Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

tahanan politik

Kisah Anak Tahanan Politik di Zaman Soekarno

Ahad 16 Feb 2020 07:04 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Para tahanan politik semasa pemerintahan Sikarno. Tampak Mukhtar Lubis dengan sosok khasnya yang jangkung.

Para tahanan politik semasa pemerintahan Sikarno. Tampak Mukhtar Lubis dengan sosok khasnya yang jangkung.

Foto: Lukman Hakiem
Ayah saya di tahan di RTM Ambarawa bersama para tokoh bangsa

Oleh: Doddy Yudhistira Adams, mantan pengurus The Habibie Centre dan mantan pemimpin umum Majlah Musik Mumu

Selama ini publik hanya mengenal kisah tahanan rezim Orde Baru saja. Biasa ini terkiat dengan persoalan tahun 1965, yakni anak dari mereka yang terkena sebagai keturunan anggota PKI. Mereka bercerita atas segela nestapanya.

Pada sisi lan, cerita derita anak dari rezim sebelumnya, yakni rezom Orde Lama, seolah terlupakan, bahkan diksesankan tak ada.  Cerita mereka yang hidup tanpa ayah di penjara karena soal politik tak terdengar. Padahal ayah mereka dipenjara begitu saja tanpa putusan pengadilan. Mereka baru ke luar dari pejara setelah rezim berganti, yakni tumbangnya pemerintah Soekarno.

Salah satu diantaranya berkisah begni mengenang masa keculnya yang hidup bertahun hdupp berpisah karena ayah hidup dalam tahanan:

PURBONEGARAN YOGYAKARTA - Kami tiba dari Jakarta senja itu diiringi temaramnya senja lampu Yogyakarta tahun 1960-an. Nuansa sedih sededih hati kami sekeluarga, kereta senja merapat di stasiun Tugu Yogyakarta, telah menunggu menjemput kami Paklik Pupon dan Pakde Mud. Aku kecil di Gendong Pakde Mud;

" Adoh tenan kowe le lunga le, saka Padang tekan Yogya!" Sapa Pakde, aku berteriak menangis: " Ibu, di mana ini, Doddy nggak mau, Doddy nggak mau, mau balik ke Padang! " tangisku makin menjadi. " Kita ke rumah simbah nak, sebentar lagi sampai." Ibuku teru sberusha menenangkan aku.

"Nggak mau bu, nggak mau rumah Simbah Jelek!"

Tangisku makin menjadi ketika sampai di Purbonegaran No 41 Yogyakart, rumah di mana ibuku lahir dan Mbah Kakung dan Mbah Putriku tinggal. Rumah yang aku bilang Jelek itu kelak mengantarkanku tumbuh menjadi remaja di kota Yogyakarta.

Rumah besar kuno dengan banyak kamar, ada ruang Sentong tempat berdoa, ada teras tempat si Mbah Kakung duduk-duduk minum teh sambil mendengarkan Uuyon-Uyon dari RRI Yogyakarta.

Di rumah itulah ibu, adikku, Inyik Dinah dan aku tinggal. Kami juga tidak sendiri ada sepupu-sepupudari bulik Ning adik ibuku. Bulik Ning dan Pak Pon saat itu ada anaknya yang bennama Pur, Tuti, Tri dan Kelik. Mereka sepupuku dari ibuku, mereka pulalah yang akhirnya menjadi temanku bermain. Pur yg paling tua, Usianya tiga tahun diatasku, Tuti sebayaku, Tri se Usia Tien Adikku dan Kelik masih bayi dua tahun.

Di depan Rumah kami mengalir sungai yang airnya Jernih di sungai itulah tempat kami bermain. Berkali kali aku Doddy yang nakal ini mendorong Tutie jatuh ke kali dan dia berlari pulang nangis mengadu ke mbah Putri. Aku pun kena marah ibu dan mbah Putri.

"Ampun bu, Ampun..., maaf bu Doddy nggak nakal lagi" . Aku menangis sekeras-kerasnya karena kemudian di hukum ibu.

Namun, yang selalu membela dan menyelamatkanku di Yogya ya mbah Kakungku, Mbah Ranoedjono. Beliau pendiam berwibawa dan disegani warga Purbonegaran. Beliau bak Gaek Madjo di Gaung yang sangat sayang sama aku cucunya yang lagi sedih di tinggal ayahnya di Penjara.

Ayahku Adam Saleh saat itu di oindahkan tempat penahannya dari Padang ke Rumah Tahanan Militer (RTM) di Ambarawa, Semarang. Status beliau tahan politik. Untuk membantu kehidupan kami ibuku buka Praktek Bidan di Purbonegaran dan bekerja di RS PKU Muhammadiyah. Karena ibu sibuk bekerja aku dan adikku besar bersama Mbah Putri Nyai Ranoedjono. Mbah adalah orang yang sabar hidupnya benar-benar hanya untuk keluarganya.

Beliau besus (rapi) dan selalu menggunakan busana jawa kain dan kebaya setiap harinya. Subuh bangun dan memandikan aku dan adikku, menyiapkan sarapan dan penganan sangu untuk ke sekolah. Setelah itu beliau melayani Mbah Kakung, belanja dan masak untuk keluarga besar kami, keluarga Bulik dan para pembantu.

Kala itu memang banyak pula ikut di rumah adik dan para kemenakan ayah Pak Jafar, Kak Nazar dan lainnya. Sejak kami tinggal di Yogyakarta ibaratnya Rumah kami di Purbonegaran jadi tempat transit famili ayah yangg sekolah di Yogya. Mbah Putri pun sabar dan tidak mengeluh melayani kami semua. Sedangkan ibu setiap minggu masak rendang untuk mengirim ayah di Penjara Ambarawa.

Anak yang selalu dibawa ibu menengok ayah adalah aku. Ini karena aku jika di tinggal selalu bikin masalah di rumah alias nakal.

Maka, setiap Minggu Subuh kami sudah diantar Pak Pon ke terminal di Kulon Tugu lalu naik bus ke Ambarawa. Perjalanan Yogya Ambarawa selama tiga jam. Sampai di Pasar Ambarawa naik Andong ke RTM tersebut.Kadang ikut mengantar kami Pak Jafar stau kak Nazar bergantian.

Sampai di RTM, kami tidak bisa bertemu ayah secara langsung tapi hanya melihatnya dari jarak 50 meter. Kami bertemu dan menatap dari jauh dengan cara   melambaikan tangan saja. Terkadang saat itu aku lihat ibu menangis dan aku pun ikut menangis berteriak: " Ayah, Ayah pulang sama Doddy, Ayah....!"

Tangis dan teriakanku menambah hati ibu makin sedih. " Sudah lah nak, ayahmu disini dulu bekerja untukmu!" Hibur ibu. Biasanya pulang dari Ambarawa aku tertidur pulas dipangkuan ibu di dalam bus sampai Yogya.

Aku memang merasa betapa kejamnya pemerintahan Bung Karno menahan ayahku tanpa pengadilan. Betapa kejamnya tentara masa itu, rendang yang kami bawa di kaleng susu merek Eledon mereka buka periksa dan di tebar begitu saja di meja dan mereka masukan kembali ke dalam kaleng. Tidak boleh ada selembar kertaspun apalagi kertas koran yag bisa dipakianya.

Narapidana politik tidak boleh di tengok langsung mesti berjarak. Ayah di Ambarawa di tahan bersama banyak tokoh seperti Moh Roem, eyang dari Mas Adi Sasono, Kasoema tokoh pers Sumbar, Mochtar Lubis dan lainnya. Mengingat kejadian ini betapa diktatornya Bung Karno, ayahpun dimatikan penghasilannya di cabut gaji dan haknya tanpa peradilan.

Nah, di Purbonegaran, kampung dibelakang bioskop Rahayu Yogyaakata itu tempat aku tumbuh dan kata orang nakal. Tidak ada anak sebayaku yang berani denganku. Mereka selalu bilang; "Aja lewat omahe Doddy engko ndak diketaki." ( diketak=dipukul kepalanya ).

Di Purbonegaran kala itu ada anak seorang polisi,Ambar Namanya. dia sangat ditakuti anak-anak, mungkin karena bapaknya dan anaknya juga nakal.

Satu-satunya yang menaklukan Ambar adalah Doddy yangmerupakan  anak tahanan politik, Ambar saya lempar batu kereweng (pecahan genteng) kena kepalanya hingga berdarah. Ambar pun menangis mengadu ke bapaknya, Pak Minar polisi, dia pun marah; " Nek ora putune mbah Ranoe wis tak plinter kowe...!!!" Teriak Pak Minar yang aku dengar dari bawah tempat tidur tempat aku menyuruk.

Nanum biang sebenarnya kenapa  aku marah dan berani sama Ambar karena dia mengataiku ‘Anak Pemberontak’, anak orang penjara. Maka naik pitam lah aku. Dan memang masa itu hampir semua orang tahu ayahku tahanan politik dan identik dengan pemberontak. -
                           

                   

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA