Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Terima Peragi, Mentan Syahrul: Jangan Berhenti pada Teori

Rabu 19 Feb 2020 13:45 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Syahrul Yasin Limpo saat menerima Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi), Selasa (18/2) di Agriculture War Room (AWR) Kementerian Pertanian

Syahrul Yasin Limpo saat menerima Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi), Selasa (18/2) di Agriculture War Room (AWR) Kementerian Pertanian

Mentan Syahrul meminta peran dan kontribusi Peragi harus strategis dan implementatif

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Membangun pertanian adalah tanggung jawab bersama. Membutuhkan kerja-kerja kolaboratif dan ego sektoral harus ditanggalkan.

Hal itu disampaikan Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo saat menerima Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi), Selasa (18/2) di Agriculture War Room (AWR) Kementerian Pertanian.“Peragi jangan berhenti pada tataran teori. Peran dan kontribusi Peragi harus strategis dan implementatif. Kementan bagaimanapun membutuhkan input dan saran. Kita tidak bisa bekerja dan berjalan sendiri,” kata Syahrul.

Saat ini, menurut Mentan Syahrul, dunia pertanian dihadapkan pada tantangan sekaligus peluang terkait wabah virus Corona. Karena, menurutnya, salah satu raksasa dunia di bidang pertanian, China sedang mengalami tekanan ekonomi yang luar biasa.

“Laporan yang saya terima, pertumbuhan ekonomi China di tahun ini diprediksi 5,2 persen. Dan ini dipastikan akan berdampak pada negara-negara lain. Ini harus kita antisipasi bersama. Bagaimana kita bisa membuka peluang, pasar internasional baru bagi produk pertanian kita atau bahkan kita memenuhi  kebutuhan pangan dari dalam negeri,” katanya.

Senada dengan Mentan Syahrul, Ketua Peragi, Andi Syakir mengemukakan bahwa pengembangan komoditas subsitusi impor menjadi hal yang penting untuk segera dilakukan dalam rangka mengurangi ketergantungan kepada negara lain.

“Peragi mencatat setidaknya ada 15 komoditas pangan strategis yang saat ini masih bergantung kepada impor dengan angka ketergantungan 30 sampai 100 persen. Termasuk didalamnya adalah bawang putih, gandum, gula, dan sebagainya. Komoditas tersebut sejatinya dapat dihasilkan dari sumberdaya dalam negeri, beberapa bisa dilakukan substitusi. Kuncinya adalah pewilayahan, dukungan sarana produksi, pembiayaan KUR dan penerapan teknologi yang tepat,” kata Andi Syakir.

Peragi sendiri merupakan organisasi profesi ahli agronomi yang didirikan pada tanggal 9 Agustus 1977 di Bogor, memiliki jejaring luas di setiap provinsi dan kabupaten di Indonesia. Anggota PERAGI berasal dari para peneliti dari perguruan tinggi dan lembaga litbang, birokasi pusat dan daerah, pelaku bisnis swasta, dan juga pelaku wirausaha. Termasuk para pioner wirausaha industri Star Up yang didukung oleh generasi milenial.
Pada kesempatan itu juga, Mentan Syahrul dikukuhkan oleh Peragi menjadi anggota kehormatan dengan penyematan pin emas Peragi. “Terima kasih dan saya mengapresiasi. Sungguh ini benar-benar sebuah kehormatan. Kita buat dan segera bahas bagaimana konsepsi untuk mencari solusi itu. Bagaimana menyediakan 300 ribu ton daging dan gula yang selama ini masih kita datangkan dari luar negeri,” pungkas Syahrul.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA