Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Harga Masih Mahal, Disperindag Jabar Klaim Stok Bawang Aman

Senin 17 Feb 2020 19:45 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Dwi Murdaningsih

Operasi pasar bawang putih yang digelar Disperindag Jabar, Satgas Pangan Jabar dan Importir Bawang Putih, di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Senin (17/2).

Operasi pasar bawang putih yang digelar Disperindag Jabar, Satgas Pangan Jabar dan Importir Bawang Putih, di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Senin (17/2).

Foto: Republika/Edi Yusuf
Harga bawang putih masih bertengger dengan harga Rp 40 sampai 50 ribu

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar, terus melakukan berbagai harga kebutuhan pokok terutama harga bawang putih. Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar Moh Arifin Soendjayana, Disperindag Jabar melakukan pemantauan ke lima pasar pantauan yang ada di Kota Bandung. Hasilnya harga bawang putih masih bertengger di jual dengan harga Rp 40 sampai 50 ribu.

Padahal, kata dia, Disperindag Jabar  dengan Satgas Pangan sudah turun ke distributor, turun ke pedanga besar sampai importir dan gudang yang ada di Karawang. "Ini upaya kita agar harga segera turun karena stok bawang putih itu banyak," ujar Arifin kepada wartawan, Senin (17/2).

Arifin menegaskan, stok bawang putih banyak. Jadi, masyarakat jangan khawatir. Dia mengatakan stok cukup sampai pertengahan Maret jangan khawatir.

Baca Juga

"Saya inginnya, harga itu sekarang bisa turun sampai yang ditetapkan pemerintah Rp 32 ribu," katanya.

Ditempat yang sama, Kepala Cabang CV Sinar Padang Sejahtera sebagai importir Bawang Putih, Roy Susilo, Bawang putih yang ditemukan di gudangnya di Karawang seberat 150 ton merupakan sisa impor. Perusahaannya, pada 2019 mengimpor 15 ribu ton untuk setahun. Yakni, di impor pada April 2019 tapi masuk ke Indonesianya bulan Mei.

"Memang aggak terlambat masuknya. Nah sisa over stock tahun 2019, ya yang 150 ton. Ini cukup hingga pertengahan tahun depan," katanya.

Roy mengatakan, walaupun ada ada wabah corona, tapi perusahaannya masih bisa mengimpor. Dalam setahun, kuota impornya sekitar 15 ribu ton. "Tapi datangnya bertahap. Sekitar 1000 ton perbulannya masuk bawang dari China," katanya.

Sementara menurut salah seorang pembeli di operasi pasar Pasar Kosambi, Neneng Siti Kawati, ia sangat senang dengan adanya operasi pasar bawang putih ini. Karena, sudah hampir beberapa pekan harga bawang putih mencapai Rp 60 ribu.

"Saya kan butuh bawang putih untuk berjualan. Saya penjual kupat tahu. Kemarin harganya mahal. Alhamdulillah, sekarang ini beli per kg nya Rp 28 ribu," katanya.

Neneng mengatakan, ia membeli bawang putih di operasi pasar sebanyak 2 Kg untuk persediaan berjualan. Karena, kalau harga bawang putih mahal, maka keuntungan yang didapatnya dari menjual kupat tahu akan kecil.

"Kualitas bawangnya juga lumayan bagus," katanya.

Berbeda dengan Neneng, menurut pembeli yang lain Sri Setiawati, ia membeli bawang putih sebanyak 2 kg di operasi pasar karena harganya cukup murah. Kalau beli di pedagang, per Kg harganya mencapai Rp 55 ribu. Namun, di operasi pasar harganya Rp 28 ribu.

"Saya membeli cukup banyak agar bisa bagi-bagi ke tetangga," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA