Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Mahasiswa Non Muslim Raih IPK Tertinggi di Unisba

Ahad 16 Feb 2020 17:54 WIB

Rep: Arie Lukihardianti / Red: Agus Yulianto

Rektor Unisba Prof Edi Setiadi memberikan Ijazah dan Tafsil Alquran kepada wisudawan pada Pelantikan Lulusan Program Doktor, Magister, Profesi dan Sarjana Unisba, di Aula Unisba, Kota Bandung, Sabt.

Rektor Unisba Prof Edi Setiadi memberikan Ijazah dan Tafsil Alquran kepada wisudawan pada Pelantikan Lulusan Program Doktor, Magister, Profesi dan Sarjana Unisba, di Aula Unisba, Kota Bandung, Sabt.

Foto: Republika/Edi Yusuf
Saya sangat menikmati belajar PAI selama tujuh semester.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Universitas Islam Bandung (Unisba), mewisuda sebanyak 1.193 orang lulusan sarjana, magister dan doktor, di Aula Unisba akhir pekan ini. Namun, ada yang menarik pada wisuda Unisba kali ini. Pasalnya, mahasiswa yang meraih IPK tertinggi dan lulusan terbaik adalah mahasiswa non muslim.

Hal tersebut, menunjukkan bahwa sebagai Perguruan Tinggi Islam, Unisba tidak hanya menerima calon mahasiswa muslim saja. Namun, Unisba memberikan kesempatan kepada siapa pun dengan berbagai latar belakang keyakinan apa pun untuk menempuh pendidikan hingga menjadi sarjana bahkan doktor.

photo
Mardianto Karim, S.Sta.

Mahasiswa non muslim yang menempuh pendidikan di Unisba hingga menjadi wisudawan yaitu Mardianto Karim, S.Sta. Ia memperoleh IPK tertinggi yakni 3,99 dengan menempuh Pendidikan S1-nya selama 3,5 tahun dan tujuh semester.

Berbagai mata kuliah keilmuannya dan pendidikan agama Islam (PAI) yang ditempuh selama tujuh semester mampu ia lalui dengan nilai sempurna yaitu nyaris semuanya memperoleh A. “Hanya satu mata kuliah saja yang bernilai A- yaitu proses stokastik,” ujar

Mardianto yang merupakan keturunan Tionghoa yang memilih menempuh Pendidikan S1 di Program Studi (Prodi) Statistika Fakultas MIPA Unisba ini.

Mardianto mengatakan, keinginannya berkuliah di Kota Bandung dan perguruan tinggi swasta yang  statistikanya mempelajari aktuaria. Jurusan itu, ada di prodi statistika Unisba.

Sebenarnya, sempat ada pertentangan dan halangan dari kedua orang tuanya untuk memberikan izin berkuliah di Unisba. "Namun, karena tekad saya yang bulat, tidak menghentian langkah dan semangat saya untuk tetap berkuliah di Unisba," katanya.

Selama berkuliah di Unisba, dia pun mengikuti semua mata kuliah termasuk Pendidikan Agama Islam (PAI). Dia, memperoleh nilai A di semua pelajaran PAI karena selalu fokus belajar.

"Hanya saja yang saya ikuti pelajaran dikelas saja, untuk shalat dan ceramah di masjid tidak saya ikuti.  Saya sangat menikmati belajar PAI selama tujuh semester tanpa ada beban," katanya.

Mardianto pun, aktif di unit kegiatan mahasiswa menjadi pengurus Unit Bulutangkis (UBTU) Unisba dan Himpuna Mahasiswa Statistika (Himasta) Unisba. Ia juga memperoleh beasiswa dari alumni statistika pada semester tiga dan beasiswa Djarum pada semester lima dan enam.

Ke depan, dia akan melanjutkan bekerja. Selain jika ada rezeki, dirinya berencana untuk melanjutkan Magister diluar negeri. Negara yang ia pilih yaitu Kanada atau Amerika Serikat.

Saat ditanya tentang apakah akan mempelajari kembali Pendidikan Agama Islam setelah lulus dari Unisba, Mardianto mengatakan, rasa bimbangnya akan mendalaminya kembali atau tidak.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini mengungkapkan bahwa prestasi akademiknya tidak hanya diperoleh dibangku kuliah saja, tapi selalu ia raih mulai dari bangku SD hingga SMA. ”Dari SD sampai SMA saya selalu juara umum atau peringkat 1 dan 2 disekolah,” kata remaja kelahiran 26 juni 1998 ini.

Rektor Unisba Edi Setiadi mengatakan, Merdianto mengerjakan semua kewajibannya saat kuliah di Unisba. Salah satunya, mengikuti mata kuliah PAI selama berkuliah di Unisba walaupun, Mardianto berkeyakinan Budha. Namun, ia mempelajarinya selama tujuh semester.

Bahkan, kata dia, seluruh nilai PAI yang dipelajarinya mulai dari akidah, fikih, akhlak, sejarah Islam dan disiplin ilmu Islam lainnya diperoleh dengan nilai A. 

Selain itu, pesantren mahasiswa baru dan calon sarjana dan pengembangan karir juga diikuti Mardianto sebagai prasyarat sidang skripsi dan kelulusan di Unisba. 

Edi mengatakan, dari 1.193 wisudawan yang dilantik tersebut, sebagian besar adalah milenial yang lahir dalam suasana berbeda. Saat ini, tantangan yang dihadapi mereka pun lebih berat dibandingkan dulu.

"Lulusan Unisba harus mampu beradaptasi dengan baik dan belajar tanpa henti," katanya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA