Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

BPBD Bandung Barat: Longsor Tol Cipularang Skala Kecil

Rabu 19 Feb 2020 22:41 WIB

Red: Bayu Hermawan

Petugas berada di area pemasangan perkuatan lereng di KM 118 Tol Cipularang, Kabupaten Bandung Barat, Senin (17/2).

Petugas berada di area pemasangan perkuatan lereng di KM 118 Tol Cipularang, Kabupaten Bandung Barat, Senin (17/2).

Foto: Republika/Abdan Syakura
BPBD Bandung Barat mengatakan longsor di Tol Cipularang masih dalam skala kecil.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat mengungkapkan longsor susulan di bekas longsor yang terjadi di Kampung Hegarmanah atau disamping Km 118 Tol Cipularang relatif kecil. Longsor terjadi sekitar pukul 11.30 Wib dan diketahui salah seorang pekerja mengalami cedera akibat berusaha menghindar.

"Longsoran kecil," ujar Kepala BPBD Kabupaten Bandung Barat, Duddy Prabowo saat dihubungi, Rabu (19/2).

Duddy mengatakan jika longsor tidak mengarah ke jalan tol.  Hal senada disampaikan oleh Humas PT Jasa Marga, Nandang Elan. Ia mengatakan terjadi patahan kecil (pergerakan tanah) di jalur B arah ke Jakarta. Menurutnya, longsor susulan merupakan rekahan kecil bekas dari longsor.

"Ada rekahan sisi longsoran," katanya.

Nandang mengatakan gerakan tanah terjadi di lokasi longsoran yang terdapat genangan air.  Salah seorang pekerja bernama Kris, mengalami cedera saat menghindar dari longsor tersebut. "Pengemudi alat berat loncat saat melihat ada rekahan. Kakinya terkilir," katanya.

Upaya yang dilakukan kedepan, Nandang mengatakan terus melakukan perbaikan penguatan lereng.  Salah seorang pekerja, Iwan mengatakan tiap hari terjadi longsor susulan dengan skala kecil. Menurutnya, longsor susulan memiliki lebar 9 meter dan tinggi sekitar 3 meter.

"Tadinya saya mau benerin terpal yang kebawa longsor tapi untungnya belum ke sana," ujarnya.

Sebelumnya, Pusat Vulkanologi, Mitigasi Bencana dan Geologi (PVMBG) merekomendasikan agar PT Jasa Marga melakukan pengurangan atau pembatasan beban kendaraan di Km 118+600B Tol Cipularang. Sebab, dilokasi tersebut atau di Kampung Hegarmanah, Desa Sukatani, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat telah terjadi longsor.

Ketua tim pergerakan tanah PVMBG, Anjar Hariwaseso mengatakan gerakan tanah terjadi di lereng badan jalan tol Cipularang yang terjadi pada Selasa (11/2) lalu. Menurutnya, berdasarkan kajian kondisi longsor tersebut mengancam badan jalan pada tol Cipularang.

"Selama dilakukan penanganan mitigasi struktural penahan lereng perlu dilakukan
pembatasan beban kendaraan di jalan tol," ujarnya melalui keterangan pers yang diterima, Selasa (17/2).

Ia mengatakan, longsor atau gerakan tanah disebabkan sistem drainase yang tidak berfungsi karena tersumbat, kondisi lahan disekitar yang merupakan lahan basah. Katanya, gerakan tanah terjadi diantaranya karena kelerengan yang curam dan banyak tekuk lereng merupakan jalur air serta tanah pelapukan yang tebal.

Menurutnya, peristiwa longsor pada 2019 dibagian Utara jalan Tol menyebabkan saluran tersumbat sehingga menimbulkan terjadinya genangan air. Katanya,
rembesan genangan air yang mengakibatkan meningkatnya muka air tanah dan tekanan pori. Sehingga tahanan lereng menjadi lemah.

"Hal ini membuat kondisi tanah dan batuan menjadi jenuh air yang menyebabkan bobot masanya bertambah dan kuat gesernya menurun, tanah
tidak stabil dan mudah bergerak," ungkapnya.

Ia menambahkan, material longsor yaitu tanah dan lumpur mengakibatkan 2 rumah rusak, 3 hektar sawah rusak dan penduduk di bagian bawah terdiri 80 kepala keluarga (KK).

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA