Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Holding BUMN Semen Endus Praktik Predator Pricing

Rabu 19 Feb 2020 07:30 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya

Pekerja melakukan bongkar muat semen kedalam kapal di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Jumat (14/2/2020).

Pekerja melakukan bongkar muat semen kedalam kapal di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Jumat (14/2/2020).

Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Praktik predatory pricing diduga dilakukan oleh produsen semen asing.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah satu penyebab anjloknya harga semen nasional ditengarai karena adanya persaingan pasar yang tidak sehat. Direktur Utama Semen Indonesia Grup (SIG), Hendi Priyo Santoso mengendus adanya praktik predatory pricing yang dilakukan oleh para perusahaan pabrik asing yang ada di Indonesia dan juga gempuran semen impor.

Hendi menlaporkan predatory pricing ini memang sengaja dilakukan karena secara perhitungan harga beli bahan baku dan harga jual di pasar tidak logis. Ia mencontohkan kasus pembelian klinker (bahan baku setengah jadi semen, red) yang dilakukan oleh perusahaan semen Conch kepada Indocement.

"Conch membeli klinker dari Indocement. Mereka beli dengan harga Rp 600 ribu. Tapi kemudian dijual lagi ke pasar seharga Rp 630 ribu," ujar Hendi di Komisi VI DPR RI, Selasa (18/2) malam.

Hendi pun menjelaskan margin Rp 30 ribu tersebut tidak mungkin terjadi karena, secara proses pengolahan klinker juga membutuhkan ongkos produksi. Belum lagi proses penggilingan, pengemasan dan juga margin distributor serta retail.

Baca Juga

"Ini nggak masuk akal, kok bisa mereka jual dengan selisih harga Rp 30 ribu itu," ujar Hendi.

Padahal, menurut Hendi harga jual semen yang ada di Indonesia saat ini merupakan harga jual yang paling murah jika dibandingkan dengan harga semen yang ada di wilayah regional.

Ia menjelaskan harga jual rata rata di China saja sudah mencapai 100 dolar AS per ton. Sedangkan di Indonesia saat ini memasang harga 52 dolar AS per ton.

"Jadi kalau di luar China bisa jual lebih murah. Kami lihatnya ini indikasi dumping. Ini sudah terjadi, industri yang sudah terdampak, baja, kaca dan keramik kan," ujar Hendi.

Ia berharap pemerintah bisa mengambil langkah strategis untuk bisa mengatasi persoalan predatory pricing ini. Harapannya, dengan langkah strategis pemerintah bisa mengembalikan iklim pasar yang sehat.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA