Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Bapeten: Radiasi Bukan Berasal dari Reaktor Nuklir

Ahad 16 Feb 2020 06:22 WIB

Rep: Abdurrahman Rabbani/ Red: Nashih Nashrullah

Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melakukan clean up area yang terpapar radiasi di depan Komplek Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, Sabtu (15/2).

Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melakukan clean up area yang terpapar radiasi di depan Komplek Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, Sabtu (15/2).

Foto: Republika/Abdurrahman Rabbani
Radiasi di Perumahan Batan Indah Serpong berasal dari limbah radioaktif.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG SELATAN — Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) menyatakan radiasi radioaktif di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), bukan dari reaktor nuklir. Namun, radiasi tersebut berasal dari limbah. 

Baca Juga

"Kami ingin memastikan bahwa itu berasal dari limbah radioaktif, bukan berasal dari reaktor nuklir. Ini dipastikan dari limbah radioaktif," kata Sekretaris Utama Bapeten Hendriyanto Hadi Tjahyono di Serpong, Sabtu (15/2). 

Pihaknya saat ini sedang menguji laboraturium material tersebut. Informasi yang diketahui, sumber material yang memancarkan radiasi itu berhasil diangkat dari dalam tanah berbentuk seperti butiran pasir besar. 

"Salah satu material tersebut memang mengandung cesium. Cesium sendiri merupakan senyawa yang jarang ditemui kebanyakan orang. Senyawa Cesium ini memiliki sifat senyawa yang agak beracun,” jelasnya. 

Bapeten dan Batan kini berfokus pada upaya pembersihan area yang terkontaminasi paparan radioaktif. Termasuk kemungkinan dengan menebang pepohonan yang tumbuh di sekitar lokasi radiasi. 

"Fokus kita dua pekan ini untuk pembersihan di lokasi itu terlebih dahulu, untuk pembersihan dilakukan selama 20 hari, hingga benar-benar radiasi radioaktif clear," kata Hendriyanto.  

Bapeten belum bisa menyimpulkan bagaimana limbah radioaktif itu bisa tertanam di lokasi. Namun diprediksi, limbah radioaktif telah cukup lama berada di dalam tanah.

"Kalau melihat dari tanah-tanah yang tercemar di area, itu keliatannya sudah cukup lama. Kalau bulanan sih kayaknya engga, itu sudah ada kayaknya setahunan," jelasnya. 

Sementara, demi keselamatan warga, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) berkoordinasi dengan pengurus lingkungan setempat dengan memasang perimeter sebagai garis batas. 

Hasil penelitian menyebutkan bahwa ditemukan nilai paparan radiasi lingkungan dengan laju paparan terukur signifikan di atas normal. 

"Untuk alasan keselamatan, warga diimbau untuk tidak memasuki lokasi terdampak kontaminasi hingga batas trotoar dan lapangan voli," jelas Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Bapeten, Indra Gunawan, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (15/2).

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA