Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Ratusan Perternak Ayam di Priangan Timur Gulung Tikar

Selasa 18 Feb 2020 05:11 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Dwi Murdaningsih

Peternakan ayam

Peternakan ayam

Foto: dok. Republika
Peternak ayam mengeluhkan mahalnya harga pakan.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Para peternak ayam dari wilayah Priangan Timur, mengeluh ke Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar) Uu Ruzhanul Ulum, di Aula Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Ciamis, Senin (17/2). Menurut Ketua Paguyuban Peternak Ayam Petelur Kabupaten Ciamis Ade Kusnadi menuturkan, hampir setengah peternak ayam petelur sudah gulung tikar.

Baca Juga

Awalnya, peternak ayam petelur di Ciamis berjumlah 360, namun saat ini hanya berjumlah 160 peternak saja. Ade mengatakan, peternak mengeluh karena pakan ternak yang mahal dan sulit didapat. 

“Pakan kami yang menjadi masalah. Dan kenapa beli jagung (impor) itu harus pakai dolar,” kata Ade.

Menurut Ade, pada 2018 harga telur semakin ada kenaikan dan peningkatan. "Sekarang harga telur mahal, tapi kenapa para peternak ayam petelur banyak yang bangkrut?” katanya heran. 

Pertemuan itu digelar karena  banyak peternak ayam pedaging dan petelur sulit mengembangkan usahanya. Untuk mengatasinya, Uu mengatakan, akan segera mengundang tiga kementerian sekaligus. Yakni Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Perdagangan.

“Ini permasalahannya berbagai macam kelembagaan dan memerlukan kebijakan-kebijakan berskala nasional, bukan hanya di kami tingkat pemerintah provinsi,” kata Uu.

Berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jabar, saat ini tingkat konsumsi daging ayam mencapai 8,48 kg/kapita/tahun. Hal ini berdampak pada kebutuhan daging Jabar sebesar 493.437 ton atau 614.492.266 ekor. Ketersediaan daging ayam Jabar 858.313 ton atau 740.790.407 ekor, sehingga surplus 362.876 ton.

Sementara konsumsi telur di Jabar mencapai 8,46 kg/kapita/tahun, sehingga kebutuhan telur mencapai 492.274 ton dengan ketersediaan telur sebanyak 172.199 ton. Artinya terjadi defisit 320.155 ton yang selama ini dipenuhi dari Sumatra Utara, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA