Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

London Fashion Week Diwarnai Protes Penyelamatan Lingkungan

Ahad 16 Feb 2020 21:30 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Gita Amanda

Gerakan peduli lingkungan melakukan pemblokiran jalan di luar tempat acara fesyen dua tahunan itu pada Sabtu (15/2) waktu setempat.

Gerakan peduli lingkungan melakukan pemblokiran jalan di luar tempat acara fesyen dua tahunan itu pada Sabtu (15/2) waktu setempat.

Foto: Katie Collins/ ASSOCIATED PRESS
Industri pakaian diklaim menyumbang 7 persen dari emisi gas rumah kaca global.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Pendukung gerakan kampanye kepunahan menyerukan penyelenggaraan Londong fashion Week dibatalkan. Gerakan peduli lingkungan melakukan pemblokiran jalan di luar tempat acara fesyen dua tahunan itu pada Sabtu (15/2) waktu setempat.

Dilansir Independent.co.uk pada Ahad (16/2), peserta demonstrasi menolak memberi jalan di persimpangan ramai menuju Strand di Westminster, London pusat. Sebelum protes berlangsung, undangan demonstrasi melalui media sosial Facebook beredar untuk mengajak masyarakat ikut serta menyuarakan kepedulian lingkungan.

“Bergabunglah bersama kami di jalan-jalan di London Fashion Week untuk menuntut musim ini agar orang-orang peduli kelanjutan kehidupan di Bumi,” tulis undangan tersebut.

Deskripsi demonstrasi yakni, melakukan tindakan kreatif, musik, pencetakan blok, pidato, dan kegiatan keluarga. “Mari kita gunakan kekuatan kreativitas untuk mewujudkan dunia yang lebih baik,” kata undangan itu.

Kelompok pemrotes menjelaskan bahwa industri pakaian menyumbang 7 persen dari emisi gas rumah kaca global, hampir sama dengan total emisi Uni Eropa. Gerakan itu meminta industri menghentikan kelebihan produksi dan konsumsi berlebihan yang mengancam makhluk hidup lainnya yang terdampak emisi gas. Mereka juga meminta industri mengatasi iklim dan ekologi krisis dengan cara yang bermakna dan adil.

Selama demonstrasi, pengunjuk rasa membawa plakat bertuliskan, “Tidak ada lagi busana palsu dan tidak ada busana di planet mati.” Beberapa peserta aksi mengenakan pakaian yang terbuat dari rantai.

Salah satu koordinator gerakan itu, Sara Arnold mengatakan ketika London adalah rumah bagi desain terdepan dan berkelanjutan yang etis, London Fashion Week tertinggal. “Meskipun memiliki program keterlibatan politik aktif, Anda hampir tidak melakukan apa pun untuk melobi kebijakan lingkungan, dengan itu transisi dengan urgensi yang kita butuhkan tidak mungkin (terwujud),” ujar Arnold.

Menurut dia, semua orang telah gagal, karena itu kepemimpinan radikal untuk lingkungan sangat dibutuhkan. Dia meminta British Fashion Council (BFC), selaku administrator industri yang ditunjuk, segera menemukan kekuatan dan keberanian memusatkan proses dan protokol visioner, tanpa penundaan. Jika BFC tidak membatalkan London Fashion Week berikutnya pada September, gerakan tersebut mengancam membangun tekanan dan meningkatkan tindakan.

Juru bicara kelompok kampanye kesejahteraan hewan dari Animal Rebellion, Angela Duncan beranggapan bahwa “pengecer” memiliki tanggung jawab untuk melindungi lingkungan. “Kita harus bersemangat untuk menjadi kreatif dan inovatif dengan pakaian, tidak hanya dalam gaya, tetapi dalam produksi pakaian,” ujar Duncan.

Dia beranggapan London Fashion Week menjadi tempat untuk memimpin dan memberi contoh tentang mengubah cara orang memahami mode. Bukankan tantangan itu menurut dia merupakan impian bagi para seniman.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA