Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Kemenkes: Belum Ada Bukti Secara Ilmiah Pengobatan Covid-19

Rabu 19 Feb 2020 18:27 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Seorang perawat mengecek kondisi pasien yang terjangkit virus corona.

Seorang perawat mengecek kondisi pasien yang terjangkit virus corona.

Foto: Chinatopix via AP
Virus Covid-19 baru ditemukan akhir Desember 2019 dan masih dalam penelitian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto menjelaskan bahwa belum ada bukti ilmiah terkait pengobatan untuk penyakit Covid-19.

Yurianto mengatakan di Jakarta, Rabu (19/2), virus Covid-19 merupakan virus yang baru ditemukan akhir Desember 2019 atau baru sekitar dua bulan dan masih dalam proses penelitian untuk mempelajari karakter virus tersebut.

"Ada yang bilang pakai curcuma, air hangat dan lain-lain, tidak ada alasan ilmiah yang kita bisa sampaikan terkait hal ini. Karena belum bisa dijelaskan secara ilmiah, tentunya belum bisa dijadikan acuan untuk pengobatan," kata Yurianto.

Hingga saat ini berbagai peneliti tengah berhimpun untuk mempelajari karakteristik virus Covid-19 dengan tujuan agar bisa mengembangkan vaksin dan obat terhadap penyakit tersebut.

Virus Covid-19 ini pun juga masih mungkin untuk bermutasi di tiap daerah yang berbeda dengan iklim berbeda pula. Saat ini para ahli di bawah naungan WHO berkumpul untuk berusaha cepat memahami virus tersebut.

"Yang pasti saat ini belum ada obat atau vaksin yang bisa digunakan. Spesisifk di Indonesia, kita belum memiliki sampelnya di Indonesia. Oleh karena itu tidak banyak yang bisa kita diskusikan mengenai vaksin dan obat, rumor mengenai itu kami tidak bisa menjawab secara ilmiah," kata Yurianto.

Berdasarkan data resmi WHO per tanggal 18 Februari 2020 jumlah orang yang terinfeksi sebanyak 73.332 kasus di 26 negara secara global. Total kematian yang terjadi di Cina sebanyak 1.870 orang dan tiga orang di luar Cina.

Kasus infeksi positif virus Covid-19 yang terjadi di luar Cina paling banyak terjadi di atas Kapal Pesiar Diamond Princess yaitu sebanyak 454 orang positif. Dari total tersebut, sebanyak tiga orang WNI positif dan 75 WNI lainnya yang merupakan ABK kapal pesiar tersebut sedang menjalani masa karantina oleh pemerintah Jepang.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA