Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Islam

Ingat Mahfud MD dan Azhar Basyir: Islam Lawan Pancasila?

Kamis 20 Feb 2020 04:31 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Santri tengah mengaji.

Santri tengah mengaji.

Foto: troppen musseum
Lawan Melawankan Agama (Islam) dan Pancasila adalah hal yang basi

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika.

Selasa malam lalu, perdebatan talk show Indonesia Lawyer Club (ILC) bertajuk 'Agama Musuh Besar Pancasila' memang terasa nikmat. Ada yang kalem ada yang marah-marah. Ada yang fokus dan ada yang muter nyari pembenaran. Masalah pokoknya kadang kabur dan timbul- tenggelam lewat permainan gimmik para politisi. Lucu.

Harus diakui bintangya debat itu setidaknya dua orang, yakni sejarawan Anhar Goggong dan Mahfud MD. Kedua tokoh ini menunjukkan kelasnya. Anhar tetap seperti biasa tenang dan dingin ketika mengurai sejarah. Mahfud yang terakhir ini sering kami anggap memberikan 'lucuan aneh', dan kadang penuh trik politisi — misalnya soal salah ketik di draft Omnibus Law — semalam menunjukan kedalaman ilmunya tentang soal-soal ketatanegaraan. Mahfud malam itu tampil ciamik.

Nah, apa yang dikatakan Mahfud malam itu benar adanya. Agama (Islam) dan Pancasila tidak usah dilawankan atau dianggap berlawanan. Apalagi soal ini sudah tuntas di bahas di era 80-an, ketika membahas asas tunggal.

Lagi pula apa yang dikatakan Mahfud sebangun dengan apa yang dikatakan mendiang dosen kami yang pernah menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah, KH Ahmad Azhar Basyir. Kebetulan Mahfud dan saya pernah diajar dia. Bahkan khusus dengan Pak Azhar, sosok beliaulah yang dahulu meluluskan Mahfud ketika ikut seleksi sebagai calon dosen. Saya kala kuliah memang sekilas diajar Mahfud, tapi cukup lama beberapa semester di ajar Pak Azhar Basyir.

Hubungan Mahfud sampai kini pun terasa emosional karena saya adalah yuniornya saat ikut mengurus majalan Himmah di UII Yogyakarta. Lebih khusus lagi Mahfud saat jadi Menteri Pertahanan di era Gus Dur juga datang ketika dua dasa warsa silam saya menikah. Kala itu juga beberapa kali keliling mengunjungi berbagai pesantren dengan naik helikopter ke seputaran di Jawa Timur.

Pada hari pertama Mahfud diumumkan sebagai menteri oleh Gus Dur, saya pun ke rumah sewanya yang mungil di bilangan 'pojok dalam' kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Itu wawancara pertama saya ketika Mahfud menjadi menteri. Perjumpaan terakhir dengannya pada waktu beberapa hari sebelum ditunjuk jadi Menkopolkam, yakni pada acara diskusi soal Pembaruan Pemilu di Indonesia yang diselengarakan KAHMI. Di sana ada Prof DR Siti Zuhro, Akbar Tanjung, abangda Erwin Moeslimin Singajuru(mantan angota DPR), DR Alvan Alfian (Unas), Asrul Sani (DPR PPP), dan banyak tokoh lainnya.

Adanya hubungan Mahfud dengan Azhar Basyir itulah, ketika dia bicara soal hubungan agama dengan Pancasila ingatan sekaligus emosi saya langsung kembali kepada cara Pak Azhar Basyir bicara ketika memberikan kuliah tentang hukum politik Islam. Jejak mendiang pikiran Azhar ada di sana,”Negara Indonesia adalah negara Islam. Pancasila itu Islami dan tak perlu dipertentangkan,’’ tegas Pak Azhar yang terus terngiang hingga kini.

Dahulu, ketika bicara sampai soal ini kemudian Pak Azhar menyapu pandang kepada para mahasiswa  yang ada di depannya. Dia kemudian berkata siapa  yang akan bertanya terkait soal hubungan Islam dan dasar negara Pancasila. Sesaat semua terdiam. Tak ada yang bertanya. Ruang kuliah sunyi sepi. Senyap.

Sembari tetap berdiri di samping meja, beliau kemudian menyitir ayat Alquran yang kurang lebih artinya: Taatlah kamu kepada Allah dan Rasul serta ‘ulil amri’ (pemimpin) kamu sekalian. Khusus kepada pemimpin, lanjut dia, harus ditaati sepanjang tidak mengajak sesat dan melakukan kemaksiatan. Selanjunya Pak Azhar bicara kaidah sebuah kekuasaan dalam Islam yang harus melindungi Jiwa, keluarga (keturunan), harta benda, agama, dan hal esensial lainnya.

Nah, ketika tidak ada yang berani bertanya, saya lalu angkat tangan untuk bicara.’’Bagaimana kalau ulil amri-nya (presidennya) negara Indonesia bukan beragama Islam Pak? Apakah wajib taat?”

Mendengar pertanyaan saya itu Pak Azhar sekilas terlihat tersenyum, sembari melangkahkah kaki mendekat tempat duduk mahasiwa yang ada di tengah yang kosong. Beliau tak langsung menjawab. Malah kemudian menggebrak tempat duduk yang menjadi alas kursi itu.

‘’Yang bodoh itu kamu kalau itu terjadi. Kamu tidak bisa berpolitik,’’ kata Pak Azhar sembari menunjuk satu persatu ke arah muka mahasiswanya yang ada di dekatnya. Dia kemudian menasihatkan agar kelak pintar-pintarlah —umat Islam— berpolitik.

                         ****

Dan bila pada malam itu Mahfud MD bicara seperti itu jejaknya --sekali lagi-- saya yakin ada pun di sana, yakni pada sosok Azhar Basyir. Sebagai anak kyai dan anak pesantren yang kemudian sekolah di Mesir, Pak Azhar pasti dalam keilmuannya. Sosok nasionalisme dia juga tak diragukan, karena dia ikut berjuang di zaman revolusi kemerdekaan sebagai anggota Lasykar Hizbullah. Para mahasiswa -- terutama yang akan maju ujian skripsi --selalu segan kepadanya meski penampilannya sangat sederhana, berpeci, berkaca mata tebal, dan setiap mengajar menenteng tas kulit dan buku-buku. Khas seorang guru.

Dan manakala menjadi pengajar filsafat dan hukum Islam di UII, IAIN, dan UGM jejak keilmuannya juga terbukti. Berbagai tulisan mengenai hubungan Islam dan politik serta persoalan hukum Islam lainnya ditulisnya. Karya keilmuan Pak Azhar Basyir tersebar dalam bentuk artikel, diktat kuliah, hingga buku. Salah satunya kemudian dalam sebuah buku kompilasi beberapa tulisannya yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Mizan, Bandung, di awal tahun 1990-an.

Selain itu apa yang dikatakan mendiang ‘guru kami’ Pak Azhar Basyir tersebut juga sebangun dengan apa yang dikatakan Pak AR Fachruddin selaku Ketua Muhammadiyah pada saat itu. Kata beliau dalam sebuah pengajian di serambi Masjid Besar Kauman Jogjakarta, Pak AR juga mengatakan tak usah lagi dipersoalkan atau dilawankan hubungan Pancasila dan agama. Sebab, semua sudah selesai.

‘’Ibarat gampang begini saja. Pancasila itu seperti helm. Kalau kita tengah naik motor ya wajib pakai helm. Kalau di rumah dan tengah duduk santai sarungan ya helm jangan dipakai. Saru dan lucu,’’ kata Pak Ar Ringan sembari disambut tawa para pendengar pengajiannya. Semua tahu Pak AR memang sederhana dan 'nglaras' hidupnya. Bayangkan saja, meski ketua umum PP Muhammadiyah sangat dekat dengan Pak Harto, di rumahnya yang kini menjadi kantor PP Muhammadiyah di Yogyakarta dia jualan bensin. Dia pun tak sungkan melayani pembeli eceran bensin secara lanngsung.

''Pak AR, bapak kost saya memang hebat. Dia begitu itu dan tetap saja sederhana, meski sangat dekat dengan Pak Harto. Ditawari jadi menteri ditolak. Di tawari mobil ditolak. Dia milih ke mana-mana boncengan naik sepeda motor yang butut. Selain sederhana dia lucu. Dialah yang meminta agar Pak Harto menyumbang dana untuk pendirian UMY. Uniknya, dengan surat berbahasa Jawa kromo, permintaannya langsung disetujui. Saya lihat sendiri dan sering terima telepon dari orang penting agar disambungkan ke Pak AR,'' kisah Syaefuddin Simon, mantan wartawan Republika yang sempat indekost di rumah Pak AR beberapa tahun lamanya. Kala itu Simon mahasiswa MIPA UGM. Kamar kostnya juga tak beda dengan kamar putra Pak AR, Mas Fauzi, yang kala itu kuliah di Fakultas Kedokteran UGM.

Tak hanya itu, di waktu lain semasa memberikan ceramah Ramadhan ing Kampus di Gelanggang Mahasiwa UGM pada subuh hari Pak AR juga memberikan saran hubungan agama dan negara harus disikapi dengan santai saja. Jangan terlalu dan serba rasional. Hingga terasa kaku seperti harus sangat ilmiah alias tanpa rasa.

‘’Ingat ya kalian mahasiswa, dalam beragama jangan terlalu rasional. Contohnya begini, ada yang bertanya kepada saya kenapa shalat Subuh dua rakaat, Padahal seharusnya kan 10-15 rakaat karena sekalian berolahraga pagi supaya sehat?’’ kata Pak AR bertanya.

Namun pertanyaan di depan jamaah itu kemudian dia jawab sendiri.’’Ya karena tak bisa jawab, kemudian si-mahasiwa mencari jawabannya sendiri memakai dalil rasionalitas. Katanya, ini karena binatang yang paling pagi bangun adalah ayam. Ayam kebetulan itu kakinya dua. Maka itulah yang membuat shalat Subuh hanya dua rekaat, Nah jawaban ini meski rasioanal tapi tak benar,’’ kata Pak AR. Lagi-lagi tamsil Pak AR sangat mengena sekaligus jenaka.

Alhasil, bila pada Selasa malam lalu, ILC masih membahas soal lawan melawan dan musuh memusuhi  agama dengan Pancasila, maka itu hendaknya disikapi hanya sekedar lucuan. Sebab, itu kisah basi. Bahkan omongan pembicaranya banyak yang ngelantur basi pula karena mengulang dan terkesan Islamophobia. Apalagi disertai emosi, muka tegang, dan bicara tak keruan. Dan wajar bila di akhir tayangan Karni Ilyas sempat meminta maaf kalau pemirsa melihat yang tak elok di mata.

Maka lamat-lamat, lagi-lagi saya terus terkenang wajah Pak Azhar Basyir ketika Mahfud MD bicara. Juga ketika Pak Anhar Gonggong menyampaikan rasa pedihnya atas adanya stetmen bahwa ‘agama lawan terberat Pancasila’. Dalam soal ini pun lagi-lagi saya teringat wajah dan sosok mendiang sejarawan Yogyakarta, Mas Adaby Darban, yang dahulu tinggal di kawasan belakang Masjid Besar Kauman. Pada suatu siang dia sempat berkata: melawankan agama dengan Pancasila adalah orang yang tak tahu sejarah Indonesia!



`

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA