital banking. Saat ini cara konvensional yang sudah ada, BRI Agro akan menggunakan pendekatan digital, kerja sama produk digital loan perseroan, Pinjaman Tenang (Pinang) akan semakin diperluas.

“Pada tahun ini kami akan banyak melakukan penyempurnaan di fitur digital banking, di samping menambah alat transaksi, baru 2 tahun ini kami kembangkan internet banking, ke depan QR code, yang memang diperlukan untuk mengakselerasi CASA," jelasnya.

Pada 2019, perusahaan mencatat peningkatan total aset sebesar 16,10 persen secara year on year (yoy) dari sebesar Rp 23,31 triliun menjadi Rp 27,07 triliun. Pertumbuhan total aset tersebut ditopang oleh pertumbuhan penyaluran kredit yang tumbuh sebesar 23,58 persen yoy, dari sebesar Rp 15,67 triliun pada 2018 menjadi Rp 19,37 triliun pada 2019.

“Kontribusi sektor agribisnis yang menjadi fokus perseroan adalah salah satu penopang pertumbuhan penyaluran kredit perusahaan,” ucapnya.

Porsi penyaluran kredit kepada sektor agribisnis sendiri tercatat sebesar 56 persen dengan penyaluran terbesar pada komoditas kelapa sawit sebesar 81,22 persen kemudian kehutanan dan kayu sebesar 4,17 persen, gula sebesar 3,9 persen dan lain-lainnya sebesar 10,98 persen.

Dari sisi liabilitas, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun BRI Agro tercatat meningkat sebesar 17,05 persen yoy, dari senilai Rp 18,06 triliun menjadi Rp 21,14 triliun pada 2019. Komposisi DPK terdiri dari deposito sebesar 85,69 persen, sedangkan produk giro dan tabungan masing-masing memiliki komposisi sebesar 9,12 persen dan 5,18 persen terhadap total DPK.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA