Tuesday, 16 Rabiul Akhir 1442 / 01 December 2020

Tuesday, 16 Rabiul Akhir 1442 / 01 December 2020

Mencari Asal Limbah Radioaktif di Perumahan Batan

Senin 17 Feb 2020 17:04 WIB

Red: Indira Rezkisari

Tim Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bersama Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) melakukan Dekontaminasi terhadap temuan paparan tinggi radioaktif di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin (17/2/2020).

Tim Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bersama Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) melakukan Dekontaminasi terhadap temuan paparan tinggi radioaktif di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin (17/2/2020).

Foto: Antara
Sumber asal limbah radioaktif di Perumahan Batan belum bisa diungkap.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Abdurrahman Rabbani dan Idealisa Masyrafina

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) melakukan penyelidikan limbah radioaktif di Perumahan Batan Indah, Setu, Tangerang Selatan (Tangsel). Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Batan, Heru Umbara mengatakan limbah tersebut bukan berasal dari fasilitas nuklir yang ada di kawasan Serpong.

“Limbah radioaktif yang tersebar di sekitar perumahan sampai saat ini masih dalam penyelidikan. Belum diketahui pasti apakah sebab kecerobohan atau faktor lain,” ucapnya di Setu, Tangsel, Senin (17/2).

Dia pun menegaskan limbah tersebut bukan berasal dari fasilitas nuklir yang ada di kawasan Serpong. “Kita punya reaktor, sejumlah fasilitas nuklir lainnya. Nah itu diyakinkan bukan berasal dari pengoperasian atau reaktor, seperti itu," kata Heru

Lebih lanjut, Heru mengakui telah mengetahui sumber limbah radioaktif yang tersebar di lahan kosong perumahan tersebut. “Penelitian untuk identifikasi, sebenarnya sudah ketahuan. Kita sudah ada, kita sudah tahu sumbernya dari mana. Saat ini masih ada yang tertinggal di sini," kata Heru.

Dia tidak menjelaskan lebih rinci sumber limbah radioaktif itu berasal dari mana. "Teman-teman dari kepolisian, dari BIN (Badan Intelijen Negara) Gegana. Kita terus lakukan koordinasi. Jadi bagaimana kita bisa mencari tahu asal muasal dari sumber ini," katanya.

Hari ini petugas melakukan pengangkutan sisa limbah radioaktif di perumahan Batan Indah. Petugas memakai RDMS-MONA atau alat yang mengeluarkan sinyal bila di suatu lokasi terlihat ada kenaikan radiasi. Alat tersebut untuk mencari tanah-tanah yang terpapar zat radioaktif.

Tim gabungan yang terdiri dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), dan Kepolisian melakukan koordinasi guna melakukan investigasi. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkap sumber limbah radioaktif di Perumahan Batan Indah.

Kepala Bagian Komunikasi Publik dan Protokol Bapeten, Abdul Qohhar menyampaikan, pihaknya saat ini sedang melakukan pengumpulan data. Data yang terkumpul nantinya bisa mengungkap pengguna limbah radioaktif berjenis Cesium 137 (Cs 137).

"Keberadaan Cesium ini karena unsur kesengajaan atau ada faktor-faktor yang lain, tapi ada dugaan sengaja ditaruh dan ada dugaan bahwa ini tidak sengaja. Kita perlu investigasi lebih lanjut, saat ini tim gabungan masih fokus di lokasi," kata Abdul Qohhar.

Dia mengatakan, ada kejadian yang salah dengan keberadaan limbah radioaktif di lokasi perumahan tersebut. Sebab limbah tersebut tidak seharusnya ada di sekitar masyarakat apalagi di permukiman. Karena paparan radiasi limbah radioaktif bisa menyebabkan bahaya jangka panjang.

photo
Tim Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bersama Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) melakukan Dekontaminasi terhadap temuan paparan tinggi radioaktif di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Ahad (15/2/2020).


Pendataan dilakukan untuk mengetahui siapa pengguna radioaktif Cesium 137 melalui perizinan. "Mudah-mudahan dari tim gabungan ini kita bisa memperoleh kesimpulan yang memuaskan terkait keberadaan limbah radioaktif, kenapa bisa ada disitu dan siapa penggunanya," katanya.

Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Batan, Heru Umbara, mengakui telah mengetahui sumber limbah radioaktif yang tersebar di lahan kosong perumahan tersebut. “Penelitian untuk identifikasi, sebenarnya sudah ketahuan. Kita sudah ada, kita sudah tahu sumbernya dari mana. Saat ini masih ada yang tertinggal di sini," kata Heru.

Dia tidak menjelaskan lebih rinci sumber limbah radioaktif itu berasal dari mana dan siapa penggunanya. Limbah radioaktif yang tersebar di sekitar perumahan sampai saat ini masih dalam penyelidikan. Belum diketahui pasti apakah sebab kecerobohan atau ada faktor lain.

Radiasi tercatat terus mengalami penurunan. Pada waktu penemuan awal paparan radiasi di area tersebut angkanya mencapai 200 mikro sivet per jam. Kemudian dilakukan proses clean up, didapatkan penurunan paparan radiasi sebesar 149 mikro sivet per jam. Pengecekan terakhir dilakukan pada Sabtu dini hari (15/2) dihasilkan 98,9 mikro sivet per jam.

Proses pengerukan selama dua hari sejak 12 sampai 13 Februari telah mengalami penurunan paparan radiasi dari limbah radioaktif. Upaya pembersihan kembali dilakukan oleh sejumlah petugas pada Ahad (16/2) pagi. Tercatat sudah 39 drum berisi tanah yang terkontaminasi limbah radioaktif diangkut dan dibawa menuju laboratorium Batan.

Diketahui ambang normal paparan radiasi adalah 0,03 mikro sivet per jam. Untuk mencapai angka tersebut, pihaknya berupaya mengangkut semua material terpapar radiasi limbah radioaktif yang tertanam di dalam tanah Perumahan Batan Indah.

"Makanya tim kita akan terus mengangkut material ini nanti 10 centi kita gali lalu kita ukur ada penurunan atau tidak, berikut kita gali lagi 10 centi, sampai benar-benar paparan radiasinya di ambang batas normal," jelas Abdul Qohhar.

Masyarakat sekitar diminta tak perlu khawatir karena paparan radiasi tersebut tak mengganggu kesehatan. Masyarakat juga diimbau tidak harus melakukan evakuasi. “Sebenarnya kalau untuk evakuasi tidak perlu, karena major insiden ini terlokalisir di area ini saja. Jadi tidak akan meluas dan berpindah-pindah, ini hanya terlokalisir di area ini saja," ucap Qohnar.

Ambang batas paparan radiasi normal telah ditentukan yakni sebesar 1.000 mikro siver per tahun. Walaupun seandainya sedikit melebihi angka itu dianggap wajar, asalkan tidak terus-menerus dilakukan selama 24 jam.

"Sudah ditetapkan dalam setahun 1.000 mikro sivet. Artinya apa? sebenarnya boleh apabila kita berdiri di satu daerah, nilainya 1.000 mikro sivet per jam laju paparannya, tidak masalah juga. Tapi waktunya hanya satu jam, kemudian sisa di tahun berikutnya tidak boleh kena radiasi kan tidak mungkin," jelasnya.

photo
Tim Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bersama Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) dan Tim Teknis Kimia Biologi Radioaktif (TKBR) Gegana Brimob Mabes Polri melakukan Dekontaminasi terhadap temuan paparan tinggi radioaktif di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Ahad (15/2/2020).


Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Benyamin Davnie, ingin masyarakat tetap tenang dengan paparan radiasi yang terjadi di Perumahan Batan Indah. Paparan radioaktif yang disebabkan serpihan cesium-137 itu sudah ditangani oleh ahlinya.

Masyarakat harus tetap tenang dan lakukan aktivitas seperti biasa. "Masyarakat Tangsel khususnya Batan tenang saja, lakukan aktivitas seperti biasa. Karena ini sudah ditangani yang ahli, tidak perlu gelisah dan tidak perlu berasumsi pendapat masing-masing cari informasi akurat dan yakin sekarang teknik ditangani dengan baik," ujar Benyamin saat meninjau langsung lokasi.

Paparan radioaktif pada manusia bisa menjadi sangat berbahaya tergantung dengan jangka waktu terpapar radiasi. Menurut dokter radiologi MRCC Siloam Hospital, Ryan Yudistiro, ada efek akut (segera) dan ada juga efek stokastik (jangka panjang).

"Efeknya tergantung dari besarnya aktivitas paparan radiasi, berapa lama terpapar, dan seberapa dekat kita dengan sumber radiasi," ujar Ryan.

Efek akut dapat dialami dari ringan sampai berat. Mulai dari mual atau muntah, pusing, sakit kepala, sampai kulit merah, gatal, rasa terbakar, dan luka bakar.

Ryan memaparkan, efek stokastik atau jangka panjang sebenarnya lebih berbahaya karena tidak diketahui seberapa besar kerusakan yang diakibatkan terhadap sel. Kerusakan genetik akibat paparan radiasi dengan aktivitas yang sangat tinggi bisa menyebabkan kanker.

"Bahkan bisa menyebabkan kematian jika paparan radiasinya tinggi," katanya.

Apabila setelah melakukan pemeriksaan aktivitas radiasi terdeteksi adanya radioaktif, maka hal yag pertama kali dilakukan adalah memastikan tidak ada zat radioaktif yang menempel di tubuh (kontaminasi). Caranya adalah mandi dengan menggunakan cairan khusus untuk mencuci zat radioaktif.

"Sisanya tidak ada banyak yang bisa dilakukan. Paling yang bisa dilakukan adalah mempercepat pengeluaran zat radioaktif dari dalam tubuh, melalui BAB dan BAK. Banyak makan dan minum," jelas Ryan. Orang tersebut juga disarankan untuk sering mandi dan keramas karena radiasi juga dikeluarkan melalui keringat.



Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA