Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Tolak Pembelian Participating Intrest PT PCI oleh Pertamina

Selasa 18 Feb 2020 12:36 WIB

Red: Agus Yulianto

Fasilitas minyak PT Chevron Pacific Indonesia di daerah Minas yang masuk dalam Blok Rokan di Riau, Rabu (1/8).

Fasilitas minyak PT Chevron Pacific Indonesia di daerah Minas yang masuk dalam Blok Rokan di Riau, Rabu (1/8).

Foto: ANTARA FOTO
Proses transisi peralihan dan pengelolaan tidak terjadi dengan baik.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Dewan Energi Mahasiswa Indonesia (DEMI) menolak rencana pembelian Participating Interst (PI) PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) oleh Pertamina. Pasalnya, pertamina sebagai BUMN akan menanggung beban kewajiban dan tanggung jawab dari PT.CPI

"DEMI mendesak pemerintah melalui Kementrian ESDM, untuk menyelesaikan permasalahan terkait kontaminasi tanah pada proses pengolahan minyak oleh PT.CPI," kata Sekretaris Jendral DEMI Robi Juandry dalam keterangannya yang diterima Republika.co.id, Selasa (18/2).

Dikatakan Robi, Blok Rokan yang merupakan blok penyumbang migas terbesar kedua Indonesia. Rokan memilki luas wilayah 6.220 km2. Blok ini memiliki tiga lapangan penghasil minyak raksasa yaitu lapangan Minas, lapangan Duri, dan lapangan Bekasap.

"Dari ketiganya, kata Robi, lapangan Minas yang menjadi tambang minyak raksasa," kata Robi. 

Blok Rokan pertama kali ditemukan oleh geolog asal Amerika Walter Nygren pada 1939 lalu. Lapangan Minas pernah diklaim sebagai lapangan minyak terbesar di Asia Tenggara. Lapangan tersebut menghasilkan minyak jenis Sumatran Light Crude yang diklaim terkenal di dunia.

Pengeboran pertama di lapangan tersebut dilakukan oleh Caltex yang kemudian berubah nama menjadi Chevron. Saat ditemukan, kandungan minyak di lapangan tersebut diperkirakan mencapai 11 milyai bbl. 

Sedangkan lapangan Duri pertama kali ditemukan pada 1941 dan mulai berproduksi 1958. Lapangan ini terkenal dengan nama Duri Crudev dan juga menggunakan teknologi steamflood sejak 1985 dengan area operasi mencapai 144 km2. 

Yang paling krusial yakni lapangan Duri. Lapangan ini, kata Robi, termasuk The Giant Field yang merupakan satu di antara lapangan-lapangan minyak Chevron terbesar sebagai cadangan terbukti (Proved Reserves). 

"Lapangan Duri (Duri Crude) menyumbangkan sekitar 30 persen produksi minyak mentah Indonesia dan juga kini lapangan Duri menghasilkan sekitar 195.000 bbl," ujarnya.

Produksi Blok Rokan kini mencapai 207.000 bbl atau setara 26 persen produksi nasional. Blok Rokan juga diperkirakan memiliki cadangan 26 miliar bbl minyak.

Selama bertahun-tahun, ungkap Robi, Rokan menjadi salah satu penyumbang produksi siap jual (lifting) terbesar di Indonesia. Selain itu, Blok Rokan yang memiliki luas 6.220 km2 memiliki hampir 96 lapangan minyak. Di mana tiga di antaranya disebut-sebut memiliki potensi minyak besar yakni Duri, Minas, dan Bekasap. Tercatat, sejak beroperasi 1971 hingga 31 Desember 2017, total produksi di Blok Rokan mencapai 11,5 miliar barel minyak sejak awal operasi. 

Namun, dikatakan Robi, seiring dengan berjalanyan waktu, produksi Blok Rokan sebesar 207.000 bbl dibutuhkan penanganan dan upaya menjaga produksi tersebut. Maka, dibutuhkan masa transisi bagi kontraktor baru yang akan mengelola Blok ini. 

"Hanya saja, sejak ditatapkannya Pertamina untuk mengelola Blok Rokan, proses transisi peralihan dan pengelolaan dari PT CPI ke Pertamina tidak terjadi dengan baik," ungkapnya.

Mengutip releasenya dari KESDM, pemerintah dengan jelas mengatakan, Pertamina sudah harus masuk dalam masa transisi sebelum tahun 2021 supaya produksi dapat terus terjaga. Padahal, kondisi wilayah kerja sejenis, seperti Blok Mahakam, proses transisi dapat berjalan. 

Namun, kata Robi, beda halnya dengan kondisi yang terjadi di Blok Rokan. Dimana dalam melakukan kegiatan transisi dari pihak PT. CPI hanya memberikan izin transisi jika pertamina masuk dengan cara mengakuisisi atau membeli participating intrest (PI).

Apabila proses ini dilaksanakan, ucap Robi, maka dapat menyebabkan seluruh komponen liabilitas/beban-beban biaya PT. CPI akan beralih ke Pertamina. Padahal, permasalahan terkait kontaminasi tanah pada proses pengolahan minyak serta Past Service Liabilities para pekerja PT. CPI dan beban-beban lain sampai saat ini belum diselesaikan oleh PT. CPI. "Dan itu nantinya yang akan ditanggung Pertamina," tegasnya. 

Padahal, ungkap Robi, pada kalkulasi angka diperkirakan bisa mencapai lebih dari 1,8 miliar USD atau jauh lebih besar dari nilai aset pada saat produksi PT. CPI yang habis pada tahun 2021 dimana hanya menyentuh angka dengan perkiraan mencapai 600 juta USD.

Berdasarkan kondisi yang terjadi di Blok Rokan, maka dari itu Dewan Energi Mahasiswa Indonesia menyatakan sikap :

1. Negara hadir untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di Blok Rokan perihal masa transisi dari PT. CPI ke Pertamina,dengan harapan PT. CPI agar lebih kooperatif dan terbuka untuk masa transisi.

2. Menolak rencana pembelian PI (Participating Intrest) PT. CPI oleh Pertamina yang akan membebankan pertamina sebagai BUMN dikarenakan akan

menanggung beban kewajiban dan tanggungjawab dari PT.CPI

3. Mendesak pemerintah melalui Kementrian ESDM menyelesaikan permasalahan terkait kontaminasi tanah pada proses pengolahan minyak oleh PT.CPI

4. Dewan Energi Mahasiswa Indonesia akan mengawal sampai tuntas transisi pengelolaan dari Chevron ke Pertamina demi kemakmuran rakyat Indonesia. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA