Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Sumbang Emisi Karbon, Maskapai Delta Investasi Rp 13,7 T

Ahad 16 Feb 2020 00:40 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya

Delta Airlines

Delta Airlines

Foto: www.youngcons.com
Industri penerbangan menyumbang sekitar dua persen dari emisi karbon dioksida global.

REPUBLIKA.CO.ID, CHICAGO – Perusahaan penerbangan yang berpusat di Atlanta, Delta Air Lines Inc, berencana menginvestasikan 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 13,7 triliun (kurs Rp 13.700 per dolar AS) selama 10 tahun mendatang untuk mengantisipasi dampak perjalanan udara terhadap lingkungan. Rencana ini menjadikan Delta Air Lines sebagai maskapai pertama yang membuat komitmen ramah lingkungan dengan nilai besar.

Seperti dilansir di Reuters, Jumat (14/2), industri penerbangan menyumbang sekitar dua persen dari emisi karbon dioksida global. Industri sudah berencana mencapai karbon-netral (sistem energi yang tidak memiliki jejak karbon) pada tahun ini di tengah pertumbuhan perjalanan udara yang semakin cepat.

Secara individual, maskapai penerbangan sudah mengambil berbagai langkah mengurangi dampak karbon mereka dalam menghadapi meningkatnya permintaan konsumen. Di antaranya, menghilangkan plastik sekali pakai hingga berinvestasi dalam biofuel dan membeli lebih banyak pesawat hemat bahan bakar.

Dengan investasi baru ini, Delta bermaksud menjadi maskapai karbon-netral pertama di dunia. Maskapai juga berencana membantu mendanai penelitian dan proyek yang melibatkan teknologi udara bersih dan pengurangan emisi karbon serta limbah.

CEO Delta Ed Bastian mengatakan, pelestarian lingkungan menjadi tantangan terbesar bagi maskapai untuk terus berinovasi. "Kami tahu, tidak ada solusi tunggal," tuturnya, dalam sebuah pernyataan resmi.

Tapi, maskapai masih enggan memberikan rincian mengenai bagaimana dan ke mana uang sebesar 1 miliar dolar AS tersebut akan diinvestasikan.

Sampai saat ini, tidak banyak opsi jangka pendek bagi maskapai untuk mengurangi jejak karbon mereka. Biofuel diketahui tidak banyak tersedia dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikembangkan. Selain itu, tidak ada prospek jet baru yang lebih hemat bahan bakar dibandingkan produk yang saat ini beredar di pasar.

Maskapai menyebutkan, langkah-langkah kecil sudah mulai dilakukan. Sebut saja penggunaan bahan yang lebih ringan sehingga mampu memotong sekitar satu hingga dua persen emisi tiap tahun. Tapi, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan.

Dengan tidak adanya opsi jangka pendek yang lebih berdampak, industri penerbangan berkomitmen melakukan program carbon-offset. Yaitu, menukar emisi yang dikeluarkan denga upaua mencegah emisi yang dihasilkan atau dengan menyerap emisi yang terjadi.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA