Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Surat Maryam, Kisah Permohonan Nabi Zakaria Dikaruniai Anak

Selasa 18 Feb 2020 13:00 WIB

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Fakhruddin

Surat Maryam, kisah permohonan Nabi Zakaria dikaruniai anak. Foto: Takwa (ilustrasi).

Surat Maryam, kisah permohonan Nabi Zakaria dikaruniai anak. Foto: Takwa (ilustrasi).

Foto: alifmusic.net
Nabi Zakaria melirihkan suaranya dalam berdoa karena kecintaannya kepada Allah SWT.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Dalam Alquran Allah SWT selain menjelaskan masalah akidah, ibadah, hukum dan muamalah juga menjelaskan tentang bagaimana Allah memberikan satu rahmat-Nya kepada hamba yang sabar atas ujian. Salah satu hamba Allah yang sabar menerima ujian adalah Nabi Zakaria seperti diabadikan dalam surah Maryam ayat 2. "Yang dibacakan ini adalah penjelasan tentang rahmat Tuhah-Mu kepada hamba-Nya Zakaria,"  

Nabi Zakaria diuji Allah SWT tak memiliki anak sampai usianya lanjut, karena istrinya merupakan seorang yang mandul.  Namun, ujianya itu tidak membuat Nabi Zakaria kecewa dalam berdoa. "Dia (Zakari) berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah lemah dan kepala ku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadamu ya Tuhanku," Alquran Surah Maryam Ayat 4. 

Atas kesabaran Nabi Zakaria dalam berdoa, Allah mengabulkan permohonannya,  Allah mengabari Nabi Zakaria, bahwa istrinya akan melahirkan seorang anak bernama Yahya yang kelak merupakan seorang nabi. Tentang hal ini sebelumnya belum pernah Allah berikan selain kepada Zakaria.

Bagaimana komunIkasi Nabi Zakaria dengan Allah tentang diinformasikannya bahwa Zakaria akan dikarunia putra bernama Yahya. Berikut rincian ayat yang mengabadikan percakapan Nabi Zakari dengan Allah SWT di dalam Surah Maryam ayat 4 sampai 10.

"Yaitu ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut." Ayat 3.

"Dia Zakaria berkata Ya Tuhanku sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadamu ya Tuhanku," ayat 4.

"Dan sungguh aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalanku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu." Ayat 5.

"Yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Yakub dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridhoi." Ayat 6.

"Allah berfirman wahai Zakaria! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki. Namanya Yahya, yang kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya." Ayat 7.

"Dia Zakaria berkata. "Ya Tuhanku, bagaimana aku akan mempunyai anak, padahal istriku seorang yang mandul dan aku sendiri sesungguhnya sudah mencapai usia yang sangat tua?" Ayat 8.

"Allah berfirman, "Demikianlah." Tuhanmu berfirman, "Hal itu mudah bagi-Ku, sesungguhnya, engkau telah aku ciptakan sebelum itu, padahal pada waktu itu engkau belum berwujud sama sekali." Ayat 9.

"Dia Zakari berkata "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda. "Allah berfirman, "Tandamu ialah engkau tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal engkau sehat." Ayat 10. 

Menurut Tafsir Ibu Katsir, Zakaria adalah seorang nabi yang besar dari kalangan nabi-nabi kaum Bani Israil. Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan bahwa Zakaria adalah seorang tukang kayu; dia makan dari hasil kerja tangannya sendiri menjadi tukang kayu.

Sebagian kalangan ulama tafsir mengatakan bahwa sesungguhnya Zakaria melirihkan suaranya dalam berdoa agar dalam permohonannya ini dia tidak dituduh sebagai orang yang lemah karena usianya telah lanjut, sebab ia meminta agar dikaruniai seorang putra. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Al-Mawardi.

Ulama lainnya mengatakan, sesungguhnya Zakaria melirihkan suaranya dalam berdoa karena kecintaannya kepada Allah SWT, seperti yang dikatakan oleh Qatadah sehubungan dengan makna ayat ini: Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. (Maryam: 3) Sesungguhnya Allah mengetahui kalbu orang yang bertakwa, dan mendengar suara yang perlahan.

Sebagian ulama Salaf mengatakan, Zakaria bangun di tengah malam, sedangkan semua muridnya telah tidur; lalu dia berbisik kepada Tuhannya seraya berdoa dengan suara yang lembut. Maka Tuhannya berfirman ke­padanya, "Kupenuhi seruanmu, Kupenuhi seruanmu, Kupenuhi seruanmu."

Tiada suatu kisah pun yang menyebutkan bahwa Zakaria mempunyai harta, bahkan dia adalah seorang tukang kayu, yang makan dari hasil keringatnya sendiri. Orang yang bermatapencaharian seperti itu tidaklah banyak memiliki harta, terlebih lagi seorang nabi, karena sesungguhnya para nabi adalah orang yang paling berzuhud terhadap duniawi.

Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan melalui berbagai jalur, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda. "Kami para nabi tidaklah diwarisi, semua yang kami tinggalkan adalah sedekah." 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA