Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Pemerintah AS Niat 'Bobol' Kode Enkripsi Pesan, WhatsApp: Bahaya Buat Pengguna!

Sabtu 15 Feb 2020 08:08 WIB

Rep: wartaekonomi.co.id/ Red: wartaekonomi.co.id

Pemerintah AS Niat 'Bobol' Kode Enkripsi Pesan, WhatsApp: Bahaya Buat Pengguna!. (FOTO: GettyImage)

Pemerintah AS Niat 'Bobol' Kode Enkripsi Pesan, WhatsApp: Bahaya Buat Pengguna!. (FOTO: GettyImage)

WhatsApp tak setuju rencana Pemerintah AS bangun cara menyusupi pesan terenskripsi.

Warta Ekonomi.co.id, Bogor -- Pemerintah Amerika Serikat (wartaekonomi.co.id/tag4129/amerika-serikat-as">AS) tampaknya melukai diri sendiri ketika berupaya membuat perusahaan teknologi memberinya akses ke pesan dan perangkat yang terenkripsi.

Awal pekan ini, Pejabat AS juga menuding huawei-technologies-co-ltd">Huawei berpotensi memata-matai penggunanya lewat 'pintu belakang' yang dikhususkan untuk digunakan oleh penegak hukum.

Meskipun AS telah menuduh Huawei menjadi mata-mata Pemerintah China, ini pertama kalinya AS memberi detail spesifik mengenai alasan di balik tudingan tersebut. "Mereka telah membangun peralatan dengan akses 'pintu belakang' yang diletakkan dengan sengaja," kata mereka, dikutip dari Business Insider, Kamis (13/2/2020).

Baca Juga: Amerika Makin Yakin Batasi Ekspor Teknologi ke Perusahaan China, Simak Rinciannya!

Huawei telah berulang kali membantah tudingan AS, mengatakan mereka hanya dijadikan 'kambing hitam'. Lebih lanjut, perusahaan teknologi AS memanfaatkan tuduhan pemerintah terhadap Huawei untuk melawannya.

Berdasarkan wawancara dengan WSJ, Kepala WhatsApp, Will Cathcart menekankan, "WhatsApp tak setuju dengan rencana Pemerintah AS membangun cara untuk menyusupi pesan terenkripsi WhatsApp untuk menegakkan hukum."

Juru Bicara WhatsApp menyebut kasus Huawei sebagai contoh mengapa mereka tak seharusnya mengabulkan keinginan pemerintah. Perusahaan berargumen, pintu belakang seperti itu tak cuma dapat digunakan oleh penegak hukum, tetapi juga peretas.

Pakar keamanan siber juga cemas, pintu belakang di perangkat juga berpotensi dimanfaatkan sebagai alat pengawasan massal oleh rezim otoriter.

Facebook bukan satu-satunya yang menolak gagasan pemerintah, Apple juga pernah berselisih dengan pemerintah pada 2015 ketika FBI meminta bantuan membobol iPhone milik tersangka penembakan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA