Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Adaro Catatkan Kenaikan Produksi pada 2019

Selasa 18 Feb 2020 13:45 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya

Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk Garibaldi Thohir.

Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk Garibaldi Thohir.

Foto: Republika/Prayogi
Kenaikan produksi Adaro ditopang meningkatnya permintaan batu bara di dalam negeri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Adaro Energy, Tbk sepanjang 2019 kemarin mencatatkan kenaikan produksi. Perusahaan memproduksi sebesar 58,03 juta ton batu bara atau naik tujuh persen dibandingkan produksi tahun 2018.

Presiden Direktur Adaro Energy, Garibaldi Thohir tak menampik kondisi harga batu bara di pasar global memang sempat terpukul pada tahun lalu. Kondisi market yang banyak tantangan membuat kondisi harga batu bara di pasar dunia mengalami penurunan karena ketidakpastian global.

"Melemahnya ekonomi global, ketidakpastian kebijakan pemerintah, ketegangan perdagangan AS-China dan penurunan harga gas alam cair adalah beberapa faktor yang melemahkan pasar pada tahun ini," ujar Garibaldi di Jakarta, Selasa (18/2).

Meski dalam tekanan, Garibaldi menjelaskan perusahaan tetap bisa produktif dan mengalami kenaikan produksi. Kenaikan produksi ini didukung oleh permintaan global yang meningkat dan juga permintaan dalam negeri yang naik hingga 20 persen.

"Walaupun harga mengalami tekanan, perdagangan global batu bara termal naik sampai melebihi 1 miliar ton. Permintaan terhadap batu bara sub-bituminus Indonesia dari negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Malaysia dan Filipina meningkat berkat tingginya permintaan listrik untuk memenuhi penambahan kapasitas PLTU baru. Permintaan dari pasar domestik Indonesia juga melonjak 20 persen dengan sektor industri sebagai salah satu kontributor terbesar pertumbuhan tersebut," ujar Garibaldi.

Kenaikan produksi ini kemudian mendukung perusahaan untuk bisa menambah volume penjualan pada 2019 kemarin. Tercatat, pada 2019 kemarin total volume produksi perusahaan mencapai 59,18 juta ton atau naik sembilan persen dibandingkan 2018.

"Para pelanggan terus mencari envirocoal karena mereka mengakui dan menghargai kandungan polutannya yang rendah serta keandalan suplai Adaro Energy. Penjualan ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, meliputi 42 persen dari total volume penjualan tahun 2019," ujar Garibaldi.

Meski dalam kondisi yang tertekan, perusahaan meyakini bahwa kedepan proyeksi harga dan kondisi pasar masih menjanjikan. Secara jangka panjang, katanya masih banyak pasar khususnya di Asia Tenggara dan Selatan yang terus meningkatkan sektor ketenagalistrikannya.

"Perusahaan tetap yakin dengan fundamental jangka panjang pasar batu bara, yang mendapat dukungan dari wilayah Asia Tenggara dan Selatan seiring upaya mereka mengejar pembangunan ekonomi dan meningkatkan sektor ketenagalistrikan," ujar Garibaldi.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA