Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Islam

Anggota BPUPKI AR Baswedan: Siapa Musuh Pancasila?

Kamis 20 Feb 2020 05:03 WIB

Red: Muhammad Subarkah

AR Baswedan bersama H Agus Salim

AR Baswedan bersama H Agus Salim

Foto: Wikipedia
Tulisan AR Baswedan tentang Pancasila

Oleh: A.R. Baswedan, Anggota BPUPKI, Menteri Muda Penerangan di awal kemerdekaan, Pahlawan Nasional.

Dalam kampanye untuk Pemilihan Umum (1955) seringkali terdengar ucapan-ucapan yang berisi tuduhan-tuduhan terhadap gerakan-gerakan Islan, dengan sindiran maupun dengan terang-terang, yang maksudnya menimbulkan kekuatiran rakyat terhadap nasibnya Pancasila sebagai dasar negara oleh ideologi gerakan-gerakan Islam itu.

Pidato Saudara Mohammad Natsir dalam peringatan Nuzulul Quran baru-baru ini (dimuat di majalah Hikmah  26 Ramadhan 1373/29 Mei 1954 dengan judul: "Bertentangankah Pancasila dengan Al-Qur'an?") cukup rasanya untuk menangkis tuduhan-tuduhan itu. Dan lebih dari cukup untuk memberi pengertian pada siapa yang memang menghendaki pengertian yang sebenarnya.

Meskipun begitu, kita duga tuduhan-tuduhan demikian masih akan terdengar terus,  justeru dari mereka yang pada hakikatnya memeluk paham dan cita-cita yang mustahil dapat disesuaikan dengan prinsip-prinsip Pancasila. Paham-paham yang sebenarnya mengancam prinsip-prinsip Pancasila, terutama dari pihak yang apriori tidak mungkin bisa menerima sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa!

Jika Pancasila toh mereka pertahankan, itulah untuk dijadikan alat popular guna menentang ideologi Islam, untuk merusak pengertian-pengertian rakyat tentang ajaran-ajaran Islam yang dimiliki oleh umumnya rakyat. Dan yang karena adanya ajaran-ajaran Islam itulah maka prinsip-prinsip Pancasila itu --sebelum lahirnya Pancasila-- telah menjadi filsafat hidup bangsa Indonesia umumnya! Walaupun umum bangsa kita itu tidak dapat merumuskannya dalam kata-kata yang dipakai dalam perumusan Pancasila itu.

Riwayat terjadinya perumusan Pancasila dapat  menceritakan bahwa kalau Pancasila itu dikatakan suatu hasil kompromis di antara beberapa pihak yang  berbeda-beda ideologi, toh bagi pihak Islam tiada satupun dari sila-sila yang lima itu yang tidak dapat diterimanya! Terutama atas dasar keyakinan bahwa sila yang pertama itu, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah sebagai dasar daripada sila-sila yang lain.

Kompromi yang dicapai sewaktu membuat perumusan Pancasila kita rasa hanya dalam hal tidak memberi tafsiran dan penegasan tentang Pancasila itu, sehingga selama ini masing-masing pihak memberi tafsiran menurut paham dan keyakinannya sendiri.

Oleh sebab itu maka apa yang kemudian timbul dari macam-macam pendapat dan tafsiran tentang Pancasila, umumnya timbul dalam kalangan-kalangan di luar kalangan yang berideologi Islam. Yaitu kalangan-kalangan yang berikhtiar untuk mengisi Pancasila itu dengan pengertian yang pada hakikatnya tidak bisa mendapat dasar kuat dan asli di dalam jiwa bangsa Indonesia, yaitu jiwa-religieus, seperti pernah diterangkan oleh Presiden Sukarno dalam pidatonya di Yogyakarta ketika menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada.

Supaya lebih jelas, marilah pembaca ikuti tinjauan di bawah ini tentang pendapat-pendapat sekitar Pancasila.

Pancasila Tidak Dimengerti

Itu sebabnya maka Pancasila meskipun sudah berusia beberapa tahun, namun --jangankan di kalangan rakyat-- beberapa kalangan intelektual sendiri menyatakan "tidak mengerti" Pancasila. Ini aneh kedengarannya. Tapi cobalah saya kutip di bawah ini apa yang dikatakan oleh Moh. Said dalam simposium yang dihadiri oleh seorang sebagai Prof. Dr. Imam Santoso pada tanggal 25 dan 27 April 1952 di Jakarta dengan acara: "Kesulitan-kesulitan dalam Masa Peralihan Sekarang Ditilik dari Sudut Ilmu Jiwa."

Moh. Said antara lain berkata: "Tentang Saudara Widjaja, apakah Pancasila menjadi levenbeschouwing bangsa kita, saya rasa kita sendiri yang termasuk golongan yang berpikir, pada umumnya tidak mengerti apa Pancasila itu, apalagi rakyat. Oleh karena itu, Pancasila harus ditegaskan lebih dulu "

Sedang Prof. Mr. Sutan Takdir Alisjahbana dalam suatu pertemuan Perhimpunan Pendidikan Indonesia di Bandung, 27 Desember 1950, telah mengatakan: "bahwa Pancasila hanyalah kumpulan faham-faham yang berbeda-beda untuk menenteramkan semua golongan pada rapat-rapat."

Malah menurut buku penerbitan Kementerian Penerangan, dari mana dikutip beberapa pernyataan di atas (setelah menerangkan pendapat beberapa pihak yang menyetujui Pancasila) bahwa itu "berlainan dengan yang lain-lain yang mengatakan Pancasila itu kacau, kepalang tanggung, tidak jelas, dan sebagainya."

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA